ABSTRAK: Tradisi weh-wehan masih relevan dilakukan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW di Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah. Adat keagamaan tersebut dilaksanakan dengan membagikan makanan ataupun benda kepada para tetangga dan sanak saudara sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Tuhan. Weh-wehan menjadi penting di masyarakat Kaliwungu karena selain sebagai implementasi wujud rasa syukur, juga sebagai sebuah identitas khas Kaliwungu yang penting untuk dilestarikan. Sayangnya masyarakat sekarang ini telah acuh dalam pelaksanaan budaya weh-wehan ini, kurangnya partisipasi anak muda menjadikan acara weh-wehan ini menjadi tidak seramai dahulu. Kurangnya partisipasi tersebut menjadi masalah yang ada di Kaliwungu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lebih jauh nilai yang terkandung dalam tradisi weh-wehan dan untuk mengetahui urgensi tradisi weh-wehan di Kaliwungu, Kendal. Dengan menggunakan pendekatan naratif deskriptif dalam prespektif Max Scheler, data diambil dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih relevannya nilai yang digagas oleh Scheler dalam tradisi weh-wehan. Nilai kesenangan, nilai vitali, nilai kerohanian, dan nilai kesucian. Dalam tradisi weh-wehan setiap elemen yang ada di Kaliwungu turut serta dalam tradisi tersebut, sehingga menciptakan hubungan yang rukun. Adapun urgensi pelaksanaan tradisi weh-wehan antara lain: sebagai media untuk bersilahturahmi, sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan juga sebagai pemahaman makna filosofis weh-wehan.Kata Kunci: Hirarki nilai, Maulid Nabi, Berbagi makanan, Sumpil, Ketuwinan. ABSTRACT: In Kaliwungu, Kendal, Central Java, the weh-wehan ritual is still used to honor the Prophet Muhammad SAW's birthday. As a show of gratitude for God's blessings, this religious custom entails giving food or objects to neighbors and family. Weh-wehan is significant in the Kaliwungu community because, in addition to being a manifestation of gratitude, it also represents a unique Kaliwungu identity that must be preserved. Unfortunately, today's society is uninterested in implementing this weh-wehan culture, and the lack of young people's participation makes this weh-wehan event less packed than it once was. In Kaliwungu, this lack of participation is a concern. The goal of this research is to learn more about the ideals embodied in the weh-wehan tradition and to determine the importance of the tradition in Kaliwungu, Kendal. The data was gathered utilizing interview and observation techniques and a descriptive narrative approach in the perspective of Max Scheler. The findings of this study show that Scheler's values are still important in the weh-wehan tradition. The worth of pleasure, vitality, spirituality, and holiness are all important factors to consider. Every element of Kaliwungu participates in the weh-wehan tradition, which creates a harmonious interaction. In terms of the importance of adopting the weh-wehan tradition, it serves as a vehicle for friendship, among other things; as a means of becoming closer to God; as well as a philosophical understanding of the meaning of weh-wehan.Keyword: Value hierarchy, Maulid Nabi, Foods giving, Sumpil, Ketuwinan.