Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN SPIN DOCTOR DALAM PEMASARAN POLITIK Sri Hadijah Arnus; Achmad Sulfikar
Al-MUNZIR No 2 (2013): Vol. 6 No. 2 November 2013
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.873 KB) | DOI: 10.31332/am.v6i2.262

Abstract

Abstrak: Pergeseran sistem demokrasi Indonesia menjadisistem demokrasi elektoral, dimana pimpinanpemerintahan dan legislatif dipilih langsung oleh rakyatmembuat para politisi dan partai politik harus membentukcitra positif di masyarakat, memperkenalkan figur, ide,gagasan, nilai, dan ideologi partainya dengan baik kepadamasyarakat. Bergesernya sistem tersebut menjadi salahsatu alasan munculnya konsep baru yakni pemasaraanpolitik. Prinsip pemasaran politik sama dengan konseppemasaran komersial hanya saja berbeda pada produkyang dipasarkan, dalam pemasaran politik, produk yangdipasarkan adalah ide-ide, gagasan, cita-cita dan programkerja politisi dan partai politik yang orientasinya lebihbanyak pada tataran penyadaran, sikap dan perubahanperilaku untuk menerima hal-hal baru. Salah satu caradalam pemasaran politik adalah kampanye politik, untukmenyukseskan kampanye politik dibutuhkan peran spindoctor yang memiliki kemampuan menguasai publik,menggerakkan massa dan menguasai media sekaligussebagai konseptor politik yang bertujuan mempengaruhi.Spin doctor sebagai stage manager yang mampu mengaturjalannya kampanye, memberi isi dalam naskah pidato,membuat agenda dan daftar pertanyaan politik yang akandiucapkan oleh kandidat. Dalam menjalankan tugasnyaseorang spin doctor menggunakan prinsip-prinsip publicrelation, oleh karena itu dalam proses kerjanya spin doctorterlebih dahulu mengadakan analisis masalah yangdiakhiri dengan evaluasi.Kata Kunci: Spin Doctor, Pemasaran Politik
INDUSTRIALISASI MEDIA MASSA DAN ETIKA JURNALISTIK Sri Hadijah Arnus; Achmad Sulfikar
Al-MUNZIR No 2 (2014): Vol. 7 No. 2 November 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.616 KB) | DOI: 10.31332/am.v7i2.282

Abstract

Abstrak: Perkembangan teknologi komunikasi daninformasi yang sejalan dengan perubahan media massadari media konvensional yang tujuannya semata-matauntuk menyampaikan informasi kepada khalayak, kiniberalih ke era industrialisasi, dimana media massa selainmenyampaikan informasi, media massa juga memilikikepentingan ekonomi yaitu memperoleh laba yangsebesar-besarnya dari perusahaan media massa tersebut.Industrialisasi media massa dan majunya teknologikomunkasi dan informasi juga mendorong timbulnyakonvergensi media dan konglomerasi media.Industrialisasi media yang ingin mencari keuntungan yangsebesar-besarnya mengakibatkan media massa kadangmenayangkan berita maupun acara yang tidak sesuaidengan kode etik jurnalistik yang merupakan suatukumpulan etika profesi kewartawanan. Tuntutan di masaindustialisasi media massa saat ini mengakibatkan sulitnyabagi penegakan etika jurnalistik, apalagi kode etik yangdibuat oleh beberapa organsasi pers tidak memilikiimplikasi hukum, akhirnya penerapan kode etik secarategas semuanya dikembalikan kepada masing-masingpribadi yang terlibat dalam aktivitas di institusi mediamassa.Kata Kunci: Industrialisasi, media massa, kode etikjurnalistik.
Revealing the Ecstasy of Communication upon using Tik Tok: A Virtual Ethnography in Palopo City, Indonesia Wahyuni Husain; Saifur Rahman; Intan Soliha Ibrahim; Achmad Sulfikar
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 1 (2025): Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v18i1.3117

Abstract

This research uses virtual ethnography to analyze TikTok usage patterns and the phenomenon of communication ecstasy among students in Palopo City. The qualitative field research method employed involves the use of questionnaires, interviews, observation, and documentation. A total of 53 students from universities in Palopo City participated in the questionnaire, and four were selected for further analysis through interviews. Data were analyzed using reduction techniques, presentation, and drawing conclusions. The results reveal that TikTok usage is prevalent among students, with daily use averaging over three hours per day. The purpose of use varies, including entertainment, information seeking, stress relief, hobby expression, and money-making. The phenomenon of communication ecstasy is evident in students' addiction to digital symbols like "like," "comment," "share," and "save." TikTok features enable students to immerse themselves in total simulation, blurring the lines between reality and virtuality, representation and reference, and facilitating the creation of simulacra and hyperreality. The implications suggest that TikTok is significantly altering communication patterns among students, leading to a shift from in-depth, meaningful interactions to more superficial, symbolic exchanges. This shift fosters a pseudo-environment where students can meticulously curate and project an idealized version of themselves, further obscuring the boundaries between authenticity and performance. As a result, the emphasis on visual storytelling and viral trends can lead to a culture of comparison and validation, potentially impacting students' self-esteem and social skills in the long term