Desy Nurcahyanti
Sebelas Maret University

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Kain Ikat Celup Guna Membuka Peluang Usaha Baru Bagi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Kutawaru, Cilacap Anung Chrispanjalu; Yayan Suherlan; Desy Nurcahyanti
Jurnal Pengabdian Seni Vol 4, No 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v4i1.9647

Abstract

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan teknik ikat dan pewarnaan kain ikat celup kepada ibu-ibu Kelurahan Kutawaru dengan tujuan meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka dalam menghasilkan produk kreatif yang dapat dijadikan sebagai peluang usaha baru. Pelatihan ini melibatkan kurang lebih 20 peserta perwakilan dari ibu-ibu PKK Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat diharapkan kegiatan PKK tidak hanya diisi dengan kegiatan arisan, tetapi juga bisa diisi dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa pembinaan pelatihan keterampilan bagi para anggotanya. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan praktik. Oleh karena itu, pelatihan ikat celup diharapkan dapat menjadi alternatif peluang usaha bagi masyarakat desa yang membutuhkan peningkatan keterampilan dan ekonomi. Hasil dalam pelatihan ini peserta mampu memahami dan praktik langsung dalam pembuatan kain ikat celup. Peserta mampu membuat berbagai macam motif pada saat pelatihan sehingga terciptalah lembaran kain ikat celup yang sudah jadi. Diharapkan peserta dapat mengembangkan menjadi produk yang lebih kreatif dan inovatif. Produknya yang dihasilkan adalah masker, pakaian, seprai, dan produk lainnya yang berbahan dasar motif kain ikat celup. This activity aims to provide training on tieng and dyeing techniques of tie dye fabrics to the women of the Kutawaru Village in order to improve their abilities in producing creative products that can be used as new business opportunities. This workshop involved approximately 20 participants representing PKK members from Kutawaru Village, Cilacap. Through community service activities the authors consider that PKK activities will not only be restricted in lottery activities, but community empowerment activities in the form of skill development training for its members. The methods used in this activity were lecturing, discussion, question-answer, and practice methods. Therefore, tie dye training is expected to be an alternative business opportunity for rural communities who need skill and economic improvement. The result of this workshop is that participants are able to understand and practice directly in making tie dye fabrics.Moreover, participants are able to make various kinds of motifs during the training, so thet they are ready to make tie dye by themselves. The authors hope that participants can develop into more creative and innovative products. The products include masks, clothes, bed sheets, and other products made from  tie dye motifs.
PENGKAJIAN NILAI ESTETIK BATIK JOMBANGAN MOTIF ARIMBI RATU SEBAGAI MEDIA PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL Achmad Nur Kholis; Setyo Budi; Desy Nurcahyanti
JURNAL IMAJINASI Vol 7, No 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/i.v7i2.45574

