p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ilmu Lingkungan
Aji Ali Akbar
Universitas Tanjungpura Pontianak

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Valuasi Lingkungan TPA Batu Layang Pontianak Mohammad Aji Diantoro; Aji Ali Akbar; Hendri Sutrisno
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 3 (2023): July 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.3.472-486

Abstract

Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Layang selain memberikan nilai manfaat bagi masyarakat sekitar juga mengakibatkan pencemaran terhadap air sungai sahang dan air sumur. Pencemaran yang terjadi menyebabkan fungsi dari sumber daya air tersebut terganggu, sehingga perlu dilakukannya upaya optimalisasi pengelolaan dan pengolahan sampah di TPA untuk mencegah atau meminimalisir potensi kerugian ekonomi yang diderita sumber daya air tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat terdampak, mengestimasi nilai kerugian dan manfaat ekonomi dari keberadaan TPA, serta merumuskan alternatif kebijakan yang tepat untuk mengoptimalisasi pengelolaan dan pengolahan sampah di TPA Batu Layang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan 200 responden secara purposive sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis indeks variabel, valuasi ekonomi dan analisis Strenght, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT). Responden menyatakan bahwa, keberadaan TPA Batu Layang setelah 5 tahun beroperasi cukup mempengaruhi penurunan kualitas dan manfaat air sumur dengan nilai indeks 68,85 dan sangat mempengaruhi penurunan kualitas dan manfaat air sungai sahang dengan nilai indeks sebesar 35,15. Kerugian Nilai Ekonomi Total (NET) sumber daya air tercemar sebesar Rp 5.183.666.040 per tahun dan nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat terdampak sebesar Rp 12.016.135.472 per tahun. Strategi dalam jangka panjang yang dapat diterapkan TPA Batu Layang ialah membangun TPS3R disetiap Rukun Warga (RW) dan membangun Bank Sampah disetiap kelurahan di Kota Pontianak, membuat program yang mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan 3R (Reuse, Reduce, Recycle), membangun tempat pembuatan kompos yang lebih luas di area TPA serta perencanaan saluran drainase pada daerah non landfill.
Kerawanan Banjir pada Permukiman di Kalimantan Barat Muhammad Harits Ertian; dian rahayu Jati; Aji Ali Akbar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1359-1369

Abstract

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang masih sering dilanda permasalahan banjir. Perubahan tutupan lahan, deforestasi hutan khususnya tipe riparian, dan alih fungsi lahan gambut menjadi permukiman memberikan dampak besar berupa kerusakan siklus hidrologi alami yang mampu meningkatkan kuantitas dan intensitas kejadian banjir. Kondisi lingkungan alami yang rawan terhadap banjir akan diperparah oleh alih fungsi lahan yang tidak tepat menjadi permukiman. Penelitian ini akan mengkaji faktor – faktor apa saja yang mengakibatkan kerawanan banjir di permukiman semakin meningkat di Kalimantan Barat. Upaya mitigasi apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah banjir. Analisis data yang dilakukan berbasis geographic information system (GIS). Metode kajian ini dengan cara tumpang susun dan skoring. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa luas permukiman terbangun di Kalimantan Barat yaitu sebesar 101.149,58 ha. Terindikasi bahwa permukiman terbangun yang rawan banjir sekitar 92.963,76 ha. Artinya, 92% wilayah permukiman di Kalimantan Barat berada di wilayah rawan banjir. Kejadian banjir di Provinsi Kalimantan Barat dalam lima tahun terakhir dari tahun 2018 hingga 2022 sebanyak 139 kejadian banjir dengan pola yang berulang setiap tahunnya. Faktor penyebab terjadinya banjir di Kalimantan Barat umumnya terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng, tinggi elevasi, serta dampak perubahan tutupan lahan hutan menjadi non hutan dalam waktu panjang.