Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Persembahan Dari Kejadian 4:1-16 Dan Implikasinya Terhadap Masa Kini Reyka Dhesta Vira; Darsi Darsi; Frececilya Brilianda
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.1628

Abstract

Persembahan adalah suatu bentuk ungkapan syukur dan respon umat manusia terhadap segala berkat yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupannya. Berdasarkan Alkitab persembahan itu adalah suatu bentuk tanda yang diberikan Allah sebagai tanda rasa syukur, tanda penebus salah, dan juga tanda keselamatan melalui korban bakaran. Tujuan dari persembahan yang diberikan oleh manusia kepada Allah adalah untuk menyenangkan dan memuliakan namanNya. Maka dari itu, ketika hendak memberikan mempersembahkan sesuatu maka haruslah dengan hati yang ikhlas dan sungguh-sunggu tanpa ada paksaan dari orang lain. Dalam membuat karya tersebut, maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif analisis terhadap berbagai sumber dan informasi dari kepustakaan dengan tujuan untuk menemukan makna yang sebenarnya dari persembahan dalam Perjanjian Lama tersebut. Dalam Alkitab, persembahan dibahas pertama kalinya dalam Kitab Kejadian (Kej. 4:1-16) dan dijelaskan bahwa Kain berprofesi sebagai petani dan Habel seorang gembala ternak. Sesuai dengan isi dalam teks tersebut jelas mengatakan bahwa persembahan Habellah yang diterima oleh Allah karena dia memilih persembahan yang terbaik untuk diberikan kepada Tuhan sedangkan Kain memilih persembahan yang buruk untuk diberikan kepada Tuhan. Di sini dapat disimpulkan bahwa setiap manusia ketika hendak memberikan persembahan sebagai tanda ungkapan syukur kepada Allah maka haruslah dengen hati yang tulus, ikhlas dan sungguh-sungguh bukan dengan paksaan ataupun dengan terpaksa. Tetapi harus dengan kerelan hati dan disamping itu memilih persembahan yang terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan, maka Tuhan akan memberikati persembahan yang kita berikan kepadaNya.
Gereja yang Bertumbuh menurut Rick Warren dan Implikasinya di Gereja Toraja Jemaat Ebenhaezer Palopo Reyka Dhesta Vira; Wandrio Salewa
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.198

Abstract

This article aims to describe the concept of a growing church according to Rick Warren and its relevance to the Toraja Church of the Ebenhaezer Congregation in Palopo. A growing church according to Rick Warren is living loving one another and doing the preaching of the Gospel. The ideas built by Rick Warren are very relevant and good to be used as a measure for the church to experience growth. Based on the author's observations, within the scope of the Ebenhaezer Palopo congregation there is an inharmonious relationship as a fellowship which can have a negative impact in the midst of the ministry and the congregation. The research method used is a qualitative method using a library approach, observation and descriptive analysis. A growing church is a church that is moved by the Holy Spirit so that it produces fruit according to what has been ordained by God. So that there will be an increase in church members, expansion of ministry, mutual love, fellowship, unity, obedience to the Word of God, extensive evangelism and construction of church facilities. So that the church's goals can be achieved, namely to spread the good news about Jesus Christ and to love God and others. Tulisan ini hendak menguraikan gambaran tentang konsep gereja yang bertumbuh menurut Rick Warren dan relevansinya bagi gereja Toraja jemaat Ebenhaezer Palopo. Gereja yang bertumbuh menurut Rick Warren yaitu hidup saling mengasihi dan melakukan pemberitaan Injil. Gagasan yang dibangun oleh Rick Warren sangat relevan dan baik untuk dijadikan ukuran bagi gereja untuk semakin mengalami pertumbuhan. Berdasarkan observasi penulis, dalam lingkup jemaat Ebenhaezer Palopo terjadi relasi yang tidak harmonis sebagai satu persekutuan yang dapat membawa dampak negatif di tengah-tengah pelayanan dan jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan kepustakaan, pengamatan dan deskriptif analisis. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang digerakkan oleh Roh Kudus sehingga menghasilkan buah sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah. Agar terjadi pertambahan anggota jemaat, meluasnya pelayanan, saling mengasihi, adanya persekutuan, persatuan, taat firman Allah, pekabaran Injil yang luas dan pembangunan fasilitas gereja. Sehingga tujuan gereja dapat tercapai yaitu mengabarkan kabar sukacita tentang Yesus Kristus dan mengasihi Tuhan serta sesamanya.