Muhammad Riza Hanafi
Universitas Brawijaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Transformasi Global

Climate Refugee: Tantangan Bagi Tata Kelola Global Muhammad Riza Hanafi
Jurnal Transformasi Global Vol. 2 No. 1 (2015): Transformasi Global (JTG)
Publisher : Department of International Relations, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jtg.v2i1.22

Abstract

Abstract The terminology of Climate refugee is not new. It is somtimed mixed with another concept such as environmental refugee,climate-change refugee, environmental-induced migrant, or climate induced migrant. The concept of environmental refugees itself was introduced for the first time in 1970s and since then it attracted many researcher in the academic community to study it as part of environment/climate change studies. Although academically this phenomenon has been studied by many researchers, however it has not been taken seriously in the policy of global governance. This paper will argue that there are at least three reasons why issue on climate refugees is a challenge to global governance of the 21st century. Keywords: climate, environmental, global governance
Majuro Declaration: “Kudeta” Kepemimpinan Isu Perubahan Iklim Muhammad Riza Hanafi
Jurnal Transformasi Global Vol. 3 No. 1 (2016): Transformasi Global (JTG)
Publisher : Department of International Relations, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jtg.v3i1.46

Abstract

Ketika negara-negara besar tak lagi bersedia memimpin penanganan terhadap isu perubahan iklim, negara-negara Kepulauan Pasifik memproklamirkan diri sebagai pemimpin. Bagi mereka, “To lead is to act,” memimpin adalah dengan bertindak. Melalui Majuro Declaration negara-negara tersebut tidak hanya menyatakan kepemimpinannya namun juga menyatakan komitmennya untuk melakukan tindakan nyata dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Hanya saja, deklarasi ini ironis mengingat bahwa negara-negara Kepulauan Pasifik adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terkecil di dunia namun paling rentan perubahan iklim. Jika produksi emisi gas rumah kaca tetap pada laju seperti sekarang maka kenaikan tinggi air laut dipastikan akan menenggelamkan sebagian dari wilayah mereka. Berharap pada negara-negara maju untuk “memimpin” dunia mengatasi perubahan iklim bukan perkara mudah. Kisah “tragis” Protokol Kyoto yang “ditinggalkan” oleh negara-negara emiter besar membuktikan teorema realis bahwa setiap negara hanya membela kepentingannya masing-masing. Deklarasi Majuro adalah penegasan terhadap posisi mereka, soft power mereka, sebagai pihak yang memiliki legitimasi dan otoritas moral untuk berseru agar dunia serius mengatasi perubahan iklim.Kata kunci: Perubahan iklim, Kepulauan Pasifik, soft power, Majuro Declaration