Muhammad Farhan
Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Mengapa Islamophobia Tumbuh Subur di Jerman ? Marcela Hanindya Putri; Muhammad Faizul Hafizi; Muhammad Farhan
INDEPENDEN: Jurnal Politik Indonesia dan Global Vol 4, No 1 (2023): INDEPENDEN : Jurnal Politik Indonesia dan Global
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/independen.4.1.33-39

Abstract

Sejak terjadinya serangan World Trade Center pada 11 September 2001 di New York, perang untuk terorisme menguak. Seakan keberadaan agama Islam diselimuti oleh ketakutan dunia.Dengan jumlah muslim yang cukup signifikan di Jerman membuat isu ini cukup menarik untuk dibahas. Jerman adalah negara penerima pengungsi yang berasal dari timur tengah yang kebanyakan beragama Islam. Jerman menerima para pengungsi juga karena alasan kemanusiaan karena pernah menjadi korban peperangan juga. Islamophobia di Eropa juga sering dibicarakan oleh negara negara Eropa. Ketika Eropa membangun ulang infrastruktur negaranya maka memerlukan tenaga kerja yang diperoleh dari luar Eropa kebanyakan berasal dari agama Islam. Jerman merupakan salah satu negara yang paling ramah dalam menerima imigran. Hal ini dikarenakan adanya perhatian lebih terhadap pengungsi yang terlihat dari kebijakan luar negeri yang digagas oleh Kanselir Jerman Angela Merkel. Bahkan ketikagelombang imigran tumbuh, Jerman terus membuka pintu kedatangan mereka. Kedatangan imigran Muslim di Jerman yang terus meningkat setiap tahunnya menimbulkan berbagaipenolakan dari kalangan konservatif dan organisasi anti-Islam. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa islamophobia tumbuh subur di Jerman. Tulisan ini menunjukkan bahwafaktor-faktor seperti peristiwa terorisme yang dilakukan oleh kelompok Muslim, pendatang asing dan imigrasi yang meningkat, kampanye politik yang menggunakan isu islam sebagaibahan retorika memperkuat islamophobia di Jerman.