ST. Junaeda
Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PPRS Dan Gagasan Kebangsaan Di Sulawesi Selatan Awal Abad Ke-20 ST. Junaeda
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2023): April, Social and Religious Aspect in History, Economic Science and Law
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i2.24918

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui (1) kondisi pendidikan pada  masyarakat bumiputera di Sulawesi Selatan pada paruh pertama abad 20; (2) Peran Nadjamoeddin Daeng Malewa dalam memajukan pendidikan di Sulawesi Selatan, (3) program yang dilaksanakan oleh PPRS . Metode yang digunakan adalah metode sejarah. Data diperoleh dari sumber-sumber Koran maupun beberapa referensi lain. Koran-koran yang digunakan dalam tulisan ini terbit pada tahun 1930-an. Koran tersebut adalah Soelawesi, Barisan Kita, Soeara Parindra dan Suara Perdamaian. Selain menggunakan Koran, juga menggunakan sumber sekunder berupa hasil-hasil penelitian relevan sebelumnya. Tahapan berikutnya adalah melakukan kritik dengan membandingkan sumber lain yang sejaman, kemudian menganalisis dan tahapan terakhir adalah historiografi. Hasil penelitian menunjukkan (1) Pada  awal abad 20, kondisi pendidikan bumiputera di Sulawesi Selatan sangat  rendah dibandingkan daerah lain di Hindia Belanda. Tingginya angka buta aksara menjadi salah satu indikatornya. Jumlah sekolah formal yang dibuka oleh pemerintah Kolonial Belanda tidak mampu menampung semua calon siswa. (2) Nadjamoeddin Daeng Malewa adalah seorang tokoh yang sering dihadirkan sebagai seorang kolaborator Belanda dalam historiografi Indonesia khususnya Sulawesi Selatan. Sedikit bahkan belum ada tulisan yang fokus pada peran Nadjamoeddin dalam memajukan dunia pendidikan bumiputera.  Nadjamoeddin dan sejumlah tokoh lainnya (PPRS) bahkan juga membuka sekolah khusus perempuan yang di namai daeng Talele School, (3) PPRS membuka tiga jenis sekolah pagi yaitu Perguruan Rendah yakni sekolah kelas II ditambah materi Bahasa Belanda dan boekouden, Pergoeroean Rendah Penambah (PRP) atau sama dengan Schakelschool ditambah materi bahasa Inggris dan boukhouden, dan Pergoeroean Rendah Oemoem (PRO) atau sama dengan HIS ditambah materi bahasa Inggris dan bookhouden. Untuk kelas petang dibuka Taman Pendidik Pengajar Pembantu atau Normaalcuursus yang ditempuh selama dua tahun, dan beberapa kursus singkat seperti Bahasa Belanda, bahasa Inggris, kursus dagang, kursus stenografie, dan Cuursus Algameene Ontwikkeling (Pengetahuan Umum).
Sistem Pengetahuan Nelayan Patorani Di Galesong Takalar ST. Junaeda
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2023): April, Social and Religious Aspect in History, Economic Science and Law
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i2.25000

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) asal dari sistem pengetahuan yang dimiliki oleh nelayan patorani tentang pelayaran maupun tentang pencarian ikan, (2) jenis-jenis pengetahuan yang dimiliki oleh nelayan di Galessong Takalar. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk  menggambarkan sebuah realitas sosial maupun tentang perilaku individu dan kelompok. Gambaran yang dihadirkan semaksimal mungkin adalah representasi dari realitas sosial yang sebenarnya. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap sejumlah informan di lokasi penelitian. selain melakukan wawancara, juga dilakukan pengamatan langsung. Pengamatan ini dilakukan sebagai sebuah metode pengumpulan data yang akan saling melengkapi dengan data yang diperoleh dari wawancara. Pengamatan dilakukan terhadap perilaku keseharian dari punggawa maupun sawi ketika sedang berada di daratan. Idealnya pengamatan ini juga dilakukan untuk melihat aktifitas dan perilaku nelayan ketika sedang mencari ikan atau telur ikan, tetapi karena keterbatasan akses, tidak bisa dilakukan. Dokumen juga menjadi salah satu data yang mampu menghadirkan gambaran tentang masyarakat maupun geografis daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa sumber pengetahuan nelayan patorani lebih banyak mereka peroleh dari orang tua, kakek atau leluhur mereka. pengetahuan ini berasal dari pengalaman merka dan berdasar dari kebiasaan-kebiasaan mereka ketika mereka mencari ika, sehingga pada konteks tertentu pengetahun ini sulit diuji secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran. Terkait dengan jenis pengetahuan, pada dasarnya ada tiga jenis pengetahuan yaitu pengetahuan tentang penentuan hari baik, pengetahuan tentang lokasi keberadaan ikan torani, dan pengetahuan tentang tanda-tanda alam.
