Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Konsep Pernikahan dalam Perspektif Feminisme dan Hukum Islam Widya Sari; Muhammad Arif
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol 1, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v1i1.6532

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep pernikahan dalam perspektif feminisme dan hukum perkawinan Islam. Ini adalah kajian kepustakaan (library research) Metode analisis data yang digunakan adalah content analysis. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam wacana feminisme, terjadi pro-kontra  tentang  institusi lembaga perkawinan. Kaum feminis ada yang menolak mentah-mentah institusi perkawinan dan ada kubu yang pro. Kubu yang pro umumnya berasal dari kubu psikoanalisis dan postmodernis yang tidak melarang perempuan menjatuhkan pilihan bebasnya untuk menikah, namun bermaksud untuk mendefinisikan ulang makna perkawinan bagi perempuan dan laki-laki secara setara. Pernikahan dalam hukum perkawinan Islam menggambarkan bahwa keluarga adalah fondasi inti pembangunan masyarakat yang ditegakkan di atas dasar fitrah serta sistem yang kukuh. Keluarga merupakan kebutuhan vital bagi individu dan anggota masyarakat. Membinasakan keluarga  berarti menentang hukum alam dalam kehidupan sosial.This paper aims to examine the concept of marriage in the perspective of feminism and Islamic marriage law. This is a literature review (library research). The data analysis method used is content analysis. The findings of this study reveal that in the discourse of feminism, there are pros and cons regarding the institution of marriage. There are feminists who reject the institution of marriage outright and there are those who are pro. The pro camp generally comes from the psychoanalytic and postmodernist camps which do not prohibit women from making their free choice to marry, but intend to redefine the meaning of marriage for women and men equally.Marriage in Islamic marriage law illustrates that the family is the core foundation of community development which is upheld on the basis of nature and a strong system. Family is a vital need for individuals and members of society. Annihilating the family means going against the laws of nature in social life.
Tinjauan Literatur: Analisis Penggunaan Media Smartboard dalam Pembelajaran Istihsan, Mashlahah Mursalah, dan URF di Madrasah Aliyah Zainul Arasy; Khadijah Khadijah; Widya Sari
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media smartboard dalam pembelajaran istihsan, mashlahah mursalah, dan ‘urf di Madrasah Aliyah melalui pendekatan tinjauan literatur. Kajian ini dilatarbelakangi oleh karakteristik materi ushul fiqh yang bersifat abstrak, konseptual, serta menuntut kemampuan berpikir analitis tingkat tinggi, sehingga sering menimbulkan kendala pemahaman apabila disampaikan secara konvensional dan berpusat pada ceramah. Oleh karena itu, pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi dipandang penting untuk membantu visualisasi konsep dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan menelaah dan menganalisis artikel-artikel ilmiah nasional yang relevan, khususnya jurnal pendidikan Islam dan teknologi pembelajaran yang membahas penggunaan media digital di lingkungan madrasah. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan smartboard memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kejelasan penyampaian materi, penguatan pemahaman konseptual, serta partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Media smartboard memungkinkan integrasi teks, gambar, video, dan studi kasus kontekstual yang membantu peserta didik mengaitkan konsep istihsan, mashlahah mursalah, dan ‘urf dengan realitas sosial dan problem aktual. Selain itu, smartboard mendukung pembelajaran kolaboratif, diskusi kritis, serta pengembangan kemampuan berpikir reflektif dan analitis. Meskipun demikian, efektivitas penggunaannya sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru, kompetensi pedagogik, serta dukungan sarana dan prasarana madrasah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa smartboard berpotensi menjadi media pembelajaran strategis dalam penguatan pembelajaran ushul fiqh di Madrasah Aliyah apabila diimplementasikan secara terencana dan berkelanjutan.
Pembelajaran Fiqih tentang Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad: Analisis Model, Metode, Strategi, Media, dan Evaluasi dalam Pembelajaran Arbi Salam Ahmad; Khadijah Khadijah; Widya Sari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5060

