abdul halim
Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN STS Jambi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSTRUKSI PLURALISME AGAMA DALAM ISLAM abdul halim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2015): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.321 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v14i2.1

Abstract

Dalam konteks Indonesia, secara sosiologis-antropologis pluralisme agama dan etnis adalah suatu fakta yang harus kita terima. Pemikiran teologis yang menawarkan pandangan inklusivisme dan pluralisme keberagamaan akan ikut meredam konflik dan ketegangan antar agama. Di sinilah letak pentingnya memperbincangkan masalah pluralisme agama dalam pluralitas bangsa (etnis) dan bagaimana memformat kembali bentuk dakwah/misi bagi agama dakwah yang ada di Indonesia, sehingga muncul desain baru tentang agama masa depan. Dialog mengenai pengalaman Iman, serta upaya membangun feologi yang inklusivistik dan dialogis bukan sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan jika teologi dipahami sebagai refleksi kritis tentang sebuah doktrin agama dengan "commited" terhadap upaya" perdamaian dan meningkatkan peradaban manusia, maka kita mestinya banyak dari faham ekslusivisme ke inklusivisme dan kemudian ke pluralisme lalu selanjutnya ke suprapluralisme.
PLURALISME DAN DIALOG ANTAR AGAMA abdul halim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.771 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v14i1.21

Abstract

Kemajemukan atau yang lebih dekat dengan sebutan pluralisme, di satu sisi menjadi khazanah budaya bangsa yang terus haras terjaga. Jika agama merupakan bagian dari khazanah budaya bangsa dengan nilai-nilai keberagamaan pemeluknya masing-masing, maka sisi lain harus diwaspadai adalah konflik atau ketegangan yang terjadi akibat persentuhan antara nilai-nilai suatu agama dengan nilai-nilai agama lain yang sangat dipengaruhi oleh individu-individu pemeluk masing-masing agama. Dalam hal ini terdapat kecenderungan penganut masing-masing agama untuk memuliakkan bentuk-bentuk tertentu dari agamanya sehingga agama itu menjadi tertutup atau yang kita kenal dengan sikap keberagamaan yang ekslusivistis, dimana hubungan timbal balik antara agama dan situasi sosialnya menjadi macet dan tidak harmonis, padahal agama berbubungan dengan sesuatu yang dianggap ilahi atau mutlak, dengan sendirinya agama itu mestinya memandang dirinya sendiri (dengan segala ajaran, upacara, perilaku keagamaan pemeluknya, dan lain-lain) sebagai hal yang bersifat lelatif dan tidak mutlak.