Tasya Suci Januri
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CYBER SEXUAL HARRASMENT DI MEDIA SOSIAL SEBAGAI BENTUK PENYIMPANGAN SOSIAL DI ERA DIGITAL Tasya Suci Januri
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol 10, No 1 (2023): Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/sosial.v10i1.4970

Abstract

AbstrakBerkembangnya teknologi membawa dampak positif dan negatif, positifnya tentu memudahkan individu dalam berkomunikasi, mengakses internet dan lain sebagainya. Sedangkan negatifnya teknologi ini membawa permasalahan baru, seperti salah satunya kejahatan di media sosial berupa pelecehan seksual atau cyber sexual harrasment. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji bentuk-bentuk perilaku cyber sexual harassment, faktor penyebab seseorang melakukan pelecehan seksual di dunia maya, analisis cyber sexual harrasment tergolong penyimpangan, dan upaya untuk menanggulangi persoalan tersebut. Adapun hasil dari penelitian ini didapati bahwa bentuk-bentuk cyber sexual harassment di antaranya yaitu sexting (Sex and Texting), non-consensual dissemination of intimate images (NCII) dan aktivitas spamming yang menghadirkan komentar-komentar tidak pantas di media sosial. Faktor penyebab cyber sexual harassment diantaranya karena ketidaktahuan pelaku mengenai apa yang ia perbuat yang tergolong pada tindak pelecehan seksual, kemudian kurang mampunya pengendalian diri dari pelaku. Adapun upaya untuk menanggulanginya ialah dengan pencegahan berupa sosialisasi, pengawasan dan pemberian sanksi. Kata Kunci: cyber sexual harrasment, penyimpangan, media sosial.  AbstractThe development of technology has positive and negative effects, the positive surely makes it easier for individuals to communicate, access the Internet, and so on. The downside of the technology brings new massages, such as one of the social media crimes of sexual or cyber sexual harrasment. The study aims to find out and examine forms of cybersexual behavior, causes of sexual abuse in cyberspace, cyberanalyses of harrasment are deviant, and attempts to address the problem. As for the results of the study, such sexual forms as sexting (sex and texting), non-consensual coordination of images (ncii) and spamming activities that present inappropriate comments on social media. Some of the factor causes of cybersexuality are due to the perpetrator's ignorance of what he or she does to sexually abuse, and then the lack of self-control from the perpetrator. As for efforts to address it are prevention of socialization, supervision and sanctions. Keywords: pelecehan seksual dunia maya, penyimpangan, media sosial
Tipologi Tripolar Sebagai Resolusi Konflik Keagamaan Di Indonesia Tasya Suci Januri
Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol 20 No 1 (2023): Jurnal Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/al-mutharahah.v20i1.462

Abstract

Indonesia sebagai negara plural masih belum bisa meredam terjadinya konflik-konflik agama yang terjadi akibat perbedaan pandangan atau pemahaman mengenai keyakinan, hingga kemudian menimbulkan konflik, baik konflik kecil maupun konflik besar yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian. Minimnya toleransi serta tingginya fanatisme masyarakat membuat konflik sulit dihindarkan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pemanfaatan sikap teologi beragama yang diusung Alan Race yaitu tipologi tripolar dalam penyelesaian konflik agama di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode systematic literature review dan teknik pengumpulan data studi literatur. Setelah membaca dari referensi-referensi yang ditemukan serta melakukan analisis terkait penelitian yang dilakukan, peneliti mendapati bahwa tipologi tripolar yang diusung Alan Race yaitu inklusivisme dan pluralisme dapat menjadi suatu jalan membangun sikap toleransi antar umat beragama. Karena paham atau pendekatan inklusivisme dan pluralisme dapat membuat setiap pemeluk agama memahami dengan bijak perbedaan setiap agama, sehingga tidak menimbulkan prasangka yang dapat melahirkan konflik. Adanya penerapan paham inklusivisme dan pluralisme justru dapat mendatangkan hubungan yang harmonis diantara umat beragama karena adanya keterbukaan dan rasa saling menghargai ajaran agama masing-masing.