Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI COLLABORATIVE GOVERNANCE PEMERINTAH DESA TULUNG SELAPAN TIMUR DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KECAMATAN TULUNG SELAPAN TAHUN 2022 Primus Mukus; Amaliatulwalidain Amaliatulwalidain; M Qur’anul Kariem
TheJournalish: Social and Government Vol. 4 No. 2 (2023): social and government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v4i2.442

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Strategi Collaborative Governance Pemerintah Desa Tulung Selapan Timur Dalam Pengelolaan Sampah Di Kecamatan Tulung Selapan Tahun 2022. adapun teori yang di gunakan pada penelitian ini yaitu teori Collaborative Governance Menurut Ansell dan Gash yang memiliki beberapa indikator teori seperti kondisi awal, desaign institusi, kepemimpinan dan proses kolaboratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi dalam penanganan sampah di Desa Tulung Selapan Timur ialah dengan terlaksananya program pengelolaan sampah secara berkelanjutan di mana bentuk kolaborasi dari pemerintah desa sebagai penyedia program dan fasilitas, serta pabrik sampah sebagai pelaksana program dan masyarakat sebagai pendukung atas terlaksana nya program tersebut saat ini telah berhasil dan mampu menjalankan program pengelolaan sampah ini dengan baik dan berkelanjutan.Hal ini dapat di buktikan dari tersedianya fasilitas seperti montir pengangkut sampah dan terlaksananya program pengelolaan sampah seperti pemisahan sampah sesuai jenis.
Pelatihan animasi dasar bagi IREMA Baiturrahman Palembang Bobby Halim; Hestia Rachmat Nunciata Lubis; Amaliatulwalidain Amaliatulwalidain
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.26963

Abstract

Abstrak Animasi saat ini sudah menjadi hal yang lumrah diterapkan di luar bidang hiburan. Misalnya untuk bidang pemasaran hingga pendidikan. Animasi ada yang bersifat 2 dimensi (2D) maupun yang 3 dimensi (3D). Untuk menciptakan animasi baik 2D maupun 3D sekarang ini sudah banyak alternatif perangkat lunak dan perangkat keras. Bahkan dapat menggunakan smartphone untuk menciptakan karya animasi 2D seperti Stick Nodes, Adobe Spark dan lain sebagainya. Penulis yang termasuk dalam tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Indo Global Mandiri telah melakukan observasi lokal dan mendapatkan data bahwa anak-anak tingkat Sekolah Dasar belum memahami proses pembuatan animasi dasar, begitu pula dengan anggota dari IREMA Baiturrahman yang sangat buta dengan proses pembuatan animasi baik 2D maupun 3D Metode yang dipakai dalam pelatihan ini meliputi: observasi, wawancara, diseminasi dan pengajaran, dan peragaan. Pelaksanaan Pelatihan animasi dasar ini dapat disimpulkan sebagai berikut, pertama yaitu masih minimnya pengetahuan para peserta pelatihan mengenai seni rupa khususnya di bidang Animasi; kedua yaitu terlihat antusiasme para peserta pelatihan Animasi Dasar ini yang menandakan bahwa anak-anak Sekolah Dasar ingin mempelajari Seni Rupa khususnya Animasi sehingga dapat menjadi pemacu pihak Institusi Pendidikan lainnya maupun pihak Industri Animasi mulai memikirkan transfer ilmu kepada anak-anak Sekolah Dasar. Kata kunci: pelatihan; animasi dasar; stick nodes; IREMA; palembang. Abstract Animation is now commonplace outside the entertainment field. For example, for marketing to education. Animations are either 2-dimensional (2D) or 3-dimensional (3D). To create animations, both 2D and 3D, there are now many alternative software and hardware. You can even use a smartphone to create 2D animation works such as Stick Nodes, Adobe Spark and so on. The author, who is part of the Community Service (PKM) team from Universitas Indo Global Mandiri, has conducted local observations and obtained data that elementary school children do not understand the process of making basic animations, as well as members of IREMA Baiturrahman who are very blind to the process of making animations, both 2D and 3D. The methods used in this training include: observation, interviews, dissemination and teaching, and demonstrations. The implementation of this basic animation training can be concluded as follows, first, the lack of knowledge of the training participants regarding fine arts, especially in the field of animation; Secondly, the enthusiasm of the participants in the Basic Animation training is visible, indicating that elementary school children want to study Fine Arts, especially Animation, so that it can be a motivator for other educational institutions and the Animation Industry to start thinking about transferring knowledge to elementary school children. Keywords: training; basic animation; stick nodes; IREMA; palembang.