Fadli Robby Amsriza
Department of Surgery, Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA KESEHATAN HIDUNG Rizka Fakhriani; Fadli Robby Amsriza
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14463

Abstract

Abstrak: Polusi, debu, rokok, virus, dan bakteri adalah beberapa bahaya lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan hidung. Sejak pandemi, cuci hidung menjadi lebih diperhatikan. Cuci hidung adalah prosedur mudah yang dapat dilakukan sehari-hari. Meskipun begitu, di Indonesia, kegiatan cuci hidung masih cenderung awam dan jarang dilakukan. Masyarakat masih banyak yang belum memahami praktik cuci hidung, sehingga perlu dilakukan sosialisasi secara langsung. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberdayakan masyarakat Padukuhan Gejayan dengan tindakan cuci hidung yang dapat mengatasi berbagai masalah hidung seperti alergi, sinusitis, rhinitis dan ISPA. Kegiatan ini diikuti oleh 40 anggota PKK Padukuhan Gejayan dan diselenggarakan dengan metode penyuluhan berupa pemaparan materi dan praktik cuci hidung. Antusiasme masyarakat dan hasil akhir dari pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan dari 8.05 menjadi 9.125.Abstract: Environmental dangers that might harm nasal health are pollution, dust, cigarettes, viruses, and germs. Since the pandemic, nasal irrigation has been given more attention. Nasal irrigation is a simple and easy technique that can be used in daily life. However, in Indonesia, nasal irrigation is rarely practiced. Many people still do not understand the practice of nasal irrigation, so it is necessary to do direct dissemination. The purpose of this program is to empower the community of Padukuhan Gejayan with nasal wash actions that can solve various nasal problems such as allergies, sinusitis, rhinitis and upper respiratory tract infections. This program was attended by 40 members of the PKK Padukuhan Gejayan. It was held with a counseling method through presentation and nasal irrigation practice. This program received a good response from the community, as evidenced by the community's enthusiasm and the final results of the pre-test and post-test, which showed an increase from 8.05 to 9.125.
EDUKASI PERAWATAN LUKA TEKANAN NEGATIF PADA TENAGA KESEHATAN Fadli Robby Amsriza; Rizka Fakhriani
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14461

Abstract

Abstrak: Setiap individu, khususnya tenaga kesehatan perlu menyadari bahwa proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa tahapan yang berbeda, sehingga perlu dilakukan perawatan sesuai dengan kondisi luka. Seiring dengan berjalannya waktu, ada banyak inovasi dalam teknik perawatan luka. Salah satunya adalah teknologi Perawatan Luka Tekanan Negatif (PLTN), atau yang lebih dikenal dengan sebutan Negative Pressure Wound Therapy (NPWT). Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan perhatian terhadap tenaga kesehatan dalam upaya mengembangkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan tenaga kesehatan agar terampil dalam melakukan perawatan luka baik di rumah sakit maupun home care menggunakan teknik perawatan luka tekanan negatif. Kegiatan ini diikuti oleh 36 tenaga kesehatan RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat peningkatan rata-rata nilai pengetahuan pre-test sebesar 6,05, dan post-test sebesar 8.61. Diharapkan melalui adanya kegiatan pemberdayaan ini pengetahuan tenaga kesehatan semakin bertambah dan berkembang sehingga dapat lebih terampil dalam melakukan perawatan luka baik di rumah sakit maupun home care.Abstract: Everyone, especially health workers, must realize that the wound-healing process has several stages. Hence, treatment needs to be carried out according to the wound condition. Over time, there have been many innovations in wound care techniques. One is adverse pressure wound treatment (NPP) technology or negative pressure wound therapy (NPWT). The purpose of this program is to support health workers in an attempt to develop the knowledge, awareness, and ability to be skilled in performing wound care in hospitals and home care using the negative pressure wound care technique. This program was attended by 36 health workers of AMC Hospital Muhammadiyah Yogyakarta. The results obtained were an increase in the average pre-test knowledge score of 6.05 and post-test of 8.61. Through this empowerment program, we hope that health workers' knowledge will increase and they will become more skilled in wound care.
EDUKASI PENCEGAHAN HEMOROID DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENAGA KESEHATAN Fadli Robby Amsriza; Rizka Fakhriani
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.22203

