I Ketut Sukadana
Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa, Denpasar, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Awig-Awig Terhadap Krama Tamiu di Desa Adat Peladung, Karangasem. I Made Agus Widiana; Diah Gayatri Sudibya; I Ketut Sukadana
Jurnal Konstruksi Hukum Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Konstruksi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/jkh.4.2.6802.190-195

Abstract

Keberadaan krama tamiu di Desa Adat Peladung diatur di dalam Awig-awig untuk menjaga kenyamanan dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kewajiban dan hak krama tamiu di desa adat peladung, karangasem terkait dengan pungutan iuran bagi krama tamiu dan hambatan dalam penerapan awig-awig terhadap krama tamiu di desa adat peladung, Karangasem. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan krama tamiu mengontrak tanah dikenakan 5 kg beras, yang memiliki tanah/rumah dikenakan 10 kg beras, yang mencari pekerjaan di Desa Adat Peladung dikenakan 10 kg beras. Sedangkan Hak krama tamiu, boleh menggunakan Kuburan, boleh memakai bendesa adat sebagai saksi pernikahan, boleh meminta penjagaan pecalang jika berlangsung acara adat. Hambatan internal berasal dari Desa Adat Peladung, krama desa yang menerima krama tamiu tidak melapor dalam waktu 2 x 24 jam. Hambatan eksternal saat pemungutan uang iuran krama tamiu sulitnya bertemu krama tamiu saat pembayaran iuran.
The Urgence of Writing Awig's Pararem in Increasing Community Legal Awareness in Traditional Village Pelem Gede, Tabanan I Ketut Sukadana; Luh Putu Suryani; Ni Made Puspasutari Ujianti; I Ketut Jika; Kadek Ayu Surya Dwi Utami
Community Service Journal of Law 66-71
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.2.2.2023.66-71

Abstract

Desa Adat is a traditional village in Bali which has been autonomous since its inception. Each Traditional Village has its own management and assets, and has the authority to make rules, known as awig-awig and/or pararem. It turns out that the program partners do not yet have pararem panyahcah awig as rules for implementing awig-awig. By providing accessible and relevant information about legal rights, responsibilities, and processes, "Pararem Panyahcah Awig" equips community members with the knowledge they need to navigate legal matters effectively. s to emphasize the importance and necessity of documenting and disseminating the local customary laws, known as Awig's Pararem, within the context of the Traditional Village Pelem Gede in Tabanan. The method used in this service program is by: (1) giving lectures or legal counseling about the importance of a pararem panyahcah awig in life in a traditional village, (2) carrying out focus group discussions (FGD) on pararem drafts, and (3) provide assistance in making traditional village pararem. The result of this program activity is the compilation of an awig pararem with a total of 42 Pawos, in accordance with the awig-awig mandate set forth in Pawos-Pawos (article). With the pararem panyahcah awig, the community will be wiser in acting and behaving in their association in society. Therefore, it will indirectly increase legal awareness.