Abstract

Pembelajaran fiqih memiliki posisi strategis dalam membentuk kemampuan peserta didik memahami sumber hukum Islam, khususnya Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad, namun praktik di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih cenderung bersifat tekstual dan berpusat pada guru sehingga belum optimal mengembangkan penalaran hukum, kemampuan analisis dalil, serta keterampilan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis model, metode, strategi, media, dan evaluasi pembelajaran yang relevan dengan karakter materi fiqih melalui studi pustaka terhadap buku fiqih, literatur metodologi pengajaran, jurnal pendidikan Islam, serta penelitian-penelitian terkini mengenai inovasi pedagogis. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-kritis untuk memetakan kesesuaian perangkat pembelajaran dengan karakter materi fiqih yang bersifat normatif, daliliah, dan argumentatif, namun tetap menuntut pemahaman kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa model pembelajaran seperti inquiry, problem based learning, dan cooperative learning efektif digunakan karena memberi ruang bagi eksplorasi dalil, argumentasi hukum, dan diskusi kolaboratif. Metode pembelajaran berupa studi kasus, diskusi, tanya jawab, dan analisis ayat-hadis lebih mampu menumbuhkan pemahaman mendalam dibanding ceramah konvensional. Media digital seperti infografis, video syarah hadis, dan aplikasi Qur’an–Hadis mempermudah visualisasi struktur hukum Islam. Evaluasi autentik seperti portofolio, studi kasus, dan proyek dinilai lebih representatif menggambarkan kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep fiqih. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran fiqih perlu dirancang secara integratif, kontekstual, dan dialogis agar mampu memperkuat literasi Qur’ani, Hadisi, serta kompetensi ijtihad dasar pada peserta didik, sekaligus meningkatkan relevansi pembelajaran terhadap kebutuhan zaman.
PEMANFAATAN MEDIA WORDWALL PADA PEMBELAJARAN FIQIH MATERI UMRAH Tiara Salsabila; Khadijah; Widya Sari
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Process
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.10056

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pemanfaatan media wordwall dalam pembelajaran fiqih pada materi umrah melalui pendekatan literatur review. Metode penelitian yang diterapkan dalam studi ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yang dilakukan melalui penelaahan berbagai sumber literatur, seperti buku ajar fiqih, artikel jurnal ilmiah, prosiding, skripsi, serta publikasi daring yang mengkaji penggunaan media pembelajaran digital yang sesuai dengan fokus penelitian. Penelitian ini menganalisis pemanfaatan media wordwall dalam pembelajaran, karakteristiknya, pengaruhnya dalam meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan, pemahaman konsep dan hasil belajar peserta didik, dampak penggunaannya dan implikasinya dalam pembelajaran fiqih materi umrah. Hasil kajian membuktikan bahwa pemanfaatan media wordwall mampu menumbuhkan motivasi belajar serta partisipasi aktif peserta didik, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman konsep fiqih, khususnya pada materi umroh melalui penyajian materi yang interaktif dan menarik. Selain itu, Wordwall memudahkan peserta didik dalam memahami konsep materi melalui aktivitas kuis dan latihan yang disertai umpan balik langsung. Dengan demikian, media wordwall dapat menjadi alternatif media pembelajaran digital yang relevan dan aplikatif dalam pembelajaran fiqih materi umrah, dan dapat memberikan rekomendasi bagi akademisi seperti pendidik dalam memanfaatkan teknologi ini secara optimal.
Konsep Pernikahan dalam Perspektif Feminisme dan Hukum Islam Widya Sari; Muhammad Arif
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol. 1 No. 1 (2023): USRATY : Journal of Islamic Family Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v1i1.6532