Abstract

Abstrak: Hemoroid, ambeien, wasir atau piles merupakan salah satu kelainan yang ditandai dengan pembengkakan pada daerah anus dan disebabkan oleh pembesaran pembuluh darah vena ataupun karena lemahnya dinding anus. Di Indonesia, diperkirakan populasi hemoroid akan mencapai 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Sayangnya, hingga saat ini kesadaran masyarakat terkait permasalahan tersebut belum terlihat. Sehingga tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dan memberikan suatu kontribusi positif dalam meningkatkan pola hidup bersih dan sehat sehingga prevalensi hemoroid dapat dicegah. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk edukasi. Adapun mitra dalam kegiatan ini adalah tenaga kesehatan Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta, yang berjumlah 30 orang. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat peningkatan rata-rata nilai pengetahuan pre-test sebesar 5.1 dan post-test sebesar 8.2. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat memotivasi seluruh tenaga kesehatan dan masyarakat untuk dapat terus membudayakan perilaku bersih dan sehat sehingga gejala hemoroid dapat ditekan.Abstract: Hemorrhoids, also known as piles, are a common disorder characterized by swelling in the anal region. The expansion of veins or weakening of the anal wall typically causes this condition. Indonesia is projected to have 21.3 million people with hemorrhoids by 2030. Regrettably, there has been a lack of public awareness about the issue. This project aims to enhance health workers' knowledge and contribute positively to promoting a clean and healthy lifestyle to avoid the occurrence of hemorrhoids. This project is given with an educational style. The partners of this program are the health workers of AMC Hospital Muhammadiyah Yogyakarta, with a total of 30 people. The results showed an average pre-test knowledge score increase of 5.1 and a post-test rise of 8.2. This program aims to motivate all health workers and the community to maintain clean and healthy habits to reduce hemorrhoid symptoms.
MENJAGA PENDENGARAN DALAM MERAWAT KEHIDUPAN: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK KESEHATAN TELINGA Rizka Fakhriani; Ambar Relawati; Fadli Robby Amsriza; Meika Kurnia Puji Rahayu Dyah Anggraeni; Rintan Nuzul Ainy
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.30998

Abstract

Abstrak: Gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat keempat tertinggi di Asia Tenggara. Penumpukan serumen merupakan penyebab umum gangguan pendengaran tipe konduktif, yang sering kali dipicu oleh kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton buds. Meskipun berisiko menimbulkan cedera, infeksi, dan gangguan pendengaran, kebiasaan ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran anggota Ranting “Aisyiyah Condongcatur Barat” sebagai mitra pengabdian masyarakat tentang pentingnya perawatan telinga yang aman dan benar. Metode penelitian yang digunakan mencakup diskusi kelompok terfokus (FGD), edukasi melalui media Power Point, serta evaluasi pengetahuan peserta menggunakan 10 pertanyaan dalam pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan rata-rata skor post-test lebih tinggi sebesar 0,8 poin dibandingkan pre-test. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi kesehatan memiliki efektivitas dalam membentuk persepsi dan perilaku positif masyarakat terkait perawatan telinga. Program ini diharapkan dapat menjadi model edukasi promotif dan preventif yang berkelanjutan berbasis komunitas dalam upaya menjaga kesehatan telinga.Abstract: Hearing loss is a significant global health issue, with Indonesia ranking fourth highest in Southeast Asia. The habit of cleaning the ears with cotton buds often triggers earwax buildup, a common cause of conductive hearing loss. The community continues to widely practice this habit despite the risk of injury, infection, and hearing loss. The purpose of this community service activity is to increase awareness of members of the “Aisyiyah Condongcatur Barat” Branch as community service partners about the importance of safe and proper ear care. The research methods used include focus group discussion (FGD), education through PowerPoint media, and evaluation of participant knowledge using 10 questions in the pre- and post-tests. The evaluation results showed a significant increase in participants’ knowledge after the educational intervention, with post-test scores averaging 0.8 points higher than pre-test scores. These findings indicate that health education is effective in shaping positive perceptions and behaviours towards ear care. This program is expected to serve as a sustainable, community-based model for promotive and preventive ear health education.