Badarussyamsi Badarussyamsi
Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN STS Jambi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMIKIRAN POLITIK SAYYID QUTB TENTANG PEMERINTAHAN ISLAM Badarussyamsi Badarussyamsi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2015): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.92 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v14i1.4

Abstract

Artikel ini membahas pemikiran politik Sayyid Qutb mengenai Pemerintahan Islam. Wacana ini tergolong wacana yang terus menghangat di kalangan pemikir Islam. Qutb menjelaskan bahwa politik pemerintahan dalam Islam dibangun di atas asas yang bersumber dari hati nurani, lebih dari sekedar dibangun di atas asas syari’at. Ia dibangun atas asas bahwa Allah SWT. selalu hadir setiap saat di sisi para penguasa dan rakyat mengawasi segala sesuatunya. Namun demikian, tidak bisa juga dipahami bahwa sistem sosial Islam hanya dibangun atas asas yang bersumber dari hati nurani saja. Akan tetapi yang mesti dipahami adalah bahwa dalam Islam terdapat jaminan lain selain yang ditetapkan melalui syara’. Inilah yang membuatnya berbeda dengan sistem-sistem lain yang semata-mata didasarkan atas undang-undang belaka, tanpa dukungan jaminan yang keluar dari hati nurani dan perasaan.
PEMIKIRAN ALI ABDURRAZIQ TENTANG HUBUNGAN ISLAM DAN NEGARA Badarussyamsi Badarussyamsi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2015): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.03 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v14i2.5

Abstract

Artikel ini akan membahas pemikiran Ali Abdurraziq mengenai hubungan agama dan negara yang pembahasannya terus bergulir hingga saat ini. Sebagian Ormas Islam beserta kaum Muslim tertentu terus menggaungkan pentingnya pembentukan khilafah Islam untuk mengatasi peroalan kemasyarakatan. Dalam masalah kekhalifahan, Abdurraziq berpendapat bahwa kekhalifahan bukanlah rezim agama, bahwa lembaga ini tidak diisyaratkan dalam Islam, dan bahwa – terlepas dari niat para khalifah – tidaklah mungkin ada pengganti, atau khalifah yang menggantikan, kedudukan Rasulullah, karena menurut Abdurraziq, Rasul tidak pernah menjadi raja, tidak pernah berusaha mendirikan sebuah negara ataupun pemerintahan; dia adalah pembawa pesan yang diutus oleh Allah, dan dia bukan pemimpin politik. Itulah beberapa penggalan pemikiran Abdurraziq di dalam bukunya yang menghebohkan itu. Akan terlihat nantinya betapa pemikiran-pemikirannya itu begitu banyak memperoleh tanggapan yang beragam, baik yang mendukung maupun yang menentang keras dari sebagian besar kaum Muslim, khususnya di Mesir.
ISLAM DI MATA ORIENTALISME KLASIK DAN ORIENTALISME KONTEMPORER Badarussyamsi Badarussyamsi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2016): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.763 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v15i1.6

Abstract

Artikel ini memperbincangkan kontras kajian Islam sebagai hasil kajian orientalisme klasik dan orientalisme kontemporer atau post-orientalisme. Dalam perspektif orientalisme klasik, wajah Islam tidak begitu menyenangkan dan menyeret Islam ke ranah keterbelakangan dan kejumudan, sebaliknya perspektif orientalisme kontemporer menyajikan Islam yang lebih realistis, kritis, dan konstruktif. Metode dalam artikel ini adalah metode komparatif dengan membandingkan dan menganalisis format kajian Islam yang dihasilkan oleh orientalisme klasik dan orientalisme kontemporer. Persoalan yang diangkat antara lain; bagaimana wajah kajian Islam dalam perspektif orientalisme klasik dan orientalisme kontemporer? Berdasarkan kajian yang dilakukan, terdapat perbedaan hasil kajian antara kajian orientalisme klasik dan orientalisme kontemporer sehingga menimbulkan kesan kontras yang dalam. Orientalisme klasik lebih mempublikasikan tema-tema keterbelakangan, ketidakberadaban, dan permusuhan dengan Barat. Sedangkan pada kajian orientalisme kontemporer, tema-tema seperti ini tidak diposisikan sebagai tema utama kajian Islam melainkan hanya sebagai tema-tema yang diklarifikasikan sehingga menutup pintu bagi terjadinya misunderstanding atas Islam.
AMAR MA‘RUF NAHī MUNKAR: SEBUAH KAJIAN ONTOLOGIS Badarussyamsi Badarussyamsi; Mohammad Ridwan; Nur Aiman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.149 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.175

Abstract

This article examines ontologically the term "amar ma'ruf nahī munkar" which is always hotly discussed. The aspects studied include the definition, history, law, terms, and pillars of Amar ma'ruf nahi munkar. So far, the concept of amar ma'ruf nahī munkar has not been studied comprehensively so that its meaning is minimized only in the context of da'wah, even though the social content of the meaning of the word is very important to reveal. The focus of the study in this article is how to understand the concept of amar ma'ruf nahī munkar in accordance with the instructions of the Qur'an and al-Sunnah as well as the views of Muslim scholars. The study method carried out is a literature review by examining in depth the concept of amar ma'ruf nahī munkar and its scope. The research findings show that the concept of amar ma'ruf nahī munkar has broad dimensions, both with regard to definition, history, law, terms, and pillars as well as their application. It is very possible that what has been seen as amar ma'ruf nahī munkar can not actually be called a realization of this concept, because the ontological indicators in this concept have not been fulfilled. The ontological study of the concept of ma'ruf nahī munkar implies the message that every Muslim must participate in creating a stable and comfortable social order, which can provide guarantees for the creation of a good quality of life for the community. Artikel ini mengkaji secara ontologis term “amar ma‘ruf nahī munkar” yang senantiasa hangat diperbincangkan. Aspek-aspek yang dikaji mencakup definisi, sejarah, hukum, syarat, dan rukun Amar ma‘ruf nahi munkar. Selama ini konsep amar ma‘ruf nahī munkar belum dikaji secara komprehensif sehingga dikecilkan artinya hanya dalam konteks dakwah, padahal kandungan sosial dari makna kata tersebut justru sangat penting untuk diungkap. Fokus kajian dalam artikel ini adalah bagaimana memahami konsep amar ma‘ruf nahī munkar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan al-Sunnah serta pandangan para ulama Muslim. Metode kajian yang dijalankan adalah kajian literatur dengan mencermati secara mendalam konsep amar ma‘ruf nahī munkar beserta ruang lingkupnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep amar ma‘ruf nahī munkar memiliki dimensi yang luas, baik yang berkenaan dengan definisi, sejarah, hukum, syarat, dan rukun serta aplikasinya. Sangat mungkin terjadi bahwa apa yang selama ini dipandang sebagai amar ma‘ruf nahī munkar sebenarnya belum bisa disebut sebagai realisasi terhadap konsep ini, karena belum terpenuhinya indikator-indikator ontologis dalam konsep ini. Kajian ontologis terhadap konsep ma‘ruf nahī munkar menyiratkan pesan bahwa setiap Muslim harus berpartisipasi menciptakan tatanan sosial yang stabil dan confortable, yang dapat memberikan jaminan bagi terciptanya kualitas hidup masyarakat yang baik.