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep pernikahan dalam perspektif feminisme dan hukum perkawinan Islam. Ini adalah kajian kepustakaan (library research) Metode analisis data yang digunakan adalah content analysis. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam wacana feminisme, terjadi pro-kontra  tentang  institusi lembaga perkawinan. Kaum feminis ada yang menolak mentah-mentah institusi perkawinan dan ada kubu yang pro. Kubu yang pro umumnya berasal dari kubu psikoanalisis dan postmodernis yang tidak melarang perempuan menjatuhkan pilihan bebasnya untuk menikah, namun bermaksud untuk mendefinisikan ulang makna perkawinan bagi perempuan dan laki-laki secara setara. Pernikahan dalam hukum perkawinan Islam menggambarkan bahwa keluarga adalah fondasi inti pembangunan masyarakat yang ditegakkan di atas dasar fitrah serta sistem yang kukuh. Keluarga merupakan kebutuhan vital bagi individu dan anggota masyarakat. Membinasakan keluarga  berarti menentang hukum alam dalam kehidupan sosial.This paper aims to examine the concept of marriage in the perspective of feminism and Islamic marriage law. This is a literature review (library research). The data analysis method used is content analysis. The findings of this study reveal that in the discourse of feminism, there are pros and cons regarding the institution of marriage. There are feminists who reject the institution of marriage outright and there are those who are pro. The pro camp generally comes from the psychoanalytic and postmodernist camps which do not prohibit women from making their free choice to marry, but intend to redefine the meaning of marriage for women and men equally.Marriage in Islamic marriage law illustrates that the family is the core foundation of community development which is upheld on the basis of nature and a strong system. Family is a vital need for individuals and members of society. Annihilating the family means going against the laws of nature in social life.
Kontroversi Hukum Bunga Bank: Analisis Fatwa Ulama dalam Ekonomi Islam Tomi Satria; Khadijah; Widya Sari
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 6 No. 1: Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v6i1.8836

Abstract

Banking plays a strategic role as an intermediary institution in the economic system, particularly in mobilizing and distributing public funds. However, the implementation of an Interest-based system in conventional banking raises serious concems from the perspective of Islamic economics, as interest is considered to share substantial similarities with riba, which is explicitly prohibited in the Qur'an and Hadith. Differences of opinion among scholars, along with the dominance of conventional banking practices, make bank interest a persistent and widely debated contemporary issue. This study aims to analyze the concept of banking and bank interest from the perspective of Islamic economics and to examine scholarly views and fatwas regarding the legal status of bank Interest. Specifically, it focuses on identifying differences in emphasis among scholarly fatwas and contributes conceptually to contemporary Islamic economic discourse by clarifying the relationship between Sharia principles and modern banking practices. The research employs a qualitative method using a library research approach, drawing on data from the Qur'an, Hadith, classical and contemporary Qur'anic exegesis, fatwas issued by the Indonesian Council of Ulama, Nahdlatul Ulama, and the Muhammadiyah Tarjih Council, as well as relevant Islamic economics literature. The findings indicate that bank interest in conventional banking meets the criteria of riba al-nasiah, which is prohibited in Islam. Islamic banking emerges as an alternative that emphasizes profit-and-loss sharing, justice, and partnership. This study concludes that Islamic banking offers a financial system more consistent with Islamic law and oriented toward public welfare.
Analisis Hukum Islam: Keabsahan E-Commerce dan Hak Perlindungan Konsumen Wiji Fitri Yanti; Widya Sari; Misra Misra
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ws8nqx80

Abstract

A trade activity through internet media is called as electronic commerce (e-commerce). Consumers who transact through the internet tend to cause losses caused by business actors. The e-commerce transaction process starts from promotional and marketing issues to selling, payment and contract making issues. The purpose of this study is to examine the law of protection for consumers in e-commerce transactions according to the Islamic view. The research method used in this study is a qualitative method with the data collection technique used is a literature study, namely a literature study with data sources from several book references and internet media related to the specific problems of this study. The results of this study show that business transactions through e-commerce are a new alternative in doing business in today's era. The transaction process through e-commerce according to Islam is declared valid if aspects of consumer protection can be guaranteed and proven in accordance with the rules that have been determined by the syara' and as long as they are not prohibited by sharia or contrary to the postulates
Konsep Maqāṣid Syarī'ah dan Implementasinya Pada Organisasi Islam di Indonesia: Studi Komparatif Wina Susanti; Widya Sari; Misra Misra
Jurnal Ilmiah Literasi Indonesia Vol. 2 No. 2 (2026): JULI-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/1exq4y31

