p-Index From 2021 - 2026
0.659
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Arsitektur
Yovita Adriani
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

POLA TATA RUANG PADA BANGUNAN KLENTENG TALANG azmi zaehap; Yovita Adriani
Jurnal Arsitektur Vol. 15 No. 1 (2023): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1983.166 KB) | DOI: 10.59970/jas.v15i1.47

Abstract

Bangunan klenteng merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadat bangsa Cina dengan bentuk khas arsitektur Cina. dalam menambah perbendaharaan arsitektur Cina di Indonesia. Hampir disetiap kota besar di Indonesia berdiri bangunan klenteng, biasanya terletak pada tempat-tempat yang strategis. Di Kota Cirebon sendiri ada terdapat beberapa klenteng, namun pada pembahasan ini akan digunakan Klenteng Talang. Bangsa Cina yang mempunyai kebudayaan tinggi terungkap pada berbagai hiasan dan benda-benda didalam bangunan klenteng . Lukisan- lukisan dan hiasan serta tata ruang didalam klenteng, merupakan lambanng - lambang dan simbol dari pandangan hidup masyarakat keturunan China masih tetap dipertahankan sampai sekarang dimana pun bangsa tersebut hidup dan bertempat tinggal.Penelitian ini berusaha untuk mengetahui tentang tata ruang utama yang terdapa pada bangunan klenteng. Diharapkan dengan mengetahui pola tata ruang tersebut dapat memperjelas gambaran mengenai arsitektur klenteng .
RAGAM HIAS ORNAMEN DINDING YANG TERDAPAT DI CANGKUP MAKAM SULTAN SULAIMAN BERADA DI KOMPLEKS ASTANA SUNAN GUNUNG JATI Efendi .; Yovita Adriani
Jurnal Arsitektur Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2036.873 KB) | DOI: 10.59970/jas.v14i2.74

Abstract

Astana Gunung Jati merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari pemakamam sunan, raja-raja keraton Cirebon dan kerabatnya turunan dari sunan Gunung Jati. Keunikan akan kompleks pemakaman di Astana Gunung Jati dilihat dari fisik bangunan yang merupakan peninggalan masa lalu. Terutama pada dindingnya yang banyak dihiasi beragam komposisi elemen berupa hiasan keramik, guci dan ukiran. Keramiknya sendiri merupakan bawaan dari Tiongkok dan juga ada beberapa bagian milik dari bangsa kolonial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai ragam hias ornament pada dinding cangkup makam sultan sulaiman yang berada di komplek makam sunan gunung jati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui sumber tertulis, lisan atau wawancara dan pengamatan di lapangan untuk melakukan observasi langsung. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data. Pada ornament bangunan sultan raja sulaiman keramik memiliki bentukan pola yang menyerupai bentuk bunga Teratai dengan kata lain bahwa ornament ini di bentuk dengan cara Deformasi atau menyederhanakan bentuk menjadi bentuk yang baru bukan hanya bentuk Teratai saja terdapat berbagai macam pola seperti bintang, mahkota, dan bentuk geometris lainnya. Bahwa cangkup makam sultan sulaiman ternyata memiliki ragam hias geometris dan memiliki pola yang simetris.
PERUBAHAN GAYA ARSITEKTUR GEDUNG PERUNDINGAN LINGGARJATI DARI MASA KE MASA Risky Setia Pramudiya; Yovita Adriani
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung Perundingan Linggarjati ini merupakan gedung bersejarah di Inonesia, yang terletak di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus. Gedung Perundingan Linggarjati ini menjadi saksi diadakannnya perundingan antara Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda setelah kemerdekaan. . Tahun 1918 gedung ini hanya sebuah gubuk. Tahun 1921 dirombak dan di jual kepada Van Oos Dome. Tahun 1935 dikontrak oleh van Hetker dan merombaknya lagi menjadi Hotel Rustoord (Rusttour). Tahun 1942 direbut oleh Jepang. Tahun 1945 menjadi markas BKR dan dapur TKR, menjadi Hotel Merdeka. Tahun 1946 sebagai tempat berlangsungnya peristiwa perundingan Linggarjati. Tahun 1950-1975 difungsikan menjadi sekolah Dasar Negeri Linggarjati I. Selanjutnya tahun 1976, diserahkan kepada DepartemenPendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat mengenai Gaya Arsitektur karena perubahan fungsi bangunan dari masa ke masa. Dalam penyusunan jurnal ini saya memakai metode kualitatif yaitu dengan pencarian atau pengumpulan data, wawancara dan dokumentasi. Penyusunanjurnal ini memakai teori Tentang Gaya Arsitektur Rasionalism, dan Teori Handinoto (1993) tentang Gaya Arsitektur Kolonial Modern. Gedung Perundingan Linggarjati sudah mengalami berbagai macam peristiwa, dan juga gedung ini sudah berkali-kali beralih fungsi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan Gaya Arsitektur terhadap perubahan pada arsitektur Gedung Perundingan Linggarjati yang sudah berdiri sejak tahun 1918 sampai dengan sekarang