Moh. Azwar Anas
Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Komunikasi Tokoh Agama dalam Membina Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Moh. Azwar Anas; Ainur Rofiq
Busyro: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 (2021): November : Busyro : Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam
Publisher : Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/kpi.v3i1.230

Abstract

Secara umum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini kaya akan keaneka ragaman budaya, suku, ras dan agama. Di Indonesia sendiri agama yang diakui ada 6 yaitu islam, kristen,katolik, hindu, budha, dan konghucu mereka semua hidup saling berdampingan di Indonesia ini. Dalam rangka menjaga kerukunan umat beragama, sudah banyak cara yang diterapkan oleh pemerintah, maupun tokoh agama. Namun kenyataannya memang kasus antar agama juga banyak di Indonesia. Di desa balun kecamatan turi kabupaten lamongan terdapat 3 agama yaitu, agama islam, kristen, dan hindu. Ketiga agama tersebut hidup berdampingan dengan tetap menjaga erat rasa toleransi antar umat agamanya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yaitu penelitian dengan data yang diperoleh dari kegiatan lapangan. Lokasi penelitian dilakukan di desa balun kecamatan turi kabupaten lamongan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif, peneliti mengumpulkan dan menganalisis data dari hasil wawancara, observasi serta dokumentasi terhadap tokoh agama di desa Balun kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Komunikasi yang dijalin oleh tokoh agama kepada umatnya untuk kerukunan antar umat beragama adalah dengan cara bertemu secara langsung dengan umatnya untuk tetap menjaga kerukunan kapanpun dan dimanapun mereka berada. (2) faktor pendukung dari tokoh agama di desa balun adalah dukungan dari pemerintah desa dan kondisi masyarakat yang sudah terbiasa dengan hal tersebut.faktor penghambatnya adalah pada saat pandemi sepertini interaksi antar umat beragam jarang terjadi. Jadi ditakutkan nantinya ada gesekan antar umat beragama.