Abstract

Penelitian ini membedah secara komprehensif konsep maqāṣid syarī'ah, landasan teologis-yuridis, aspek hierarkis, serta operasionalisasi al-Darūriyyāt al-khams. Melalui studi komparatif, akurasi analisis diarahkan pada diskrepansi orientasi aplikatif Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Konstruksi maqāṣid tersebut diuji efektivitasnya dalam merespons dua isu krusial kontemporer (2025–2026): dinamika kebijakan fiskal terhadap komoditas hajat hidup publik dan diskursus otoritas kecerdasan buatan (AI) dalam produksi fatwa. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan metode studi kepustakaan, analisis didasarkan pada dokumen primer, manuskrip fatwa, dan literatur bereputasi. Temuan penelitian menunjukkan adanya konvergensi substansial ketiga institusi dalam mengadopsi maqāṣid sebagai kerangka ijtihad, namun memiliki divergensi metodologis yang kontras. NU mengartikulasikan pendekatan implisit-substantif berbasis tradisi mazhab; Muhammadiyah meniscayakan corak eksplisit-progresif; sementara MUI menerapkan sintesis integratif-aplikatif. Tatkala dihadapkan pada polemik pengenaan fiskal sembako/hunian (2026) dan disrupsi teknologi AI, konsistensi epistemologis ketiga lembaga tetap rigid, sekaligus menyingkap limitasi adaptif masing-masing terhadap akselerasi zaman. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis pada peta komparasi metodologi hukum Islam di Indonesia serta memperluas jangkauan aksiologis maqāṣid klasik ke ranah problematika modern yang belum terjamah literatur konvensional.
Nikah Mut'ah dalam Perspektif Ulama dan Hukum Positif Indonesia Ilham Akbar Maulana; Widya Sari; Misra Misra
Jurnal Teologi Islam Vol. 2 No. 2 (2026): JUNI-NOVEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rfafvz53

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis praktik nikah mut’ah sebagai bentuk pernikahan kontrak yang masih menjadi perdebatan dalam Islam, serta menilai kedudukannya dalam sistem hukum positif Indonesia. Kajian dilakukan dengan metode kualitatif berbasis studi literatur, menelaah sumber klasik fikih, hadis, serta regulasi hukum nasional. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pandangan ulama: mayoritas Ahlus Sunnah mengharamkan mut’ah dengan dasar hadis dan maqashid syariah, sementara kalangan Syiah masih membolehkannya dengan merujuk pada riwayat sahabat dan pendapat Imam Ahlul-Bait. Dari sisi hukum positif, nikah mut’ah tidak diakui dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam (KHI), karena tidak memenuhi unsur kekal dan tujuan membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah. Praktik ini juga dianggap bertentangan dengan asas ketertiban umum dan moralitas sosial. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa nikah mut’ah tidak sah baik menurut hukum Islam mayoritas maupun hukum positif Indonesia, serta menimbulkan implikasi sosial yang merugikan perempuan, anak, dan masyarakat.
The Effectiveness of the Problem-Based Learning Model in Contemporary Fiqh Learning on the Topic of Marriage Contracts at Madrasah Aliyah Negeri 1 Padang Rina Windari Lubis; Khadijah; Widya Sari
Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/permata.v7i1.3858

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of the Problem Based Learning (PBL) model in teaching contemporary Fiqh, particularly the topic of contract marriage, at Madrasah Aliyah Negeri 1 Padang through a library research approach. PBL is viewed as a learning model that encourages students to think critically, independently, and analytically in understanding modern fiqh issues that are problematic and controversial in nature. The topic of contract marriage was selected because it constitutes an important part of contemporary fiqh studies, requiring an in-depth understanding of religious evidence, social context, and differences in opinion among classical and modern Islamic scholars. This research employs various literature sources, including books, academic journals, previous research findings, and curriculum documents relevant to Fiqh instruction in madrasahs. The results of the analysis indicate that PBL is effective in contemporary Fiqh learning, as it is able to integrate real-life problems as triggers for discussion, enhance higher-order thinking skills, and habituate students to engage with current issues in a scientific and analytical manner. In the context of contract marriage material, PBL assists students in understanding legal, social, and ethical aspects through processes of investigation, information gathering, and evidence-based argumentation. Furthermore, PBL aligns with the characteristics of the Merdeka Curriculum and the demands of 21st-century learning, which emphasize collaboration, problem-solving skills, and digital literacy. Therefore, based on the literature review, the PBL model can be considered relevant and effective in improving the quality of contemporary Fiqh learning at Madrasah Aliyah Negeri 1 Padang, particularly for topics that require critical reasoning such as contract marriage.