Anemia pada remaja masih menjadi masalah kesehatan karena dapat memengaruhi konsentrasi belajar, produktivitas,pertumbuhan, dan kesehatan reproduksi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi anemiapada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 15,5%, sedangkan prevalensi anemia pada remaja putri di Kota Depokmencapai 17,8%. Tingginya penggunaan media sosial di kalangan remaja berpotensi dimanfaatkan sebagai sumberinformasi dan sarana edukasi kesehatan untuk mendukung pencegahan anemia. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis hubungan antara pemanfaatan media sosial dengan upaya pencegahan anemia pada remaja di wilayah RW15 Kelurahan Abadijaya, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitikobservasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 107 responden yang ditentukanmenggunakan teknik non-probability sampling dengan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesionerberbasis Google Form dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial sebagian besar berada pada kategori baik, yaitu 56 responden(52,3%), dan upaya pencegahan anemia kategori baik sebanyak 57 responden (53,3%). Hasil uji Pearson Chi-Squarememperoleh nilai Chi-Square sebesar 32,861 dengan p-value <0,001 serta nilai Odds Ratio (OR) sebesar 7,200 (95%CI: 3,066–16,906), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara pemanfaatan media sosial dengan upayapencegahan anemia pada remaja. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kesehatan untuk mendukungpencegahan anemia pada remaja.