This Author published in this journals
All Journal JPLED
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mengembangkan Model Pembelajaran Inovatif dan Interaktif di Sekolah Dasar Maria Dona Febriana
Journal of Practice Learning and Educational Development Vol. 2 No. 4 (2022): Journal of Practice Learning and Educational Development (JPLED)
Publisher : Global Action and Education for Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.852 KB) | DOI: 10.58737/jpled.v2i4.70

Abstract

Pada hakikatnya guru merupakan tenaga kependidikan yang memiliki tanggung jawab kemanusiaan, khususnya berkaitan dengan pembelajaaran terhadap generasi penerus bangsa menuju gerbang pencerahan dalam melepaskan diri dari belenggu kebodohan.Tanggungjawab yang demikian besar diharapkan guru yang memiliki profesionalitas yang tinggi dalam dalaam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Melalui kompetensi yang profesional guru mampu mewujudkan strategi pembelajaran yang inovatif dan kreatif agar pembelajaran mudah disampaikan; pembelajaran dapat dipahami; dan lebih bermakna bagi siswa. Pada uraian berikut dipaparkan mengenai (1) kontruktivisme sebagai landasan pembelajaran inovatif dan interaktif; (2) tantangan dan harapan guru dalam menghadapi mengembangkan pembelajaran inovatif dan interaktif; (3) harapan guru dalam mengembaangkan pembelajaran inovatif dan interaktif; dan (4) prinsip mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan interaktif.
Pendidikan Hak Azazi Manusia (HAM) Padangan dan Tinjauan Umum Maria Dona Febriana
Journal of Practice Learning and Educational Development Vol. 2 No. 4 (2022): Journal of Practice Learning and Educational Development (JPLED)
Publisher : Global Action and Education for Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.868 KB) | DOI: 10.58737/jpled.v2i4.71

Abstract

Sejak kapan manusia menyadari akan hak asasinya? Sebenarnya sejak hak asasi manusia sama tuanya dengan sejarah umat manusia. Kesadaran manusia terhadap hak asasi berasal dari keinsyafannya terhadap harga diri, harkat, dan martabat manusia. Jadi, sesungguhnya hak-hak kemanusian ini sudah ada sejak manusia ada di dunia ini. Dengan begitu hak-hak asasi manusia bukan merupakan hal yang baru.Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari sering terjadi perbuatan yang tidak menghormati hak asasi manusia. Oleh karena itu perlu diperjuangkan pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sesungguhnya upaya untuk meperjuangkan pengakuan dan perlindungan HAM telah ada sejak zaman dahulu.
Implementasi Nilai Pendidikan Antikorupsi Tanggungjawab Jujur dan Disiplin Maria Dona Febriana
Journal of Practice Learning and Educational Development Vol. 1 No. 4 (2021): Journal of Practice Learning and Educational Development (JPLED)
Publisher : Global Action and Education for Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.193 KB) | DOI: 10.58737/jpled.v1i4.23

Abstract

Dewasa ini Indonesia tengah dihadapkan pada posisi dilematis seputar permasalahan moral yang tidak kunjung sirna, yaitu korupsi. Hal ini perlu diatasi secara tepat sebagai wujud kesadaran kita sebagai masyarakat yang masih rindu akan kemakmuran bangsa. Lembaga pendidikan menjadi salah satu wahana strategis dalam rangka menyuarakan kebaikan serta membekali generasi muda untuk perilaku anti korupsi. Pembiasaan sikap ini sangat efektif dan relevan untuk dapat menghindari perilaku korupsi. Salah satu upaya untuk membiasakan sikap tersebut adalah dengan mengadakan Pos Kehilangan dan Benda Tak Bertuan. Pos ini berfungsi sebagai tempat penampungan benda-benda yang ditemukan oleh setiap warga sekolah, baik yang ada pemiliknya maupun tidak ada pemiliknya. Kegiatan pembiasaan budaya baris-berbaris dilakukan di waktu pagi hari secara serentak yaitu ketika sebelum memasuki kelas mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Baris-berbaris dilakukan secara serentak, setiap bel berbunyi siswa langsung menempatkan diri untuk berbaris di depan kelas, setelah itu menunggu gilirannya tanpa mendahului teman yang ada didepan, kegiatan itu dilakukan secara kesadaran diri tanpa harus guru menyuruh siswanya untuk berbaris.