Fitri Yani
Departemen Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH TEKNIK MULLIGAN TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA KASUS LOW BACK PAIN NON SPESIFIK Muh. Erdin Aristia; Fitri Yani
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v2i2.16719

Abstract

Latar Belakang: Low back pain merupakan musculoskeletal disorder yang paling sering dikeluhkan oleh populasi di seluruh dunia. Postur tubuh yang buruk menyebabkan seseorang akan terkena low back pain non spesifik. Mulligan dengan teknik Sustained Natural Apophyseal Glides (SNAGS) dapat menurunkan nyeri dan meningkatkan aktivitas fungsional pada kasus low back pain non spesifik.  Tujuan:Untuk mengetahui pengaruh mulligan terhadap penurunan nyeri pada penderita low back pain non spesifik.Metode:Penelitian ini menggunakan metode narrative review artikel berasal dari 3 database, yaitu Google Schollar, Sciencedirect ,dan Pubmed. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah artikel free full text yang membahas tentang mulligan terhadap penurunan nyeri pada low back pain non spesifik yang di publish tahun 2012-2022 berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris.Hasil:Dari 15 artikel mulligan, 11 artikel menyatakan mulligan efektif dan 4 artikel menyatakan mulligan kurang efektif dalam menangani nyeri pada low back pain non spesifik. Dosis yang paling banyak digunakan yaitu 3 set, 6 repetisi, 3 sesi per minggu selama 4 minggu. Alat ukur yang paling banyak digunakan adalah VAS (Visual Analogue Scale). Pasien low back pain non spesifik paling banyak adalah perempuan dengan rentan usia 20-50 tahun dan berasal dari Benua Asia khususnya di Negara India. Kesimpulan:Pemberian mulligan efektif dalam mengurangi nyeri pada penderita low back pain non spesifik
PERBEDAAN PENGARUH LONG SITTING HAND UP EXERCISE DAN CONTRACT RELAX STRETCHING TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING PADA PEMAIN SEPAK BOLA Puspita Tri Kumalatiwi; Fitri Yani
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v2i2.16720

Abstract

Latar belakang : Sepak bola memerlukan tendangan yang maksimal untuk mecapai tujuan agar tepat sasaran pada gawang lawan dan supaya terhindar dari cedera otot yaitu dengan meningkatkan fleksibilitas otot hamstring yang baik. Salah satu upaya penanganan yang dapat dilakukan yaitu diberikan long sitting hand up exercise dan contract relax stretching. Tujuan : penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian long sitting hand up exercise dan contract relax stretching terhadap peningkatan fleksibilitas otot hamstring pada pemain sepak bola. Metode : penelitian ini adalah Quasi Exprimental dengan metode pre and post test two group design. Penelitian ini dilakukan di klub sepak bola PSS Development Center, sampel berjumlah 34 orang. Intervensi diberikan 3 kali perminggu selama periode 4 minggu. Instrument pengukuran fleksibilitas otot hamstring yaitu Active Knee Extension Test (AKET). Hasil : penelitian didapatkan bahwa kelompok 1 dan 2 diuji dengan paired simple t-test menunjukan hasil nilai p = 0,000 (p < 0,05). Pada uji beda dengan independent sample t-test menunjukan pada kelompok I hasil nilai p = 0,826 (p > 0,05) dan kelompok II p = 0,365 (p > 0,05) yang berarti tidak adanya perbedaan yang bermakna antara kedua intervensi pada peningkatan fleksibiltas otot hamstring. Kesimpulan : Long Sitiing Hand Up Exercise dan Contract Relax Stretching sama-sama efektif terhadap peningkatan fleksibilitas otot hamstring pada pemain sepak bola.
Perbedaan Daya Tahan Kardiorespirasi Berdasarkan Tingkat Aktivitas Fisik Di Panti Lansia Dan Komunitas Windriya Drasthyarenni Sumawinata; Suci Muqodimatul Jannah; Fitri Yani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.948

Abstract

Penurunan daya tahan kardiorespirasi pada lansia dapat berdampak pada menurunnya kemampuan fungsionaldan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik, di mana lansia denganaktivitas fisik rendah cenderung mengalami penurunan kapasitas fisik yang lebih cepat. Perbedaan tingkataktivitas fisik antara lansia yang tinggal di panti dan komunitas juga berpotensi memengaruhi daya tahankardiorespirasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya tahan kardiorespirasi berdasarkantingkat aktivitas fisik pada lansia di panti dan komunitas. Penelitian ini menggunakan desain analitik denganpendekatan cross sectional study. Subjek penelitian adalah lansia berusia &gt;60 tahun, bersedia menjadiresponden, tidak menggunakan alat bantu jalan, serta memiliki skor aktivitas fisik &lt;600 MET-menit/minggu dan≥600 MET-menit/minggu. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical ActivityQuestionnaire-Short Form (IPAQ-SF), sedangkan daya tahan kardiorespirasi diukur menggunakan Six MinuteWalk Test (6MWT) dengan lintasan 15 meter. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan IndependentSample t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada daya tahan kardiorespirasiberdasarkan tingkat aktivitas fisik pada lansia dengan nilai p=0,000 (p&lt;0,05). Lansia dengan tingkat aktivitasfisik yang lebih tinggi (rerata 1964,09 MET-menit/minggu) memiliki daya tahan kardiorespirasi yang lebih baikdibandingkan lansia dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah (rerata 309,49 MET-menit/minggu), yangditunjukkan oleh rerata jarak tempuh Six Minute Walk Test (6MWT) pada kelompok aktif yang lebih tinggidibandingkan kelompok kurang aktif, yaitu sebesar 206,60±18,36 meter dan 113,61±36,12 meter di BPSTWAbiyoso serta 470,04±131,64 meter dan 165,07±15,03 meter di Komunitas Si Mbah Bugar. Kesimpulannya,terdapat perbedaan daya tahan kardiorespirasi berdasarkan tingkat aktivitas fisik pada lansia, di mana lansia yangaktif secara fisik memiliki daya tahan kardiorespirasi yang lebih baik dibandingkan lansia yang kurang aktif.