Suke Indah Khumaero
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Wasathiyyah Menurut Sayyid Quthb dalam Kitab Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an (Analisa Sosiologi Pengetahuan Peter Ludwig Berger) M. Nurwathani Janhari; Suke Indah Khumaero
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i1.18328

Abstract

Isu mengenai pola beragama yang wasathiyyah mendapat perhatian yang cukup luas di era ini. Hal tersebut tidak terlepas dari munculnya paham ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Bahkan, isu tersebut mendapat perhatian yang cukup serius dalam beberapa kitab tafsir khususnya dalam kitab tafsir Fi Zhilal Al-Qur‟an yang menjadi objek material dalam penelitian ini. Berangkat dari latar belakang tersebut, penelitian ini hendak menelisik pandangan Sayyid Quthb mengenai konsep wasathiyyah dalam kitab tafsir Fi Zhilal Al- Qur‟an, serta menganalisa pandangan tersebut dengan menggunakan pendekatan Sosiologi Pengetahuan dari Peter Ludwig Berger. Dengan menggunakan analisa sosiologi pengetahuan dari Peter Ludwig Berger akan terlihat bahwasanya setiap pengetahuan bersifat subjektif dan tidak bebas nilai, karena setiap pengetahuan dipengaruhi oleh subjektivitas dari pengarang itu sendiri atau dalam hal ini mufassir. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya, bagi Sayyid Quthb, konsep wasathiyyah dipahami sebagai suatu tata cara beragama yang seimbang dalam beberapa aspek, seperti bersikap wasathiyyah dalam pandangan, keyakinan, pemikiran, perasaan, peraturan, keserasian hidup, ikatan, hubungan, tempat, maupun zaman. Dengan melihat pendapat Sayyid Quthb tersebut dengan menggunakan Sosiologi Pengetahuan dari Peter Ludwig Berger akan terlihat bahwasanya pendapat tersebut tidak terlepas dari pandangan Sayyid Quthb mengenai Barat. Bagi Sayyid Quthb, setelah melakukan kunjungan ke Amerika dalam kapasitasnya sebagai konsultan Pendidikan, ia berpandangan bahwasanya Barat memiliki paham materialistis yang kering dari nilai-nilai ketuhanannya, yang mengakibatkan munculnya berbagai masalah sosial. Oleh sebab itu, bagi Sayyid Quthb, hal tersebut akan dapat teratasi melalui konsep yang ada dalam Islam, terlebih lagi konsep wasathiyyah yang tertuang dalam Qs. Al-Baqarah [2] : 143.
Fiqih Al-Aqalliyyat dalam Perspektif Wasathiyyah: Analisis Pemikiran Abdullah bin Bayyah Lola Yuanda Arlinza; Moh Khusen; Saskia Afridah; Suke Indah Khumaero
Journal of Sharia and Legal Science Vol. 3 No. 3 (2025): Journal of Sharia and Legal Science
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jsls.v3i3.1574

Abstract

This study aims to analyze in depth the concept of fiqh al-aqalliyyat from the perspective of wasathiyyah based on the thought of Abdullah bin Bayyah, as well as explain the contribution of this concept to the development of minority Muslim fiqh today. The focus of the research is on the methodological aspect in the formation of Islamic law for minority Muslim communities who often face conflicts between the normative provisions of sharia and modern social conditions. This study uses a qualitative approach with normative and conceptual analysis methods of the main work of Abdullah bin Bayyah as a primary data source, supported by various jurisprudence literature and contemporary Islamic thought. The findings of the study show that there is a pattern of legal thinking that emphasizes maqāṣid al-syarī'ah, the principle of maslahat, and the value of moderation (wasathiyyah) as the main framework in Fiqh al-Aqalliyyat. The conclusion of the study underlines that the added value of this study lies in the systematic elaboration of the relationship between wasathiyyah and Fiqh al-Aqalliyyat, which has not been explicitly explained in previous research.