Achmad Hidayatullah
Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Hongaria

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

BAITUL ARQOM INTERNASIONAL BAGI PIMPINAN CABANG ISTIMEWA MUHAMMADIYAH JERMAN DAN HONGARIA DALAM RANGKA MEMBANGUN KOSMOPOLITANISME ISLAM DI EROPA Tanto Lailam; Diyah Nahdiyati; Hazim Hamid; Nita Andrianti; Achmad Hidayatullah; Indar Surahmat
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14173

Abstract

Abstrak: Program pengabdian internasional ini memfokuskan pada kegiatan Baitul Arqom Internasional bagi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (selanjutnya disebut PCIM) Jerman dan Hongaria. Program ini sangat penting mengingat PCIM merupakan ujung tombak Muhammadiyah dalam melaksanakan dakwah Islam berkemajuan bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat asli negara tersebut. Tujuan utama pengabdian ini adalah menyamakan persepsi pengurus PCIM dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sekaligus meningkatkan pemahaman gerakan internasionalisasi yang dilakukan Muhammadiyah. Metode pengabdian yang dilakukan dalam bentuk Musyawarah dan Rencana, Realisasi, dan Rawat (M3R) dengan jumlah peserta aktif 40 orang dari PCIM Jerman dan Hongaria melalui daring (dalam jaringan) dengan menggunakan platform zoom cloud meeting. Untuk mengukur peningkatan pemahaman dan komitmen berorganisasi peserta mengisi kuesioner dengan beberapa pernyataan secara daring. Hasil pengukuran menunjukkan adanya signifikansi peningkatan, sebelum dan setelah pengabdian. Sebelum pengabdian nilai rata-rata peserta sebesar 82,5%, dan setelah dilakukan program pengabdian sebesar 90,8 %, artinya terdapat peningkatan sebesar 8,3% dari nilai rata-rata peserta. Hasil pengabdian bahwa PCIM merupakan tombak dakwah internasionalisasi Muhammadiyah di berbagai negara di dunia. Model dakwah gerakan yang dibangun adalah kosmopolitanisme Islam, yaitu gerakan pemikiran Islam yang reformis - modernis – kritis yang menebarkan Islam tengahan atau wasathiyah, sekaligus mengikis Islamophobia di Eropa. Selain itu, untuk membangun sistem organisasi PCIM yang berkelanjutan perlu dilakukan beberapa penguatan, yaitu: penguatan kelembagaan yang memiliki status hukum, seperti e.V di Jerman. Pengembangan amal usaha dan membangun kolaborasi dengan institusi lain baik di Jerman, Hongaria, Indonesia maupun negara lain; serta yang terakhir memperkuat sistem kaderisasi dan hubungan kekeluargaan antar sesama kader.Abstract: The international community service program focuses on Baitul Arqom International activities for the Leaders of the Special Branch of Muhammadiyah/ Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) in Germany and Hungary. This programme is very important considering that PCIM is the spearhead of Muhammadiyah in preaching progressive Islam for the Indonesian people and the country's original people. The main purpose is to create the same perception between the PCIM and the Muhammadiyah Central Board and increase the understanding of the internationalisation of Muhammadiyah for the PCIM. Deliberations Planing, Realisation, and Monitoring- Evaluation is the community service method, and 40 active participants are online using the Zoom cloud meeting platform. The results saw a significant increase before and after the service. Before the service, the average score of the participants was 82.5%, and after the service programme, it was 90.8%, an increase of 8.3%. Due to this commitment, PCIM is at the forefront of Muhammadiyah in several countries. The da'wa model in European is Islamic cosmopolitanism. It is a reformist-modernist-critical thinking movement (Islam Wasathiyah) while decreasing cases of Islamophobia in Europe. Several strengthenings are required to build a sustainable organisational system, including institutional strengthening with legal status, for example, e.V in Germany. Hence, business charity development and collaboration with other institutions in Germany, Hungary, Indonesia, and other countries. Last, strengthening the regeneration system and brotherhood among Muhammadiyah cadres.