Anggita Rizkyta
Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Living Museum Garam Palung Buleleng Dengan Pendekatan Ekologi Dan Biofilik Arsitektur Anggita Rizkyta
Jurnal Poster Pirata Syandana PERIODE 156 (JUNI 2023)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garam merupakan salah satu komoditas penting bagi masyarakat dunia. Sering disebut dengan garam dapur, jenis mineral yang memiliki rasa asin ini sangat diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi penghasil garam salam jumlah masif. Wilayah laut Indonseia memiliki luasan kurang lebih 62%, lebih luas dari wilayah daratannya, sehingga Indonesia berpotensi untuk dapat secara mandiri memproduksi garam mengingat air laut merupakan bahan utamanya. Selain atas komoditas yang dihasilkan dari kekayaan hayatinya, Indonesia juga terkenal akan keanekaragaman budaya yang dimiliki di setiap daerahnya, salah satunya Bali, yang sudah dikenal hingga mancanegara sebagai tujuan wisata idaman. Salah satu warisan budaya Bali adalah pembuatan garam dengan teknologi garam palung. Produksi garam telah dilakukan dan menjadi mata pencaharian penduduk pesisir Bali sejak berabad-abad yang lalu dengan keunikan yang dimiliki yaitu metode palungan. Namun sayangnya, jumlah petani garam palung di Bali terus berkurang akibat peralihan lahan pertanian garam menjadi lahan wisata, pengaruh musim, serta sukarnya perluasan pasar akibat modal yang tidak memadai. Hal ini pun berpengaruh pada terancamnya pelestarian budaya teknologi lokal garam palung Bali. Melihat permasalahan tersebut, salah satu solusi yang dapat ditawarkan yaitu dengan adanya museum yang secara spesifik melestarikan pembuatan garam lokal Buleleng dengan teknologi palung, didukung dengan konsep “living” sehingga penyampaian sejarah menjadi lebih menarik dan berbekas. Dengan berlokasi di daerah tujuan wisata, museum ini dapat menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus edukasi dan rekreasi sehingga dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan daerah dari kunjungan wisata. Perancangan museum ini pun didukung dengan persebaran museum di Indonesia yang sudah cukup banyak, termasuk museum yang didirikan pihak swasta, yang memberikan indikasi bahwa masyarakat masih mendukung pelestarian kebudayaan melalui museum. Kata Kunci: Garam; Wisata; Budaya; Living; Museum