p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal e-CliniC
Josef S. B. Tuda
Universitas Sam Ratulangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Multidrug-Resistant Tuberculosis (TB-MDR) di Kota Ternate, Maluku Utara Fathul R. S. Imam; Jootje M. L. Umboh; Josef S. B. Tuda
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.44459

Abstract

Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) is tuberculosis that does not respond to at least isoniazid and rifampicin, with or without other first line anti-TB drugs. Resistannt cases will lead to higher failure of TB therapy, increasing morbidity and mortality, and increasing financial burden in TB control. This study aimed to determine the risk factors associated with MDR-TB in Ternate. This was an analytical and observational study with a case-control design. There were 64 patients as samples, consisting of 32 case samples (MDR-TB) and 32 control samples (antituberculosis drug sensitive TB). Data were obtained using medical records of Dr. H. Chasan Boesorie Hospital in Ternate, and were analyzed with univariate, bivariate and multivariate tests using the SPSS. The results showed that there was a significant relation-ship between history of diabetes mellitus (p=0.021; OR=4.2; 95% CI:1.181-14.937) and history of TB treatment (p=0.010; OR= 6.818; 95% CI:1.356-34.274 ) with the incidence of MDR-TB. Meanwhile, variables that had no effect were sex, age, education level, and history of HIV-AIDS. The multivariate analysis showed that history of TB treatment had the strongest association with the incidence of MDR-TB (OR=5,.93; 95%CI:1.034-29.175). In conclusion, there are two risk factors associated with the incidence of MDR-TB in Ternate namely histories of diabetes mellitus and tuberculosis treatment. Keywords: risk factors; tuberculosis; multidrug-resistant tuberculosis; antituberculosis drugs   Abstrak: Multidrug-resistant tuberculosis (TB-MDR) adalah tuberkulosis (TB) yang resisten terhadap isoniazid dan rifampisin secara bersamaan, dengan atau tanpa disertai obat anti tuberkulosis (OAT) lini pertama lainnya. Kasus resistensi menyebabkan tingginya kegagalan terapi TB, meningkatkan angka kesakitan dan kematian, serta menambah beban pembiayaan dalam pengendalian TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB-MDR di Kota Ternate, dengan lokasi penelitian di RSUD Dr. H. Chasan Boesorie Ternate. Jenis penelitian ialah analitik observasional menggunakan desain kasus-kontrol. Sampel berjumlah 64 pasien, yang terdiri dari 32 kasus (TB-MDR), dan 32 kontrol (TB sensitif OAT). Data penelitian diperoleh dari sumber data sekunder, yakni catatan rekam medis pasien. Analisis data yang dilakukan terdiri dari analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan program pengolah data SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara riwayat diabetes melitus (p=0,021; OR= 4,2;  95%CI: 1,181-14,937) dan riwayat pengobatan TB (p=0,010; OR= 6,818; 95%CI: 1,356-34,274) dengan kejadian TB-MDR. Variabel yang tidak berpengaruh ialah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan riwayat HIV-AIDS. Hasil analisis multivariat mendapatkan bahwa riwayat pengobatan TB merupakan variabel yang paling kuat hubungannya dengan kejadian TB-MDR (OR=5,493; 95%CI:1,034-29,175). Simpulan penelitian ini ialah terdapat dua faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB-MDR di Kota Ternate, yakni riwayat diabetes melitus dan riwayat pengobatan TB. Kata kunci: faktor risiko; tuberkulosis; multidrug-resistant tuberculosis; obat antituberkulosis
Perhitungan Larva Aedes spp. Berdasarkan Hasil Rearing Ovitrap Berwarna Dalam Ruangan di Kelurahan Malalayang Satu Barat Kota Manado Stephen Stephen; Angle M. H. Sorisi; Josef S. B. Tuda
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45233

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still a health problem in Indonesia including Manado. Ovitrap is a dengue vector control method that is quite sensitive and proven to reduce vector density safely and economically. Color is one of the factors that plays an important role in the effectiveness of ovitrap, albeit, there are still few reported studies related to Aedes spp egg viability, especially by rearing ovitrap with different colors. This study aimed to determine the percentage of Aedes spp larvae found in each color of the indoor ovitrap rearing results. This was a descriptive study with a cross-sectional design using ovitraps at Malalayang Satu Barat Sub-district. The results showed the percentages of Aedes spp eggs hatched in the ovitraps, as follows: yellow ovitrap 94%, blue 92%, white 84%, black 82%, red 70%, and transparent 36%. The average number of eggs per ovitrap, as follows: black (17.00), white (12.56), red (10.78), yellow (10.60), blue (7.70), and transparent (3.11) with ovitrap index (OI) =74.72%. In conclusion, the criteria of egg density in Malalayang Satu Barat Sub-District is high. Black ovitrap has the highest number of eggs and the least is transparent ovitrap, however, yellow and blue ovitraps have the highest percentages of hatching eggs. Keywords: dengue hemorrhagic fever; Aedes spp. larva; ovitrap color; rearing; ovitrap index   Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk kota Manado. Ovitrap merupakan metode pengendalian vektor DBD yang cukup sensitif dan terbukti menurunkan kepadatan vektor secara aman dan ekonomis. Warna menjadi salah satu faktor penting keefektifan ovitrap, namun sedikit studi tentang viabilitas telur khususnya melakukan rearing ovitrap dengan warna berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah persentase larva Aedes spp. yang terdapat pada setiap warna hasil rearing ovitrap dalam ruangan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan ovitrap di Kelurahan Malalayang Satu Barat. Hasil penelitian mendapatkan persentase telur menetas pada ovitrap kuning sebesar 94%, biru 92%, putih 84%, hitam 82%, merah 70%, dan transparan 36%. Rerata jumlah telur per ovitrap hitam (17,00), putih (12,56), merah (10,78), kuning (10,60), biru (7,70), dan transparan (3,11) dengan ovitrap index (OI) =74,72%. Simpulan penelitian ini ialah kepadatan telur Kelurahan Malalayang Satu Barat tergolong kriteria tinggi. Ovitrap hitam memiliki telur terbanyak dan ovitrap transparan yang paling sedikit, namun ovitrap kuning dan biru memiliki persentase telur menetas yang paling tinggi. Kata kunci: demam berdarah dengue; larva Aedes spp.; warna ovitrap; rearing; ovitrap index