Sumardjijati Sumardjijati
Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Jawa Timur, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Literasi Digital Remaja dalam Permainan Roleplay di Media Sosial Twitter Merlyn Falenchia; Sumardjijati Sumardjijati
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 6 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i6.1585

Abstract

Pengguna media sosial di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hingga Januari 2022, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 191,4 juta dan Twitter menempati urutan ke-5 dengan 18,45 juta pengguna (Hootsuite, 2022). Baru-baru ini, kata “roleplay” menjadi trending topic di Twitter berkaitan dengan viralnya kasus kejahatan siber yang melibatkan akun roleplay. Maraknya kasus kekerasan siber merupakan dampak negatif dari adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital. Maka dari itu, setiap pengguna media sosial memerlukan kemampuan literasi digital yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui literasi digital para remaja yang bermain roleplay khususnya di kota Surabaya dengan wawancara dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memiliki kemampuan untuk berinteraksi antar roleplayer, mengelola identitas dalam roleplay, mengelola privasi dalam dunia maya, hingga melakukan pengelolaan konten di akun roleplay masing-masing. Sementara motivasi mereka dalam bermain roleplay adalah untuk pelipur stress, bersenang-senang mencari hiburan, mengisi waktu luang, mempromosikan karakter yang mereka gunakan, dan mencari teman-teman di internet. Namun, walaupun mereka memiliki kemampuan literasi digital mereka masih melakukan pelanggaran etika berupa penggunaan identitas milik idolanya tanpa izin dan menggunakan kata-kata kasar di timeline saat berinteraksi dengan teman-temannya. Penggunaan kata-kata kasar ini secara tidak langsung dapat meninggalkan citra buruk bagi sang pemilik identitas asli.