This Author published in this journals
All Journal Metalurgi
Dewa Nyoman Adnyana
Department of Mechanical Engineering, Faculty of Industrial Technology The National Institute of Science and Technology (ISTN)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakterisasi Tingkat Degradasi Superalloy Udimet 520 Pada Sudu Putar Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Gas [Characteristic Degradation Level of Superalloy Udimet 520 of Rotating Blade of a Gas Turbine Power Plant] Dewa Nyoman Adnyana
Metalurgi Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1502.228 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i1.436

Abstract

First stage rotating blades of a gas turbine power plant having design capacity of 130 MW have been in operation for more than 50.000 hours. The blade material was made of Udimet 520, a Ni- based superalloys. During its operation, the turbine blades may have been subjected to degradation due to several damage mechanisms such as thermal aging, creep, fatigue, corrosion and/or erosion. The aim of this examination was to determine the degree of degradation and the possibility of future service continuation of the turbine blades. A post-service first stage turbine blade was dismounted from the engine rotor and used for examination. Various laboratory examinations were performed including chemical analysis, metallographic examination, hardness testing and creep testing. Results of the examination obtained showed that the turbine blade material has not been experiencing some significant morphology change in microstructure due to thermal aging, either on the matrix austenite phase (g) and precipitate of gamma prime (g') or on the carbide phase particles. In addition, the level of creep resistance of the turbine blade material was still higher than the minimum creep property of the Udimet 520. Furthermore, the degree of degradation due to corrosion and/or oxidation occurred on most of the blade exterior in general was considered low. Based on this condition, the first stage gas turbine blades were considered serviceable. AbstrakSudu putar turbin tingkat pertama pada sebuah unit pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dengan kapasitas terpasang 130 MW telah dioperasikan selama lebih dari 50.000 jam. Menurut data desain, material sudu  turbin dibuat dari paduan super berbasis Ni dengan spesifikasi Udimet 520. Selama pengoperasiannya, sudu turbin diperkirakan mengalami degradasi akibat sejumlah mekanisme kegagalan yang terjadi seperti: thermal aging, creep, fatik, korosi, dan/atau erosi. Pengujian yang dilakukan ini bertujuan untuk menentukan tingkat degradasi dan kelayakan sudu turbin untuk kelanjutan pengoperasiannya diwaktu yang akan datang. Sebuah sudu turbin tingkat pertama dilepas dari rotor unit PLTG untuk digunakan dalam pengujian ini. Sebelum melakukan pengujian, sudu turbin tersebut dibelah menjadi 2 (dua) bagian, dimana salah satu belahan diberi proses heat-treatment. Sejumlah pengujian laboratorium telah dilakukan meliputi analisa kimia, uji metalografi, uji kekerasan dan uji creep. Hasil pengujian menunjukkan bahwa material sudu turbin belum mengalami perubahan yang berarti pada morfologi struktur mikro akibat thermal aging, baik pada matrik fasa austenit (g) dan partikel/presipitat fasa  gamma prime (g') Ni3 (Al,Ti) maupun pada fasa karbida. Disamping itu tingkat ketahanan creep material sudu turbin terlihat masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan sifat ketahanan creep minimum material standar Udimet 520. Lebih jauh, tingkat degradasi akibat korosi dan/atau oksidasi yang terjadi pada permukaan luar sudu turbin pada umumnya masih tergolong rendah. Didasarkan pada kondisi tersebut, sudu turbin tingkat pertama direkomendasikan untuk dilanjutkan pemakaiannya, tetapi setelah dilakukan pekerjaan rekondisi.  
Korosi Retak Tegang pada Pipa Superheater Ketel Uap yang Baru Dibangun [Stress Corrosion Cracking of Cage Superheater Tubes of a Newly Built Boiler] Dewa Nyoman Adnyana
Metalurgi Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.454 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v32i3.357

Abstract

A number of cage superheater tubes of a newly built steam boiler have been leaking during boiler’s first start-up commissioning. Leaking occurred when the boiler had just reached a pressure of 23.7 barg and temperature 4050 C from the intended operating pressure of 53 barg and temperature of 4850C. Type of failure and factors that may have caused the leakage of the cage superheater tube are discussed in this paper. The metallurgical assessment was conducted by preparing a number of specimens from the as received leaked cage superheater tube. Various laboratory examinations were performed including macroscopic examination, chemical composition analysis, metallographic examination, hardness test and SEM (scanning electron microscopy) examination equipped with EDS (energy dispersive spectroscopy) analysis. Results of the metallurgical assessment obtained show that the leaked cage superheater tubes have been experiencing stress-corrosion cracking (SCC) caused by the combined effect of corrosion and tensile stress. The corrosion agent that may have been responsible for the occurrence of SCC in the tube was mostly due to caustic sodium (Na) and other elements in a lesser extent such as Ca, Cl, S and P.AbstrakSejumlah pipa penukar panas lanjut pada sebuah ketel uap yang baru dibangun diketemukan bocor selama operasi komisioning yang pertama. Kebocoran terjadi ketika ketel uap baru saja mencapai tekanan 23,7 barg dan temperatur 405 °C dari tekanan dan temperatur operasi yang direncanakan yaitu 53 barg dan 485 °C. Dalam makalah ini dibahas jenis kerusakan dan faktor-faktor yang kemungkinan telah menyebabkan terjadinya kebocoran pada pipa penukar panas lanjut tersebut. Penelitian/pengujian metalurgi telah dilakukan dengan mempersiapkan sejumlah benda uji yang diperoleh dari salah satu potongan pipa yang bocor tersebut. Berbagai pengujian laboratorium telah dilakukan meliputi: uji makro, analisa komposisi kimia, uji metalografi, uji kekerasan dan uji SEM (scanning electron microscopy) yang dilengkapi dengan analisis EDS (energy dispersive spectroscopy). Hasil penelitian/pengujian metalurgi yang diperoleh menunjukkan bahwa pipa penukar panas lanjut yang bocor tersebut telah mengalami retak korosi tegangan yang disebabkan oleh efek kombinasi antara korosi dan tegangan tarik. Unsur korosif yang kemungkinan dapat menimbulkan terjadinya retak korosi tegangan pada pipa penukar panas lanjut adalah kaustik sodium (Na) dan elemen-elemen lainnya pada tingkatan yang relatif rendah seperti Ca, Cl, S dan P.