Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN KOEFISIEN ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN BETON K350 DAN K400 SESUAI KARAKTERISTIK DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL BATU, PASIR EX TAKARI DAN PORTLAND CEMENT (PC) EX KUPANG Rachmad Djoko Siswoyo; Stefen Ndun; Ambrosius Raha Lelang Wayan
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 1 No 2 (2016): JUTEKS JURNAL TEKNIK SIPILJUTEKS (Jurnal Teknik Sipil)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3541.943 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v1i2.110

Abstract

Sampai saat ini perhitungan harga satuan pekerjaan beton yang di pakai sebagai dasar acuan di kalangan jasa konstruksi masih memakai dasar perhitungan BOW dan SNI, tanpa mengetahui komposisi campuran yang sebenarnya. Sedangkan dari pihak konsultan perencana pelaksanaan pengecoran beton harus sesuai hasil perhitungan struktur salah satunya penetapan karakterik beton (K) sesuai persyaratan hasil perhitungan perencanaan. Sedangkan para pelaksana fisik pekerjaan (kontraktor) harus mengadakan uji laboraorium untuk mengetahui komposisi campuran sesuai material yang akan dipakai dimana pekerjaan tersebut dilaksanakan dengan harus mencapai karakteristik beton yang diinginkan. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap masing-masing material yang tersedia, dengan demikian sangat mempengaruhi terhadap indeks koefisen analisa untuk menghitung harga satuan pekerjaan beton. Hasil analisis sesuai uji material di laboratorium sesuai Karakteristik Beton K350 material Pasir Takari dan Portland Cement ( PC) Ex Kupang perbandingannya adalah 1.14 Portland Cement : 1,66 Pasir : 1,94 Batu Pecah dan untuk mutu beton sesuai Karakteristik Beton K400 material Pasir Takari dan Portland Cement ( PC) Ex Kupang perbandingannya adalah 1,19 Portland Cement : 1,29 Pasir : 2,10 Batu Pecah. Sedangkan nilai indeks koefisien analisa pekerjaan harga satuan beton sesuai Karakteristik Beton Mutu K400 dengan memakai material Pasir Takari dan Portland Cement (PC) Ex Kupang adalah Semen = 9,640 Zak, Pasir =1,585M3, Batu Pecah =1,624 M3,Pekerja = 7,200 Orang /Hari, Tukang = 1,200 Orang/Hari, Mandor = 0,360 Orang/Hari, Kepala Tukang = 0,120 Orang /Hari. Adapun nilai indeks koefisien untuk pekerjaan Beton Mutu K400 dengan memakai material Pasir Takari dan Portland Cement ( PC) Ex Kupang adalah Semen = 9,690 Zak, Pasir =1,352M3, Batu Pecah = 1,758 M3, Pekerja = 7,200 Orang/Hari, Tukang= 1,200 Orang/Hari, Mandor=0,360 Orang/Hari. Dengan demikian hasil penelitian ini sebagai acuan perhitungan satuan pekerjaan beton sesuai ketersediaan material yang tersedia di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain itu sebagai masukan kepada Pabrik Semen Kupang untuk menjaga mutu dan kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini untuk mempertahankan mutu karena semen Kupang merupakan aset daerah salah satunya yang berada di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Monitoring Vertikalitas dan Perubahan Elevasi Gedung di Kota Kupang Menggunakan Metode Leveling Presisi sebagai Upaya Mitigasi Risiko Gempa Bumi: Monitoring Building Verticality And Elevation Changes In Kupang City Using Precision Leveling Methods As An Earthquake Risk Mitigation Strategy Yacob Victor Hayer; Fabianus J. S. Nope; Marie Mistika Juniarti Alma Bembot; Ambrosius Raha Lelang Wayan
Media Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14 No. 2 (2026): Media Ilmiah Teknik Sipil
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the results of levelling observations conducted on eleven buildings with various functions, including educational facilities, social and cultural buildings, health facilities, and commercial structures. The observations were carried out to assess levelling values against elevation standards and the vertical condition of the buildings as indicators of structural stability. Based on the analysis, the measurement compliance rate ranged from 73.27% to 100%, with an average of 91.22% and a standard deviation of 9.77%, indicating that the measurement quality is generally good. Most educational buildings recorded levelling values above 90%, while several other buildings showed deviations at specific observation points. The evaluation of physical conditions shows that 63.64% of the buildings are in an upright condition, whereas 36.36% exhibit slight tilting. Although the detected tilt levels are still considered safe, these conditions require periodic monitoring to ensure that no progressive structural settlement occurs. Overall, the study indicates that the structural stability of the buildings within the observation area is relatively good; however, buildings with lower levelling values and slight tilting are recommended for follow-up observations. This research highlights the importance of regular elevation monitoring as part of a Structural Health Monitoring (SHM) system to ensure the safety and service life of buildings.