Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTRODUKSI TANAMAN TEH DAN APEL INDIA DI DESA WISATA SAMIRAN KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI PROPINSI JAWA TENGAH Jaka Suyana; Sukaya Sukaya
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 10, No 2 (2021): November
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v10i2.51999

Abstract

Desa Wisata Samiran berada di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, mempunyai luas 663,329 ha dengan elevasi 1.400-2.550 m dpl, serta jenis tanah Andosol (lereng Merbabu) dan Regosol (lereng Merapi). Secara agroklimat cocok untuk pengembangan agrowisata  tanaman perkebunan (teh dan kopi Arabika), tanaman buah (tledung, apel, dan jeruk), tanaman hias, serta sayuran.  Kegiatan PKM (Program Kemitraan Masyarakat) ini bertujuan untuk introduksi tanaman Teh (Camellia Sinensis L.O. Kuntze) dan tanaman Apel India (Ziziphus Muritania) pada kelompok tani di Desa Wisata Samiran. Tanaman Teh Varietas Gambung-7 diintroduksikan sebagai  tanaman pagar (hedgerows) dikiri-kanan lorong jalan desa, sedangkan tanaman Apel India  sebagai tanaman buah di pekarangan petani. Mitra yang dipilih yaitu  Kelompok Tani Taruna Subur (Dukuh Samiran, Desa Samiran, Kec. Selo) dan Agrowisata Tretes Taman Tani (Dukuh Tretes, Desa Samiran, Kec. Selo). Metode yang digunakan meliputi : (a) penyuluhan dan sosialisasi program PKM; (b) pemberian bibit dan penanaman Teh sebagai tanaman pagar di lorong kiri-kanan jalan desa; (c) pemberian bibit dan penanaman Apel India sebagai tanaman buah di pekarangan rumah; serta (d) pemberian bibit Teh dan Apel India di Agrowisata Tretes Taman Tani. Seluruh anggota kelompok tani dilibatkan dari kegiatan penyuluhan, pemberian bibit, penyiapan lahan dan penanaman, serta perawatan tanaman. Target dari PKM ini untuk meningkatkan atensi akademisi Riset Grup Pengelolaan DAS dan Agroekosistem Fakultas Pertanian UNS, bersama kelompok tani  untuk ikut berpartisipasi di dalam pengembangan Desa Wisata Samiran yang lebih asri dan sejahtera.
Introduksi Jeruk Malang sebagai Solusi Konservasi Tanah dan Peningkatan Pendapatan Petani Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri Dwi Priyo Ariyanto; Jaka Suyana; Komariah Komariah; Sumani Sumani; Bardhian Cahyo Aji Gumilang
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 10, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v10i1.110589

Abstract

Introduction of Malang Oranges as a Solution for Soil Conservation and Increasing Farmers' Income in Setren Village, Slogohimo District, Wonogiri Regency. Farmers in Setren Village, Slogohimo District, Wonogiri Regency, located on the slopes of Mount Lawu, face two major challenges: severe land erosion on sloping areas and unstable income due to fluctuations in vegetable prices. This community service activity aimed to introduce Malang citrus cultivation as a dual solution through an adaptive, vegetation-based land conservation approach for sloping land, while simultaneously increasing farmers’ income. The implementation methods included observation of land conditions, extension activities, training, and technical assistance in conservation-based citrus cultivation. The materials emphasized land suitability, which was proven to be highly appropriate (altitude 900–1,400 m above sea level, temperature 18–20°C, Andosol soil), the introduction of three adaptive superior varieties (Siam Madu, Baby Pacitan, and Keprok Batu 55) for sloping land, and cultivation techniques suitable for sloping conditions. Key techniques emphasized included (1) land preparation using terracing systems for erosion mitigation, (2) planting hole preparation with organic manure, (3) selection of certified and healthy seedlings, (4) canopy pruning using a 1–3–9 pattern to maximize productivity, and (5) balanced fertilization. The results of this activity were the transfer of technology and knowledge of modern citrus cultivation to farmers, with a participant satisfaction rate of 58.8%, although strengthening of field-based practice is still required. Malang citrus cultivation is considered potential not only as a more stable source of income, but also as a conservation crop that contributes to erosion control and sustainable land management, and has prospects for development as “pick oranges” agrotourism.