Nera Generasi Hia
a:1:{s:5:"en_US";s:41:"Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto";}

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Keheningan Menurut St. Maximus The Confessor: Proses Mencapai Pemurnian Jiwa, Keheningan berarti menjaga indra, Nera Generasi Hia; Ruby Hatlan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 6 No. 2 (2023): Pentakostalisme di abad ke-21
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v6i2.105

Abstract

Abstrak Artikel ini menganalisis bagaimana sudut pandang St. Maximus dalam buku The Philokalia tentang hidup dalam keheningan. Keheningan merupakan doa batin yang dilakukan terus menerus untuk menjaga diri dari segala hal godaan duniawi. Keheningan adalah sebuah cara bagi manusia untuk menjaga hati dan pikiran dari serangan iblis. Menjaga hati dan pikiran adalah salah satu cara untuk mendatangkan kebajikan. Oleh sebab itu, keheningan merupakan sebuah latihan asketisme untuk mencapai pemurnian jiwa. Latihan asketisme dapat dilakukan dengan pengendalian diri dan doa murni.   Abstract in English This article analyzes how St. Maximus in the book The Philokalia about living in silence. Silence is an inner prayer that is done continuously to protect one self from all worldly temptations. Silence is a way for humans to protect their hearts and minds from demonic attacks. Guarding the heart and mind is one way to bring goodness. Therefore, silence is an exercise in asceticism to achieve soul purification. The practice of asceticism can be practiced by self control and pure prayer.