Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK SUHU DAN SALINITAS VERTIKAL TERHADAP MASSA AIR SELAMA PERIODE IOD (+) , IOD (-) , MUSIM BARAT, DAN MUSIM TIMUR DI SELAT MENTAWAI Rezfiko Agdialta; Fajar Sidiq Ariwibaowo; Ivonne Milichristi Radjawane; Lamona Irmudyawati Bernawis
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 15, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/maspari.v15i1.21080

Abstract

Selat Mentawai merupakan bagian Perairan Barat Indonesia yang secara geografis dilalui fenomena antar tahunan Indian Ocean Dipole (IOD) dan perubahan monsun. Dampak yang ditimbulkan oleh fenomena tersebut terhadap karakteristik massa air, khususnya berkaitan dengan distribusi, stratifikasi dan proses percampuran massa air yang berasal dari Perairan Samudera Hindia menjadi fokus utama penelitian. Lokasi penelitian dilakukan di Selat Mentawai yang secara geografis terletak antara 2,3° – 3,3° Lintang Utara dan 100° – 101,5° Bujur Timur, dimana terbagi dalam 4 periode penelitian yaitu: IOD Positif (+), IOD Negatif (-), Monsun Timur dan Monsun Barat. Kajian dilakukan menggunakan data insitu dari instrumen Conductivity Temperature Depth (CTD) untuk mengukur parameter kedalaman, temperatur, dan salinitas. Analisis data CTD menggunakan diagram T-S yang menunjukan hubungan antara suhu dan salinitas di beberapa kedalaman. Selain itu data model arus yang bersumber dari marine.copernicus.eu digunakan untuk melihat distribusi arus laut secara horizontal. Pengolahan data dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak Ocean Data View (ODV). Secara umum, hasil analisa diagram T-S menunjukan lapisan termoklin berada pada kedalaman antara 50 sampai dengan 150 meter. Dimana lapisan termoklin saat IOD (-) pada kedalaman (92 – 155 meter) dimana lebih dalam daripada IOD (+) pada kedalaman (77 – 130 meter). Lapisan termoklin saat monsun barat pada kedalaman (92,3 - 155,8 meter) lebih dalam daripada monsun timur pada kedalaman (55,7 – 109,7 meter). Arus laut Selat Mentawai dipengaruhi oleh perubahan IOD dan monsun, dimana saat IOD (-) arah arus dominan dari Barat Laut ke Tenggara dan sebaliknya saat IOD (+) arah arus dominan dari Tenggara ke Barat Laut. Sedangkan pada saat monsun barat arah arus dominan dari Barat Laut ke Tenggara. Sebaliknya saat monsun timur arah arus dominan dari Tenggara ke Barat laut. Karakteristik massa air di Upper Water (0 – 500 meter) wilayah Selat Mentawai terdiri dari Benggal Bay Water (BBW), Subtropical Low Water (SLW), South Indian Central Water (SICW), Indonesian Upper Water, dan Indian Equatorial Water. Sementara untuk wilayah Intermidiate Water massa air yang paling dominan berasal dari Red-Sea Persian Intermediate Water (RSPIW). Pada kondisi IOD +, IOD -, Monsun Barat, dan Monsun Timur tidak terdapatnya perbedaan karakteristik massa air.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN NUGGET DAN ABON IKAN DI BAJAWA, KABUPATEN NGADA Ivonne Milichristi Radjawane; Esa Fajar; Jeny Ernawati Tambunan; Saat Mubarrok; Donny Kusuma Hardjani
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 6 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v6i2.9972

Abstract

Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, namun pemanfaatannya masih belum optimal, khususnya dalam aspek pengolahan dan peningkatan nilai tambah produk. Kondisi ini berdampak pada rendahnya konsumsi protein hewani di tingkat rumah tangga yang turut berkontribusi terhadap permasalahan stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui pelatihan pengolahan ikan menjadi produk nugget dan abon sebagai bentuk diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui hands-on training yang meliputi penyampaian materi, demonstrasi, dan praktik langsung oleh peserta. Sasaran kegiatan adalah kelompok ibu PKK dan masyarakat di Bajawa, Kabupaten Ngada. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan berjalan efektif dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Sebanyak 93,94% peserta menyatakan materi mudah dipahami, dan lebih dari 78% responden memberikan penilaian sangat baik terhadap aspek kejelasan materi, kecukupan waktu, serta fasilitas pelatihan. Produk nugget lele dan abon tuna yang dihasilkan memiliki karakteristik yang baik secara teknis dan dapat diterima oleh peserta. Selain itu, 78,79% peserta menyatakan sangat termotivasi untuk mengaplikasikan keterampilan yang diperoleh di rumah, yang mengindikasikan potensi keberlanjutan program.Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program budidaya ikan sebelumnya (budikdamber) dan memperkuat integrasi hulu–hilir dalam sistem pangan berbasis masyarakat. Pelatihan pengolahan ikan terbukti mampu meningkatkan keterampilan, memperpanjang daya simpan produk, serta membuka peluang usaha rumah tangga. Dengan demikian, program ini berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan dan upaya pencegahan stunting melalui pemanfaatan sumber daya perikanan lokal secara berkelanjutan.