Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hajj: Between Thirst of Spirituality, Symbolic Capital and Fetishism in the Sasak’s Lombok Abdul Rahim
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v7i2.22268

Abstract

Nowadays hajj become a social class in Sasak society, with the symbolic capital attached to it making the title holder also try to construct a strategy about distinguishing itself (distinction) through costumes, daily attitudes, and what they consumed. This paper explores the correlation between the hajj title and the symbolic capital that they achieve for being a pilgrimage to Mecca, and how the role of hajj in Sasak people to strengthen ummah is compared to the common people that legitimate the new social class as different as them in the community. The genealogy of hajj titles that make up social class is studied through Pierre Bourdieu's concept of Social Praxis related to symbolic capital and distinction. This study used a new ethnography concept from Paula Saukko such as self-reflexivity, polivocality, and between self and others to explore the data. As a result, the hajj title becomes the identity as well as the legitimacy of the position of the Hajj subject in society. Even in some areas of Lombok, the title of hajj is an effort to move away from the low social class and can be equivalent to the social class of nobility. The critic of the study of hajj and umra cannot ignore the commercialisation of hajj or umra travel, which further emphasises the commodification of religion and also increasingly envelops the people in a pseudo-consciousness.
Masifikasi Wacana Syariah Sebagai Identitas Ke-Islaman: Wacana Syariah, Dominasi, Identitas, konsumerisme Abdul Rahim
Politea : Jurnal Politik Islam Vol. 2 No. 1 (2019): Politik Islam dan Dinamika Pemerintahan di Indonesia
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.085 KB) | DOI: 10.20414/politea.v2i1.1343

Abstract

Tulisan ini mencoba menguraikan wacana syariah yang digaungkan oleh Dewan Syariah Nasional sebagai solusi ideal dalam produk/program yang sesuai dalam hukum Islam, akan tetapi pada praktiknya justru menjadi selubung dominasi yang diterima oleh masyarakat muslim sebagai sesuatu yang taken for granted. Wacana syariah sekedar menjadi identitas atas produk/program yang dilegitimasi oleh pemilik kuasa. Praktik wacana syariah yang menciptakan kapitalisme baru terjadi pada Bank syariah, BPJS syariah, dan Koperasi Syariah. Relasi kuasa dari Dewan Syariah Nasional yang menjejalkan wacana syariah sebagai konsep yang ideal, dibaliknya terdapat kepentingan kapitalis yang berjejaring dengan produk/program Non-syariah (konvensional). Melalui kuasa DSN sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, masyarakat muslim sebagai sasaran mulai terhegemoni atas wacana syariah tersebut, sebab kultus kepada DSN yang merepresentasikan pihak intelektual dalam hukum Islam. Sementara praktik konsumtif dalam wacana syariah tersebut terlihat pada konsep wisata syariah, hotel syariah, dan hijab syar'i. Hijab syar'i yang menjadikan produk fashion menjadi booming, semakin mendukung eksistensi kapitalisme dalam memediasi kebutuhan ekspresif perempuan muslim akan identitas kesalihan, kecantikan dan ke-feminim-an. Hijab syar'i yang menjadi andalan kapitalisme dalam produk fashion yang menyasar masyarakat muslim, membentuk konsumerisme yang berlebihan dalam berhias (tabarruj) dari pada kesederhanaan yang diidealkan dalam syariat Islam. Praktik syariah yang ideal dan sesuai dengan hukum Islam dalam hal ekonomi bisa digaungkan kembali melalui maksimalnya tata kelola BaitulMal sebagai wadah akomodatif untuk ZakatMal, Infaq, wakaf dan lainnya. Sehingga syariah bukan lagi sekedar identitas dan praktik industri budaya islami, namun sesuai dengan hukum Islamyang semestinya.