Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Analysis of Student Activeness Before the Covid-19 Pandemic and During the Covid-19 Pandemic Asis T; Wayan Sukarlinawati
International Journal of Multidisciplinary Sciences Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.852 KB) | DOI: 10.37329/ijms.v1i2.2381

Abstract

The learning process has changed globally due to the Covid-19 pandemic that has hit the world. The learning process that used to be carried out face-to-face in the classroom turned into online learning (in the network) due to social restrictions to prevent the spread of the covid-19 virus. The online learning process is assisted by applications such as whatsapp, google classroom, zoom meeting, google meet and other applications. Of course this affects the way of learning and the difficulty of adapting to technology, especially at the elementary school level and has an impact on student activeness in the learning process. Seeing this situation, research is needed to examine this matter. The purpose of this study is to determine student activeness in learning before the COVID-19 pandemic and during the COVID-19 pandemic at UPT SD Negeri 1 Amparita. The method used is descriptive research. The population in the study were all students at UPT SD Negeri 1 Amparita as many as 172 students, while the sample in this study were 89 students with non probability sampling technique. The research data were obtained by distributing questionnaires and supported by activity documentation. The data analysis technique used is quantitative descriptive statistical analysis technique. Based on the results of descriptive analysis, the data obtained shows that student activeness in the learning process before the COVID-19 pandemic at UPT SD Negeri 1 Amparita is more effective than student activeness in the learning process during the COVID-19 pandemic at UPT SD Negeri 1 Amparita.
Peran Perempuan Hindu Dalam Pelaksanaan Upacara Ngaben (Studi di Dusun Wana Sari Desa Swastika Buana Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah) Wayan Sukarlinawati
Pasupati Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37428/pasupati.v10i1.347

Abstract

In Balinese society, it has been proven that many women are capable of carrying out tasks as befits men, such as being a sulinggih, pampangku (jan bangul), but women are generally reluctant to choose this opportunity to become the field they are engaged in. Scriptures or guidelines in ejection are often used as an excuse to perpetuate injustice regarding the provisions that must be obeyed by women in religious activities/prayers. Women play an important role in being involved in religious ceremonies and other Yajna activities. One of the important roles of women is their involvement in the Pitra Yajna ceremony, namely the Ngaben ceremony. The purpose of this study is to analyze the role of women in carrying out the cremation ceremony in Wana Sari Hamlet, Swastika Buana Village, Seputih Banyak District, Central Lampung Regency and to analyze the shape of the role of women in the Ngaben ceremony in Wana Sari Hamlet, Swastika Buana Village, Seputih Banyak District, Central Lampung Regency. The method used in this study is a qualitative research method related to field research which is usually research related to the social sciences. The results of the study are that women have a social role in society and secondly, the role of women is to strengthen a sense of solidarity in the effort to transform religious values and the division of responsibilities for the implementation and development of religious rituals, especially at the Ngaben ceremony, is sustainable. The role that women have in carrying out the Ngaben ceremony is that the women specifically make Banten Upakara, while the men handle other equipment that requires more manpower, such as making bade and others. The rights of Hindu women in the Ngaben ceremony greatly determine the Atman and all of their ancestors in order to achieve perfection and happiness in God's realm.