Abstract

Candi Arimbi merupakan bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Kabupaten Jombang. Beragam media inovatif dan kreatif harus dimanfaatkan dalam rangka pelestarian kearifan lokal, salah satunya adalah batik.  Nilai esetik  pada batik menciptakan daya tarik bagi masyarakat untuk memahami mengenai visual dan makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai estetik batik Jombangan motif Arimbi Ratu yang menjadi media pelestarian kearifan lokal berupa Candi Arimbi. Metode penelitian berjenis kualitatif deskriptif digunakan untuk mengumpulkan data, sehingga nantinya akan disajikan dalam bentuk kalimat yang terperinci. Teknik analisis data menggunakan metode reduksi berdasarkan hasil observasi lapangan serta wawancara kepada seniman pencipta batik. Pengkajian nilai estetika akan menggunakan pendekatan teori dari Luca Iandoli dan Giuseppe Zollo dari bukunya yang berjudul “Elegant Design”. Batik Jombangan merupakan bentuk perwujudan dari kebudayaan berupa karya seni rupa yang mengandung suatu filosofi dan nilai estetik yang terstruktur berdasarkan teori pengkajian. Sebagai bentuk media pelestarian kearifan lokal, tentunya hal ini harus dipublikasikan lebih luas lagi. Visualisasi Candi Arimbi yang merupakan bagian dari kearifan lokal Jombang berupa motif batik mencerminkan kebaruan dalam memperkenalkan kebudayaan daerah yang terbarui.Arimbi Temple is a historical relic of the Majapahit Kingdom which is located in Jombang City. Various innovative and creative media must be utilized in the context of preserving local wisdom, one of which is batik. The aesthetic value of batik creates an attraction for people to understand the visuals and the meanings contained therein. This study aims to determine the aesthetic value of Jombangan batik with the Arimbi Ratu motif which is a medium for preserving local wisdom, namely the Arimbi Temple. The research method is descriptive qualitative type used to collect data, so that later it will be presented in the form of detailed sentences. The data analysis technique uses the reduction method based on the results of field observations and interviews with batik artists. The assessment of aesthetic value will use a theoretical approach from Luca Iandoli and Giuseppe Zollo from their book entitled "Elegant Design". Jombangan Batik is a form of cultural embodiment in the form of works of art that contain a philosophy and aesthetic value that is structured based on the theory of study. As a form of media for preserving local wisdom, of course this should be published more widely. The visualization of Arimbi Temple, which is part of Jombang's local wisdom in the form of batik motifs, reflects the novelty of introducing the newest regional culture.rimbi Temple is a historical relic of the Majapahit Kingdom which is located in Jombang City. Various innovative and creative media must be utilized in the context of preserving local wisdom, one of which is batik. The aesthetic value of batik creates an attraction for people to understand the visuals and the meanings contained therein. This study aims to determine the aesthetic value of Jombangan batik with the Arimbi Ratu motif which is a medium for preserving local wisdom, namely the Arimbi Temple. The research method is descriptive qualitative type used to collect data, so that later it will be presented in the form of detailed sentences. The data analysis technique uses the reduction method based on the results of field observations and interviews with batik artists. The assessment of aesthetic value will use a theoretical approach from Luca Iandoli and Giuseppe Zollo from their book entitled "Elegant Design". Jombangan Batik is a form of cultural embodiment in the form of works of art that contain a philosophy and aesthetic value that is structured based on the theory of study. As a form of media for preserving local wisdom, of course this should be published more widely. The visualization of Arimbi Temple, which is part of Jombang's local wisdom in the form of batik motifs, reflects the novelty of introducing the newest regional culture.
Pelatihan Pembuatan Kain Ikat Celup Guna Membuka Peluang Usaha Baru Bagi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Kutawaru, Cilacap Anung Chrispanjalu; Yayan Suherlan; Desy Nurcahyanti
Jurnal Pengabdian Seni Vol 4, No 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v4i1.9647

Abstract

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan teknik ikat dan pewarnaan kain ikat celup kepada ibu-ibu Kelurahan Kutawaru dengan tujuan meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka dalam menghasilkan produk kreatif yang dapat dijadikan sebagai peluang usaha baru. Pelatihan ini melibatkan kurang lebih 20 peserta perwakilan dari ibu-ibu PKK Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat diharapkan kegiatan PKK tidak hanya diisi dengan kegiatan arisan, tetapi juga bisa diisi dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa pembinaan pelatihan keterampilan bagi para anggotanya. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan praktik. Oleh karena itu, pelatihan ikat celup diharapkan dapat menjadi alternatif peluang usaha bagi masyarakat desa yang membutuhkan peningkatan keterampilan dan ekonomi. Hasil dalam pelatihan ini peserta mampu memahami dan praktik langsung dalam pembuatan kain ikat celup. Peserta mampu membuat berbagai macam motif pada saat pelatihan sehingga terciptalah lembaran kain ikat celup yang sudah jadi. Diharapkan peserta dapat mengembangkan menjadi produk yang lebih kreatif dan inovatif. Produknya yang dihasilkan adalah masker, pakaian, seprai, dan produk lainnya yang berbahan dasar motif kain ikat celup. This activity aims to provide training on tieng and dyeing techniques of tie dye fabrics to the women of the Kutawaru Village in order to improve their abilities in producing creative products that can be used as new business opportunities. This workshop involved approximately 20 participants representing PKK members from Kutawaru Village, Cilacap. Through community service activities the authors consider that PKK activities will not only be restricted in lottery activities, but community empowerment activities in the form of skill development training for its members. The methods used in this activity were lecturing, discussion, question-answer, and practice methods. Therefore, tie dye training is expected to be an alternative business opportunity for rural communities who need skill and economic improvement. The result of this workshop is that participants are able to understand and practice directly in making tie dye fabrics.Moreover, participants are able to make various kinds of motifs during the training, so thet they are ready to make tie dye by themselves. The authors hope that participants can develop into more creative and innovative products. The products include masks, clothes, bed sheets, and other products made from  tie dye motifs.