Artikel dengan judul “Konsep Dramaturgi dalam Pertunjukan Tari Negeri Budaya Latah, Koreografer Deslenda” secara eksplisit merupakan usaha peneliti di dalam menjawab berbagai pertannyaan terkait bentuk karya tari yang digarap oleh Deslenda, terlihat berbeda dengan karya beberapa koreografer Sumatera Barat di masanya, sebut saja Gusmiati Suid, Boy G Sakti, Hartati, Indra Yudha, Syaiful Erman, Susas Rita Loravianti (sekadar menyebut beberapa nama). Hal yang membedakan terletak pada kemampuan Deslenda di dalam meletakkan unsur teaterikal pada karya tarinya, sehingga secara visual bentuk yang diusung tidak lagi bentuk tari yang konvensional, tetapi Deslenda berupaya untuk keluar dari zona nyaman untuk menemukan bentuk tari kontemporer yang anti mainstream. Kecenderungan unsur teaterikal di dalam karya Deslenda, apakah dipengaruhi oleh latar belakang suaminya Hardian Radjab (alm), atau justru hal tersebut lahir sebagai bentuk perenungan sehingga melahirkan bentuk dramaturgi pertunjukan tari yang estetik dan artistik. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang konsep galuik dalam pertunjukan Tari Negeri Budaya Latah karya Deslenda dan menganalisis tentang kencendrungan Deslenda selaku seniman sekaligus koreografer, dalam mencipta karya tari dengan menggunakan unsur teaterikal pada tari Negeri Budaya Latah. Metode penelitian yang dilakukan adalah kualitatif berpusat pada data wawancara dan dokumentasi. Temuan dari penelitian ini adalah Galuik sebagai konsep dramaturgi dalam proses kreatif yang dilakukan oleh Deslenda, terutama dalam penggarapan karya tari kontemporer Negeri Budaya Latah.