Alfa Handayani
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Dari Perceraian Orangtua Terhadap Kualitas Orang Tua-Anak, Penyesuaian Diri dan Prestasi Anak pada Awal Masa Dewasa Alfa Handayani
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 1 No.1 Juli 2001
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3440.707 KB) | DOI: 10.29313/schema.v1i1.2547

Abstract

Nicholas Zill, Donna Ruane Morrison dan Maryjo Cairo. Penelitian ini menggunakan data longitudinal dari National Survey of Children untuk meneliti apakah akibat dari perceraian orang tua terbukti berpengaruh pada awal masa dewasa. Diantara anak-anakyang berusia 18-20 tahun dari keluarga bercerai, 65% mempunyai hubungan yang kurang baik dengan para ayah dan 30% dengan ibu mereka. Selanjutnya 25% dari mereka drop out dari sekolah menengah atas, dan 40% menerima bantuan psikologis. Bahkan setelah pemeriksaan untuk melihat perbedaan demografis dan sosioekonomis, para pemuda dari keluarga bercerai ini cenderung dua kali lebih banyak menunjukkan masalah-masalah ini dibanding remaja dari keluarga utuh. Pengaruh yang signifikan dari penceraian terhadap hubungan ibu-anak juga tampak pada masa dewasa. Para pemuda yang mengalami kekacauan sebelum usia 6 tahun menunjukkan hubungan yang lebih buruk dengan para ayah mereka daripada mereka yang mengalami kekacauan pada usia yang lebih kemudian. Secara menyeluruh, pernikahan kembali tidak mempunyai dampak melindungi, tetapi ada indikasi perbaikan diantara mereka yang mengalami kekacauan yang dini.Nicholas Zill, Donna Ruane Morrison dan Maryjo Cairo. Penelitian ini menggunakan data longitudinal dari National Survey of Children untuk meneliti apakah akibat dari perceraian orang tua terbukti berpengaruh pada awal masa dewasa. Diantara anak-anakyang berusia 18-20 tahun dari keluarga bercerai, 65% mempunyai hubungan yang kurang baik dengan para ayah dan 30% dengan ibu mereka. Selanjutnya 25% dari mereka drop out dari sekolah menengah atas, dan 40% menerima bantuan psikologis. Bahkan setelah pemeriksaan untuk melihat perbedaan demografis dan sosioekonomis, para pemuda dari keluarga bercerai ini cenderung dua kali lebih banyak menunjukkan masalah-masalah ini dibanding remaja dari keluarga utuh. Pengaruh yang signifikan dari penceraian terhadap hubungan ibu-anak juga tampak pada masa dewasa. Para pemuda yang mengalami kekacauan sebelum usia 6 tahun menunjukkan hubungan yang lebih buruk dengan para ayah mereka daripada mereka yang mengalami kekacauan pada usia yang lebih kemudian. Secara menyeluruh, pernikahan kembali tidak mempunyai dampak melindungi, tetapi ada indikasi perbaikan diantara mereka yang mengalami kekacauan yang dini.