PERAN PARISADA DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI ETIKA POLITIK HINDU STUDI DI KABUPATEN TULANG BAWANG Wayan Sukarlinawati; Wayan Putu Umbare
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 13 No. 1 (2022): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondidi politik Agar berjalannya roda pemerintahan daerah yang baik, baik untuk tingkat provinsi, kabupaten, dan kota, maka orang yang duduk di kursi pemerintahan harus orang-orang yang berkompeten untuk menjalankan roda pemerintahan, karena tidak setiap orang mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Partisipasi politik adalah kegiatan masyarakat, dimana masyarakat berperan serta secara aktif dalam pemilihan pemerintah, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kebijakan publik (public policy). Umat Hindu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam politik praktis dengan mengedepankan kesadaran politik dan etika politik yang santun berlandaskan kitab Suci Weda. Persoalan pokok yang dijadikan rumusan masalah yaitupertama, Bagaimanakah kondisi politik Umat Hindu di Kabupaten Tulang Bawang? Dan kedua Bagaimana Parisada Kabupaten Tulang Bawang Menanamkan Nilai-Nilai Etika Politik Hindu pada Umat Hindu? Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang mengkaji dan yang dapat menggambarkan realita sosial yang kompleks dan konkrit. Parisada Kabupaten Tulang Bawang telah melakukan upaya pembelajaran politik dengan menanamkan nilai-nilai etika politik berdasarkan pada ajaran sastra Hindu yang terdapat pada Kitab Suci atau sumber sastra lainnya berupa Lontar Pati Raja Gundala. Maksud penanaman nilai etika politik Hindu ini adalah agar umat Hindu dapat menilai dan menyikapi segala bentuk dinamika politik yang terjadi baik pada sistem politiknya, perilaku politikus atau pun kegiatan-kegiatan lainnya yang berindikasi pada perilaku politik yang ada. Parisada Kabupaten Tulang Bawang telah memberikan pembelajaran etika politik melalui pertemuan dan koordinasi, yang hal ini dibenarkan oleh para tokoh pendidik, tokoh masyarakat, dan tokoh agama yang ada di Kabupaten Tulang Bawang. Hal ini ditunjukkan pula oleh keberhasilan dua tokoh politik muda dari masyarakat Bali yang lolos Pemilihan Legislatif 2019 lalu yaitu yaitu I Ketut Saspiyanto dari Dapil IV (Gedong Meneng), dan Ketut Kasub Indrajaya Dapil II (BanjarAgung, Banjar Margo dan Banjar Baru)
Hubungan Antara Kelekatan Anak Balita Dan Orang Tuanyadengan Perkembangan Sosial, Emosionaldan Kecerdasan Wayan Sukarlinawati
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 13 No. 2 (2022): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

salah satu dalam membantu meningkatkan perkembangan pada anak, yaitu dengan menciptakan hubungan interaksi yang baik antara anak dan orang tua sebagai pengasuh dalam keluarga khususnya pada anak balita, sebab untuk mencapai perkembangan yang optimal, usaia balita adalah usia dimana anak dengan mudah menerima rangsangan yang diberikan oleh objek sekelilingnya. Oleh karena itu upaya mewujudkan perkembangan anak balita ini, tidak terlepas dari peranan keluarga terutama orang tua sebagai pengasuh terdekat untuk memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan bagi perkembangan anak balitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kelekatan anak balita dan orang tuanya berhubungan dengan perkembangansosial, emosional dan kecerdasan pada anak balita. Metode penelitian meliputi : sampel penelitian sebanyak 70 orang dari 700 orang tua yang mempunyai anak balita atau 10 % dari seluruh populasi yang ada. Teknik sampling yang digunakan adalah Metode Proporsional Insidental Sampling. Sumber data adalah dengan data primer dan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan Metode statistik yaitu table silang dan korelasi Product Moment. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa, kelekatan anak balita dan orang tuanya mempeunyai hubungan dengan perkembangan sosial anak balita dengan koefisien korelasi sebesar 0,071 lebih besar darimketentuan table, tetapi hubungan antara kedua variable yaitu kelekatan dan perkembangan sosial tidak signifikan pada taraf 99% artinya hanya ada toleransi sebesar 1% dengan arah huubungan yang positif. Kelekatan anak balita dan orang tuanya tidak mempunyai hubungan dengan perkembangan emosional anak balita dengan koefisien korelasi sebesar 0,090 lebih kecil dari ketentuan tabel. Kelekatan anak balita dan orang tuanya tidak mempunyai hubungan dengan perkembangan kecerdasan anak balita dengan koefisien korelasi sebesar 0,041 lebih kecil dari ketentuan tabel.
