Sayyidah Syaekhotin, Sayyidah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pesantren dan Spirit Bisnis Santri (Studi Sinergi Etos Belajar Dan Etos Kerja Santri dalam Pengembangan Bisnis Pondok Pesantren) Syaekhotin, Sayyidah
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 10 No. 1 (2016): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.625 KB)

Abstract

Abstrak Pondok Pesantren merupakan lembaga dan wahana pendidikan agama sekaligus sebagai tempat komunitas santri yang “ngaji“ ilmu agama Islam. Pondok Pesantren sebagai lembaga tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian (indigenous) Indonesia , sebab keberadaanya mulai dikenal di bumi Nusantara pada periode abad ke 13 – 17 M, dan di Jawa pada abad ke 15 – 16 M. Adapun hasil penelitian ini sebagai berikut transformasi pertama terjadi ketika tradisi pendidikan pesantren berhadapan dengan model pendidikan moderen yang diperkenalkan Belanda melalui politik etis, secara selektif dan kritis pesantren dapat mengadaptasi model modernisasi pendidikan tersebut, tanpa harus keluar dari tradisionalitasnya. Transformasi kedua yaitu, sebagaiman terjadinya konsolidasi organisasi pesantren dengan manajemen moderen. Dimana pada saat yang sama terdapat kecenderungan kuat pesantren untuk melakukan konsolidasi organisasi kelembagaan, khususnya pada aspek kepemimpinan dan manajemen. Secara tradisional, kepemimpinan pesantren diimpin oleh satu orang atau dua orang kiai, yang biasanya merupakan pendiri pesantren yang bersangkutan. Kata kunci: Pengembangan bisnis, Pondok Pesantren
INTELIGENSITAWÂDHU' Studi Pengembangan Kecerdasan Visual Spasial Dalam Sikap Tawadhu’ Santri Pesantren Syaekhotin, Sayyidah
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 11 No. 2 (2016): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.617 KB)

Abstract

Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam yang di pandang paling kompeten dalam menamkan pendidikan akhlaq bagi para santrinya, dalam ruang pensatren nilai-nilai moral diaplikasikan melalui pembiasaan sehingga membudaya, salah satunya adalah sikap tawadhu’ yang begitu popular di kalangan santri, namun demikian dalam penerapan sikap tawadhu’ ada kalanya sebagian santri yang memakai tawadhu’ dengan tidak tepat, dimana pada saat santri diminta unjuk eksistensi justru malah engan berunjuk eksistensi lantaran takut dikatakan tidak tawadhu’. Menurut para ulama’ sikap tawadhu’ merupakan hasil dari kecerdasan bersikap yang harus di dahului dengan kemampuan menavigasi hati dari goda’an hawa nafsu yang selalu ingin menyombongkan diri lantara melihat kelebihan diri dihadapan orang lain disatu sisi, disisi yang lain tawadhu’ juga kemampuan menavigasi hati untuk menghindar dari bisikan rasa takut, was-was dan minder ketika berhadapan dengan dengan pribadi yang memiliki kelebihan, baik status social,ekonomi dan keilmuanya. Sehingga sikap tawadhu’ dapat di sebut sebagai kemampuan menempatkan diri ditengah-tengah diantara sombong dan rendah diri, itulah yang di sebut rendah hati.Sehingga dalam mengimpelentasikan sikap tawadhu’ seseorang haruslah memiliki kepekaan ruang dan visual, kapan kita harus bersikap tawadhu’.Diskurdus kecerdasan kepekaan ruang dan visual masyarakat tersebut (kecerdasan visual sapasial) memberikan kontribusi akan pentingnya kesadaran ruang sosial, dengan mengembangkan (mencangkok) kecerdasan ini dalam ruang belajar santri diharapkan memiliki keakuratan dan ketepatan dalam bersikap tawadhu’ . inilah yang disebut sebagai inteligensi tawadhu’ , sublimasi kecerdasan visual sapsial yang mendorong kemampuan menempatkan diri di tengah ruang- ruang social masyarakat yang dinamis, agar dapat diterima dengan elegan sehinga dapat mengamalkan ilmunya ditengah-tengah masyarakat, hal ini sesuai dengan akar kata tawadhu’ sendiri yang berasal dari kata wadhoa yang artinya meletakan.