Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Spasial Temporal Lahan Terbangun Terhadap Rawan Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Cianjur Ayu Mardalena; Yulia Indri Astuty; Adi Wibowo
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/geodika.v7i1.10558

Abstract

Kabupaten Cianjur merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi. Gempa bumi yang melanda Kabupaten Cianjur pada 21 November 2022 memberikan dampak kerugian yang besar bagi masyarakatnya karena wilayah tersebut merupakan wilayah permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui persebaran perubahan penggunaan lahan terbangun di Kabupaten Cianjur tahun 2013 dan 2022 serta menganalisis kesesuaian penggunaan lahan terbangun terhadap daerah rawan bencana gempa bumi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial temporal lahan terbangun pada tahun 2013 dan 2022 terhadap indeks rawan bencana gempa bumi yang dikeluarkan oleh BNPB. Hasil dari penelitian ini adalah perubahan penggunaan lahan terbangun di kawasan ini mengalami peningkatan dari 5.290 Ha menjadi 7.009,63 Ha. Persebaran Penggunaan Lahan terbangun dari tahun 2013 dan 2022 didominasi pada kategori indeks kerawanan sedang dan tinggi serta mengalami peningkatan persentase pada tingkat kerawanan tinggi dari 37,31% menjadi 45,06% luas lahan terbangun.
SPATIAL MULTI-CRITERIA EVALUATION TERHADAP KESESUAIAN KAWASAN PERUNTUKAN INDUSTRI (Studi Kasus : Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi) Yulia Indri Astuty; Adi Wibowo
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v11i2.15300

Abstract

Abstrak: Cikarang Selatan merupakan salah satu kecamatan dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi. Cikarang Selatan mengalami peningkatan populasi sebesar 15,03% dalam kurun waktu 12 tahun. Disisi lain kecamatan ini memiliki Kawasan Peruntukan Industri berdasarkan RTRW Kabupaten Bekasi tahun 2011-2031. Peningkatan populasi penduduk di Kecamatan Cikarang Selatan ini jika tidak diimbangi dengan penataan wilayah berbasis spasial, maka dapat menimbulkan konflik keruangan. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan evaluasi terhadap Kawasan Peruntukan Industri di Kecamatan Cikarang Selatan dengan membuat model spasial berdasarkan metode Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE). Model spasial ini menggunakan 4 variabel sebagai spatial factor dan 1 variabel sebagai spatial constrain. Variabel yang digunakan sebagai spatial factor adalah jarak dari jalan, jarak dari sungai, jarak dari permukiman dan lereng. Sementara itu variabel yang digunakan sebagai spatial constrain adalah Kawasan Peruntukan Industri dari RTRW 2011-2031. Hasil dari penelitian ini adalah persentase kesesuaian Kawasan Peruntukan Industri antara model spasial dengan RTRW 2011-2031 sebesar 59,51%. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan masukan keruangan kepada pemerintah daerah dalam upaya penataan Kawasan Industri yang berkelanjutan di Kecamatan Cikarang Selatan. Abstract:  South Cikarang is one of the 23 sub-districts in Bekasi Regency. South Cikarang experienced a population increase of 15.03% within 12 years. On the other hand, this sub-district has an Industrial Allotment Area based on the 2011-2031 Bekasi Regency Spatial Plans (RTRW). If the population increase in the South Cikarang Subdistrict is not matched by a spatial arrangement of areas, this can lead to spatial conflicts. Therefore, this study evaluates the Industrial Allotment Area in South Cikarang District by creating a spatial model based on the Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) method. This spatial model uses 4 variables as spatial factors and 1 variable as spatial constraints. The variables used as spatial factors are distance from roads, distance from rivers, distance from settlements and slopes. Meanwhile, the variable used as a spatial constraint is the Industrial Allotment Area from the 2011-2031 RTRW. The result of this study is that the percentage of suitability for Industrial Designated Areas between the spatial model and the 2011-2031 RTRW is 59.51%. It is hoped that this research can provide spatial input to the regional government in an effort to structuring a sustainable Industrial Estate in Cikarang Selatan District. 
APPLICATION OF CA-MC FOR PREDICTION OF DEVELOPED LAND EXPANSION IN THE PERSPECTIVE OF KOLKATA CITY, INDIA AND MATARAM CITY, INDONESIA Yulia Indri Astuty; Raldi Hendro Koestoer
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 12, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v12i1.15872

Abstract

Abstrak: Saat ini, negara berkembang seperti India dan Indonesia mengalami peningkatan populasi penduduk di wilayah perkotaan sebagai dampak adanya urbanisasi. Peningkatan penduduk ini berkaitan erat dengan peningkatan lahan terbangun yang menjadi indikator adanya pertumbuhan perkotaan. Pertumbuhan perkotaan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem serta berbagai permasalahan keruangan. Oleh karena itu, diperlukan prediksi perubahan penggunaan lahan/tutupan lahan (LU/LC) sebagai masukan dalam kebijakan tata ruang yang berkelanjutan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk melihat tren penelitian di India dan Indonesia serta melihat perbandingan pola perluasan lahan terbangun di Kota Kolkata, India dan Kota Mataram, Indonesia. Kajian ini dilakukan dengan metode studi literatur dan deskriptif komparatif prediksi perluasan lahan terbangun. Hasil dari penelitian ini adalah metode CA-MC dan remote sensing menjadi tren metode prediksi LU/LC di India dan Indonesia. Kota Kolkata, India dan Kota Mataram, Indonesia mengalami perluasan lahan terbangun yang polanya mengikuti pola pembangunan infrastruktur transportasi. Peningkatan luas lahan terbangun ini diimbangi dengan penurunan luas lahan pertanian.Harapannya penelitian ini dapat digunakan oleh pemangku kebijakan sebagai masukan perencanaan wilayah khususnya di Kota Mataram. Abstract: Currently, developing countries such as India and Indonesia are experiencing an increase in population in urban areas as a result of urbanization. This increase in population is closely related to the increase in built-up land which is an indicator of urban growth. Uncontrolled urban growth can cause damage to ecosystems as well as various spatial problems. Therefore, it is necessary to predict changes in land use/land cover (LU/LC) as input for sustainable spatial planning policies. The purpose of this study is to look at research trends in India and Indonesia and to see a comparison of the expansion patterns of built-up land in the City of Kolkata, India and the City of Mataram, Indonesia. This study was carried out using the method of comparative descriptive and literature study in predicting the expansion of built-up land. The results of this study are that the CA-MC and remote sensing methods are becoming a trend in LU/LC prediction methods in India and Indonesia. The city of Kolkata, India and the city of Mataram, Indonesia experienced an expansion of built-up land whose pattern followed the pattern of transportation infrastructure development. The increase in built-up land area was offset by a decrease in agricultural land area.  Hopefully, this research can be used by policy makers as input for regional planning, especially in Mataram City.