Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN LESTARI

INTERPRETASI POTENSI EKOWISATA RIAM PANGAR DUSUN SEGONDE DESA PISAK KECAMATAN TUJUH BELAS KABUPATEN BENGKAYANG KALIMANTAN BARAT Slamet Rifanjani; kory altika; Joko Nugroho Riyono; Munadian Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.55660

Abstract

Riam Pangar is one of the natural water attractions located in the Watershed which is sourced from the Mount Nyiut Nature Reserve, Bengkayang Regency. This study aims to identification and to promote the potential that exists in Riam Pangar, Riam Pangar's physical potential, biological potential, socio-cultural community and infrastructure. This study uses direct observation and direct interviews with respondents. Data analysis is presented in a qualitative descriptive form. Based on the results of exploration and direct interviews with community leaders, namely, the Head of Hamlet, Temenggung Indigenous, and Local Communities, Riam Pangar ecotourism has very good potential to be visited by outsiders. There is an information center that can give visitors an idea of what to see, know and learn in the area. Promotions have been carried out on several social media such as YouTube, Instagram, Facebook, and TikTok. The potential that exists in Riam Pangar is flora, fauna, tourism objects and community culture. Diversity of flora species, namely Tristaniopsis sp, Durio sp, family Orchidaceae, spices, bamboo and others. The fauna consists of a diversity of species, namely Sus scrofa, Tragulus kanchil, Muntiacus muntjak, python sp, Sciades sp, Aves and others. The existing tourist objects are white water rafting, body rafting, tubing, photo spots, tracking paths and fishing arenas. Community culture has traditions and rituals every year, namely: Ngawah (tradition for land clearing), Ngebiong (tradition for pamulu rice or cleaning grass that interferes with rice growth), Ngebrang Pangutum or Gawai (tradition for harvesting), Berapek Saw'a (year-end ritual), the Welcoming Dance (which is used in big events), the Tariu Dance (which is used for the ritual of Berapek Saw'a or closing the year).Keywords: Interpretation, Promotion, Riam Pangar, Tourism Potential, AbstrakRiam Pangar adalah salah satu obyek wisata alam perairan yang terletak di Daerah Aliran Sungai yang bersumber dari Cagar Alam Gunung Nyiut Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperkenalkan potensi yang ada di Riam Pangar potensi fisik Riam Pangar, potensi biologis, sosial budaya masyarakat dan sarana prasarana. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dan wawancara langsung terhadap responden. Analisis data disajikan dalam bentuk deksritif kualitatif. Berdasarkan hasil eksplorasi dan wawancara langsung kepada tokoh masyarakat yaitu, Kepala Dusun, Temenggung Adat, dan Masyarakat Lokal mengenai ekowisata Riam Pangar memmiliki potensi yang sangat baik untuk dikunjungi oleh masyarakat luar. Terdapat pusat informasi yang dapat memberikan gambaran kepada pengunjung tentang apa yang dilihat, diketahui, dan dipelajari di daerah tersebut. Promosi telah dilakukan di beberapa media sosial seperti youtobe, instagram, facebook, dan tiktok. Potensi yang ada di Riam Pangar adalah flora, fauna, objek wisata dan budaya masyarakat. Keanekaragaman jenis flora yaitu Tristaniopsis sp, Durio sp, famili orchidaceae, rempah-rempah, bambu dan lain-lain. Fauna yang terdiri dari keanekaragaman jenis yaitu Sus scrofa, Tragulus kanchil, Muntiacus muntjak, python sp, Sciades sp, Aves dan lain-lain. Objek wisata yang ada adalah arum jeram, body rafting, tubing, spot foto, jalur tracking dan arena memancing. Budaya masyarakat adanya tradisi dan ritual setiap tahun yaitu : Ngawah ( tradisi untuk pembukaan lahan ), Ngebiong ( tradisi untuk pamulu padi atau membersihkan rumput yang mengganggu pertumbuhan padi ), Ngebrang Pangutum atau Gawai ( tradisi untuk panen ), Berapek Saw’a ( ritual tutup tahun), Tarian Penyambutan ( yang digunakan di acara besar ), Tarian Tariu ( yang digunakan untuk ritual Berapek Saw’a atau tutup tahun ).Kata kunci:Interpretasi , Potensi Wisata, Promosi, Riam Pangar.
KEANEKARAGAMAN JENIS AMFIBI (ORDO ANURA) DI KAWASAN HUTAN RUMAH PELANGI SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROVINSI KALIMANTAN BARAT Slamet Rifanjani; Buhana Panjaitan; Erianto Erianto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.62954

Abstract

Rumah Pelangi forest area has an area of 105 ha, made to preserve and maintain the biodiversity in the surrounding environment including types of amphibians. The research aims to record the diversity of natural amphibian (Ordo Anura) species in Rumah Pelangi Forest area. Research using survey method and data collection techniques using Visual Encounter Survey (VES) combined with the transect method. Research results there are 12 species of amphibians (Ordo Anura) in the Rumah Pelangi forest area. Hylarana erythraea was the most common species with an index value of 26.9%. The level species of amphibian diversity (Ordo Anura) is in the medium category with a species diversity index value (H') of 2.07. The dominance index of amphibian spcies is in the low category with a value of 0.1604. The evenness species of amphibian is in the high category with a species evenness index (e) of 0.8330. The similarity species of amphibian is in the very high category with value of 95.6%. Chance ecounter in the Rumah Pelangi forest area with value 3,656 individuals per hour.Keywords: Amphibian, anura, species diversity.AbstrakKawasan hutan Rumah Pelangi memiliki luas 105 ha, dibuat untuk melestarikan dan memelihara keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitarnya termasuk jenis-jenis amfibi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman amfibi (Ordo Anura) di kawasan hutan Rumah Pelangi. Penelitian dengan metode survei dan teknik pengumpulan datanya menggunakan Survei Perjumpaan Visual (VES) dikombinasikan dengan metode jalur. Hasil penelitian terdapat 12 spesies amfibi (Ordo Anura) pada kawasan hutan Rumah Pelangi.  Hylarana erythraea merupakan jenis paling banyak dijumpai dengan nilai indeks kelimpahan sebesar 26,9%. Tingkat keanekaragaman jenis amfibi (Ordo Anura) termasuk kategori sedang dengan nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) sebesar 2,07. Indeks dominansi jenis amfibi masuk kategori rendah dengan nilai sebesar 0,1604. Kemerataan jenis amfibi masuk kategori tinggi dengan nilai Indeks kemerataan jenis (e) 0,8330.  Kesamaan jenis amfibi masuk kategori sangat tinggi dengan nilai sebesar 95,6%. Peluang perjumpaan Anura di kawasan hutan Rumah Pelangi dengan nilai sebesar 3,656 individu/jam.Kata kunci: Amfibi, anura, keanekaragaman jenis.