Muhamad Ibtissam Han
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Framing pada Pemberitaan Pengaturan Pengeras Suara Masjid di Media Online Akurat.co Muhammad Fatih; Muhamad Ibtissam Han; Wahab Nur Kadri
El Madani : Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 4 No. 01 (2023): El Madani: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam
Publisher : Dakwah Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53678/elmadani.v4i01.1178

Abstract

The emergence of regulations governing the use of loudspeakers in mosques seems to have caused a lot of controversy, especially when there was a statement from the Chief Minister of Religion Yaqut Cholil Qoumas. This polemic certainly gets a lot of attention from various news media by way of reporting that is in accordance with the ideology and interests of the media. Every news text contained in print media, as well as online is the result of construction by framing the point of view of an event. This study aims to find out the construction of accurate.co news regarding the Minister of Religion's rules regarding loudspeakers in mosques. Which parts will be eliminated and highlighted by Akurat.co to convey the reality of the news that has been constructed. This study uses the constructivism paradigm with the Zhong Dang Pan and Gerald M. Kosicki model media framing analysis method. This framing analysis model is divided into four analysis structures, namely: syntactic structure, script structure, thematic structure, and rhetorical structure. This study found that there was news framing that led to the element of media Accuracy.co's partiality towards the Ministry of Religion's regulations regarding the rules for loudspeakers in mosques. The construction of reality in the news text carried out by the media accurate.co was carried out as an effort to direct public opinion that Yaqut Cholil Qoumas' statement as chief minister was not to compare the sound of the call to prayer and the sound of dogs barking, but as an example that loud noises can disrupt tolerance in social life.
Kurikulum Pendidikan Seksualitas Berbasis Islam melalui Platform Kelas Webinar Akun Taulebih Muhamad Ibtissam Han; Siti Nurul Izzah Firdausi
GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 2` (2023): GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/90rsqb07

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh Pendidikan seksualitas yang merupakan hal penting untuk dipelajari oleh setiap individu, terutama remaja. Namun, masih banyak masyarakat yang merasa malu dan tabu untuk membicarakan tentang seksualitas. Islam sebagai agama yang mengatur seluruh urusan manusia tentu sangat melarang seseorang melakukan tindakan kekerasan seksualitas, sebab dalam pendidikan seksualitas bukan hanya aspek psikologi, sosial, budaya, hukum tetapi aspek agama juga diperlukan. Kurikulum di sekolah belum dijumpai yang membahas secara detail mengenai pendidikan seksualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui materi dan implementasi kurikulum Taulebih. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, yang mana penelitian ini hanya menganalisis dan menyajikan fakta sehingga mudah dipahami dan disimpulkan, kemudian menggunakan Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari penelitian yang sudah dilakukan didapatkan mengenai materi implementasi kurikulum di platform Taulebih pelaksanannya terstruktur dengan baik. Hal itu sesuai dengan tahapan implementasi kurikulum yang terlaksana. Kemudian, didukung oleh SDM yang berkualitas dan faktor pendukung lainnya juga membuat materi kurikulum dapat tersusun dengan baik.
Pemanfaatan Fasilitas Media Pembelajaran Jarak Jauh pada Mata Pelajaran PAI Muhamad Ibtissam Han; M Farhan; M Andika Saputra; Abdul Rahman; Fatan Akmal Zacky
GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 2 (2024): GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/fktgh615

Abstract

Dalam era globalisasi dan revolusi industri 4.0, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Salah satu bentuk implementasi nyata dari kemajuan TIK dalam dunia pendidikan adalah model pembelajaran jarak jauh (PJJ). Model ini menjadi semakin relevan dan masif digunakan sejak terjadinya pandemi COVID-19, yang memaksa lembaga-lembaga pendidikan di seluruh dunia untuk menggantikan metode tatap muka konvensional dengan pembelajaran daring. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana TIK dimanfaatkan dalam pelaksanaan PJJ, dengan pendekatan kajian kepustakaan (library research). Berbagai teori, pandangan para ahli, serta hasil penelitian terdahulu dikaji untuk membangun pemahaman yang komprehensif terkait efektivitas, tantangan, dan potensi dari pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi. Kajian ini menunjukkan bahwa PJJ berbasis TIK memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kemudahan akses terhadap materi pembelajaran, fleksibilitas waktu dan tempat, serta beragamnya media yang bisa dimanfaatkan dalam proses belajar. Namun demikian, tidak dapat diabaikan adanya berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses internet di wilayah tertentu, rendahnya kompetensi digital sebagian pendidik dan peserta didik, serta minimnya interaksi sosial yang berdampak pada psikologis siswa. Melalui kajian ini disimpulkan bahwa keberhasilan implementasi PJJ berbasis TIK sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola teknologi pembelajaran, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada pemerataan akses pendidikan. Dengan demikian, perlu adanya kolaborasi lintas sektor untuk menjadikan TIK sebagai alat pemajuan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
ANTARA ZUHUD DAN KRITIK KEKAYAAN: KONSTRUKSI MAKNA "CINTA DUNIA" DALAM DAKWAH GUS BAHA DAN GUS ULIL DI MEDIA BARU Muhamad Ibtissam Han
Raqib: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Reaktualisasi Nilai-Nilai Islam di Tengah Perubahan Global
Publisher : Ikatan Sarjana Al-Qur'an Indonesia (ISQI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56872/wns6s388

Abstract

This article examines how preachers of Nahdlatul Ulama (NU) construct the meaning of "worldliness" (hubbud al-dunya) within the context of contemporary digital Islamic preaching in Indonesia, focusing on two prominent figures: K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) and K.H. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil). Amid the growing prominence of prosperity preaching — a mode of religious communication that implicitly or explicitly links piety with material success — both figures have emerged as significant counter-narratives rooted in the Aswaja Sufi tradition. This study employs a qualitative approach utilizing Norman Fairclough's three-dimensional Critical Discourse Analysis (CDA). Primary data were gathered through semi-structured interviews with Gus Ulil  and systematic observation of Gus Baha's sermon content on the YouTube channels Santri Gayeng and LP3IA Official (April–May 2024). The findings reveal that both figures construct markedly different meanings: Gus Baha articulates his anti-worldliness through what this article terms performative asceticism — a lived zuhud (renunciation) embodied in his lifestyle and functioning as a symbolic token of religious authority in digital space — while Gus Ulil offers a critical textual reinterpretation, reading Al-Ghazali's Kitab Dhamm al-Dunya not as a call to literal asceticism, but as a critique of wealth relevant to contemporary materialism. Despite their divergent strategies, both figures share the same traditional roots and function as complementary entry points into Aswaja Sufi ethics, reaching different but overlapping audiences. These findings demonstrate that the NU tradition possesses rich internal resources capable of responding adaptively to consumerism and the commodification of religion in the digital age, while also revealing that religious authority in the digital era is not solely determined by platform mastery.