Peran Pasraman Dalam Membentuk Sikap Anak Di Rumah Wayan Sukarlinawati
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 14 No. 1 (2023): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasraman sebagai lembaga pendidikan non formal dapat memberikan pengetahuan agama Hindu yang tidak didapatkan anak di sekolah dan di rumah. Pasraman juga diharapkan dapat mendidik sikap anak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Penelitian dilakukan di Pasraman Widyaloka, dengan rumusan masalah: 1) Bagaimana proses belajar agama Hindu di Pasraman Widyaloka? 2) Bagaimana peran Pasraman Widyaloka dalam membentuk sikap anak di rumah? Tujuan penelitian yaitu: 1) Untuk mengetahui proses belajar mengajar di Pasraman Widyaloka dan 2) Peran Pasraman Widyaloka dalam pembentukan sikap anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan domenstrasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis data. Data dikelompokan berdasarkan masalah yang dikaji peneliti.Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, proses belajar di pasraman hampir sama seperti di sekolah, tetapi materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sikap anak juga dilatih agar disiplin, sopan santun, religius, dan patuh. Wawancara dengan orang tua anak, disimpulkan setelah anak mengikuti pasraman, secara bertahap sikapnya lebih disiplin, sopan santun, religius, dan patuh kepada orang tua.Jadi dapat disimpulkan bahwa pasraman berperan dalam membentuk sikap anak di rumah.
Fungsi Lembaga Adat Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Pinandita Wayan Sukarlinawati
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 14 No. 2 (2023): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembaga adat merupakan organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitandengan adat. Lembaga adat di Desa Tanjung Serupa memiliki peran yang sangat penting dalam mewadahi segala aktivitas adat dan keagamaan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana fungsi adat dalam memperhatikan dan mensejahterakan para pemangku atau pinandita di Desa Tanjung Serupa. Mengingat menjadi seorang pemangku tidaklah mudah karena beliau terikat oleh aturan-aturan kepemangkuannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah proposive sampling. Sampel penelitian ini adalah tokoh-tokoh adat, para pemangku dan tokoh-tokoh umat di Desa Tanjung Serupa Kecamatan Pakuan Ratu yang dianggap mengerti tentang aturan dan tuntunan bagaimana melayani kehidupan seorang pemangku sebagai orang yang disucikan.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa lembaga adat di Desa Tanjung Serupa telah berkontribusi nyata untuk memperhatikan dan memberikan pelayanan kepada para pemangku dalam mensejahterakan kehidupannya walaupun tidak sepenuhnya terpenuhi. Bukti bahwa lembaga adat di Desa Tanjung Serupa telah berfungsi dalam mensejahterakan kehidupan para pemangku adalah dengan memberikan yajna (janggolan) minimal Rp400.000/tahun apabila ada acara di pura (Tri Kahyangan) diberikan punia sebesar Rp 200.000. Selain berupa uang adat juga memberikan yajna berupa barang dan pakaian, dan hasil panen sebanyak 5-10 kg/kk/panen. Peran lembaga adat harus ditingkatkan agar kehidupan seorang pemangku dapat terjamin.