Passapu: Makna dan Identitas Laki-Laki Suku Kajang Mrs. Isfawani; St. Junaeda; Dimas Ario Sumilih
Jurnal Kajian Sosial dan Budaya: Tebar Science Vol 6 No 2 (2022): TEBAR SCIENCE: JURNAL KAJIAN SOSIAL & BUDAYA
Publisher : Rayhan Intermedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find out about Passapu as the identity of Kajang Tribe men and the meaning of using Passapu for Kajang Tribe men. This study uses qualitative data. The informants were selected through the Kajang Tribe traditional holders, Kajang Tribe men who use passapu in their daily life and the Kajang Tribe community who know about passapu. Data was collected by means of observation, interviews and documentation. The results of the study show: 1) Passapu is the identity of the completeness of the traditional clothing of the Kajang Tribe. The traditional clothing of the Kajang Tribe for men is a shirt in the form of a black shirt, black or white shorts, black sarong and a passapu or headband. The hallmark of the clothing worn by men of the Kajang tribe lies in the headgear (passapu). Self-identity that people who can use passapu are Kajang tribe men who have grown up and know their spouses. 2) The meaning of using passapu for men from the Kajang tribe has a symbol of honesty and maturity. The symbol of honesty and maturity has the meaning of how we are able to control our thoughts to do good or evil in accordance with the life guidelines of the pairs of ri kajang. It has meaning in each element in the passapu, and has several functions, namely practical functions, aesthetic functions, and symbolic and philosophical functions.
Budaya dan Spirit Ekonomi: Studi Etos Kerja Masyarakat Toraja di Kecamatan Biring Kanaya Kota Makassar Anastasia Nely Balaba; Mr. Najamuddin; St. Junaeda
Jurnal Kajian Sosial dan Budaya: Tebar Science Vol 6 No 2 (2022): TEBAR SCIENCE: JURNAL KAJIAN SOSIAL & BUDAYA
Publisher : Rayhan Intermedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the existence of Toraja culture in the Toraja overseas community and the impact of Toraja culture on the economic spirit and work ethic of the Toraja people in Biring Kanaya District. Finding out and answering: 1) Cultural spirit in building the work ethic of the Toraja people in Biring Kanaya District; 2) The economic spirit of the Toraja people in Biringkanaya District; and 3) The impact of Toraja culture on the economic spirit and work ethic of the Toraja people in Biring Kanaya District. This research is descriptive qualitative. The selected informants are indigenous Toraja residents who are currently living in Biring Kanaya District, Makassar City. Researchers collect data through interviews and documentation. The results of the study show that the work ethic of the Toraja people, which is based on the desire to perform and participate in the Solo Rambu Ceremony, gives the view that work is able to provide encouragement in shaping a quality life and forming a work ethic. The motivation of the Toraja people in forming an economic spirit is the existence of the Solo Sign Ceremony which in its implementation requires a large enough cost so that the Toraja people try to find jobs that can improve their economy. Education is the driving force for the Toraja people to migrate. The resulting impact is to make culture an excuse to work hard, which then becomes the economic spirit of the overseas community, and forms a good work ethic.