Muhammad Azzam Al Haq
Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Oportunitas Pembentukan Entitas Kebudayaan Baru, Tinjauan Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia 2024 terhadap Perpindahan Ibu Kota Voc 1619 Devina Ocsanda; Candrika Ilham Wijaya; Muhammad Azzam Al Haq; Julian Dwi Efendi; Ludvia; Fahmi Prihantoro
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 18 No 1 (2023): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN VOLUME 18 NOMOR 1 JUNI 2023
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47441/jkp.v18i1.291

Abstract

The relocation of The Capital City of Indonesia potentially causes a significant cultural impact. This Study discusses the opportunity of a new cultural entity forming in Ibu Kota Negara (IKN), referring relocation of VOC's Capital City from Ambon to Jayakarta-Batavia in 1619. The Study of cultural aspects is intended for government to prepare adequate mitigation to potential conflict in the new capital city area. Using landscape archaeology, the condition in Batavia and IKN will be analyzed with the concept of physics and cultural landscape formation. This research's results show that the planning of the spatial organization, architecture, and cultural traditions in Batavia have the same pattern in the IKN area. In Batavia, a new entity had already emerged named Betawi. There will be equal opportunity with similar conditions. The IKN's position relative to the center of Indonesia and the rapid development of information and transport technology can trigger new cultural entities. Perpindahan Ibu Kota Indonesia berpotensi menghasilkan dampak yang signifikan dalam hal kebudayaan, yakni kemunculan entitas budaya baru. Kajian ini membahas mengenai oportunitas pembentukan entitas budaya baru di Ibu Kota Negara (IKN) mereferensi perpindahan yang pernah terjadi di masa lampau, yaitu Masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari Ambon ke Jayakarta-Batavia pada 1619. Kajian mengenai aspek kebudayaan tersebut dimaksudkan agar pemerintah dapat menyiapkan mitigasi yang memadai terhadap potensi konflik yang dapat terjadi di wilayah ibu kota baru. Dengan pendekatan arkeologi lanskap, kondisi di Batavia dan IKN dianalisis dengan konsep elemen pembentuk lanskap fisik dan budaya. Hasil riset ini memperlihatkan perencanaan organisasi ruang, arsitektur, dan tradisi budaya di Batavia ternyata memiliki pola yang sama pada kawasan IKN. Di Batavia, entitas baru telah terbentuk secara nyata yang kini disebut dengan nama Betawi. Terdapat peluang yang sama di IKN dengan kondisi-kondisi yang serupa. Posisi IKN yang relatif berada di tengah wilayah Indonesia serta perkembangan teknologi informasi dan transportasi yang pesat turut membuat pembentukan entitas budaya baru menjadi lebih dinamis. Peluang terbentuknya entitas budaya baru mengharuskan pemerintah bersiap untuk memperkuat tradisi budaya yang telah eksis sebelumnya dan mengembangkannya bersama dengan entitas budaya yang baru.