Peran Parisada Dalam Menanamkan Nilai - Nilai Etika Politik Hindu Studi Di Kabupaten Tulang Bawang Wayan Sukarlinawati; Wayan Putu Umbare
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 16 No. 1 (2025): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondidi politik Agar berjalannya roda pemerintahan daerah yang baik, baik untuk tingkat provinsi, kabupaten, dan kota, maka orang yang duduk di kursi pemerintahan harus orang-orang yang berkompeten untuk menjalankan roda pemerintahan, karena tidak setiap orang mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik.Partisipasi politik adalah kegiatan masyarakat, dimana masyarakat berperan serta secara aktif dalam pemilihan pemerintah, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kebijakan publik (public policy).Umat Hindu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam politik praktis dengan mengedepankan kesadaran politik dan etika politik yang santun berlandaskan kitab Suci Weda. Persoalan pokok yang dijadikan rumusan masalahyaitupertama, Bagaimanakah kondisi politik Umat Hindudi Kabupaten Tulang Bawang?Dan keduaBagaimana Parisada Kabupaten Tulang Bawang Menanamkan Nilai-Nilai Etika Politik Hindu pada Umat Hindu?Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang mengkaji dan yang dapat menggambarkan realita sosial yang kompleks dan konkrit.ParisadaKabupatenTulangBawangtelahmelakukanupayapembelajaranpolitikdenganmenanamkannilai-nilaietikapolitikberdasarkanpadaajaransastra Hindu yang terdapatpadaKitabSuciatausumbersastralainnyaberupaLontarPati Raja Gundala.Maksudpenanamannilaietikapolitik Hindu iniadalah agar umatHindudapatmenilaidanmenyikapisegalabentukdinamikapolitik yang terjadibaikpada sistem politiknya, perilakupolitikusatau pun kegiatan-kegiatanlainnya yang berindikasipadaperilakupolitik yang ada.Parisada Kabupaten Tulang Bawang telah memberikan pembelajaran etika politik melalui pertemuan dan koordinasi, yang hal ini dibenarkan oleh para tokoh pendidik, tokoh masyarakat, dan tokoh agama yang ada di Kabupaten Tulang Bawang. Hal ini ditunjukkan pula oleh keberhasilan dua tokoh politik muda dari masyarakat Bali yang lolos Pemilihan Legislatif 2019 lalu yaitu yaituI Ketut Saspiyanto dariDapil IV(Gedong Meneng), danKetut Kasub Indrajaya Dapil II(BanjarAgung, Banjar Margo danBanjarBaru)
Pelinggih Kemulan Pada Masyarakat Hindu Di Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah Wayan Sukarlinawati
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 16 No. 2 (2025): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelinggih Kemulan merupakan tempat pemujaan Sanghyang Tri Atma (Paratma, Atma, dan Siwatma), Sanghyang Tri Murti, Bhatara Guru, Sanghyang Guru Reka dan roh leluhur yang telah disucikan atau Sanghyang Pitara. Pelinggih Kamulan merupakan simbol kebesaran dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi sebagai sarana pemujaan mengaplikasikan Sraddha dan Bhakti masyarakat Hindu secara keseluruhan. Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah makna dan fungsi Pelinggih Kemulan pada masyarakat Hindu di Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah?, (2) Bagaimanakah bentuk Pelinggih Kemulan pada masyarakat Hindu di Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah?, (3) Bagaimanakah implikasi Pelinggih Kemulan pada masyarakat Hindu di Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah?. Penelitian ini dilaksanakan di Seputih Raman Lampung Tengah. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Teori Religi, (2) Teori Simbol, (3) Teori Fungsional. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Makna filosofi Pelinggih Kamulan berkaitan dengan hakikat dasar yang menjadi landasan dalam pembangunan Pelinggih Kemulan yaitu gagasan Mpu Kuturan yang telah meminit Pelinggih Kemulan Rong Tiga merupakan manifestasi Ida Sanghyang Widhi dalam konsep Brahma sebagai pencipta dengan lamak warna merah, Wisnu sebagai pemelihara dengan lamak warna hitam dan Iswara sebagai pemralina dengan lamak warna putih yang dinamakan Sanghyang Tri Murti, Pelinggih Kemulan berfungsi sebagai tempat pemujaan sekaligus sthana dari Ida Sang Hyang Widhi yang bergelar sebagi Tri Murti, Tri Purusa dan Triatma dan juga Bhatara Hyang Guru yaitu roh suci para leluhur yang telah mencapai Dewa Pitara, (2) Bentuk-bentuk Pelinggih Kemulan yang ada pada masyarakat Hindu di Seputih Raman secara umum berupa bangunan rong tiga saka dua, ada rong tiga saka nem, rong tiga turus lumbung, dan ada berupa rong kalih. Bentuk-bentuk tersebut sangat erat kaitannya dengan keyakinan (sraddha) dari umat Hindu sebagai media pemujaan terhadap Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi maupun Hyang Dewa Pitara/Leluhur, (3) Implikasi Pelinggih Kemulan pada masyarakat Hindu di Seputih Raman sebagai media transpormasi ajaran agama Hindu, dan sebagai media untuk komunikasi dengan Tuhan (Leluhur).