Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EFISIENSI PENGGUNAAN AIR DAN KROM PADA PROSES TANNING SHEEP CABRETTA MENGGUNAKAN METODE EXHAUSTED TANNING CHROME Akbar Izzulhaq; Mustafidah Udkhiyati; Wahyu Fajar Winata
Berkala Penelitian Teknologi Kulit, Sepatu, dan Produk Kulit Vol 21 No 2 (2022): Berkala Penelitian Teknologi Kulit, Sepatu, dan Produk Kulit
Publisher : Politeknik ATK Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.511 KB) | DOI: 10.58533/bptkspk.v21i2.181

Abstract

This study aims to make chromium and water more efficient in the tanning process. The methods used include water efficiency from 100% to 50% and chromium reduction from 6% to 4% using exhausted chrome tanning method. The raw material used is grade 6 pikel sheepskin and the auxiliary chemical used is acrylic copolymer. The tests carried out were organoleptic, physical and chromium content in the waste. Organoleptic and physical tests showed that the condition of slackness, and the suitability of color on the crust of the pearl white cabretta article had met consumer purchasing standards. In the results of physical testing of samples using the exhausted chrome tanning method, almost all of them meet the test standards from SII-0943-84. Waste testing showed that the use of the efficiency method had a significant decrease in the amount of total chromium, from 757.35 mg/L to 487.80 mg/L.
KOMBINASI ENZIMATIS DAN KIMIAWI UNTUK MEMINIMALISIR PENGGUNAAN Na2S PADA PROSES UNHAIRING Luthfia Zahrotul Jannah; Mustafidah Udkhiyati; Wahyu Fajar Winata
Berkala Penelitian Teknologi Kulit, Sepatu, dan Produk Kulit Vol 21 No 2 (2022): Berkala Penelitian Teknologi Kulit, Sepatu, dan Produk Kulit
Publisher : Politeknik ATK Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.472 KB) | DOI: 10.58533/bptkspk.v21i2.183

Abstract

This research focuses on reducing waste to achieve clean technology by applying a combination of enzymatic and chemicals during the unhairing process. The method applied is to reduce the use of Na2S and NaHS by 0.3% from 2.7% Na2S to 2.4%, 1,5% NaHS to 1.2%, and add a protease enzyme, namely centrobate 1000 LVU by 0.25%. The result based on the trial showed that the addition of an enzyme of 0.25% could remove the hair perfectly and reduce the level of swelling. Moreover, it can produce pickled skin with the same quality. The resulting production waste experienced a significant decrease in COD by 18%, while the BOD was less effective at 1.4%.
Penggunaan Mimosa Sebagai Agen Penyamak Pengganti Formaldehyde pada Proses Penyamakan Kulit Ikan Lencam (Lethrinus lentjan) Laili Rachmawati; Emiliana Anggriyani; Mustafidah Udkhiyati; Nur Mutia Rosiati; Nais Pinta Adetya
Agriekstensia : Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian Vol. 24 No. 1 (2025): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/agriekstensia.v24i1.3701

Abstract

Ikan lencam memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk kulit samak. Permasalahan yang dihadapi adalah masih banyak produksi kulit samak menggunakan bahan penyamak formaldehyde, yang diketahui sebagai bahan penyamak yang tidak aman dan berkontribusi terhadap masalah pencemaran lingkungan. Mimosa merupakan salah satu jenis bahan penyamak alami yang berasal dari tanaman acacia. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan mutu kulit ikan lencam yang disamak dengan mimosa dan formaldehyde dengan standar SNI 06-4586-1998. Proses penyamakan menggunakan drum penyamakan. Kulit ikan lencam disamak dengan 2 perlakuan, yaitu 6% mimosa  dan 6% formaldehyde, dan dilanjutkan dengan proses pasca penyamakan dan finishing. Hasil yang didapatkan yaitu kulit ikan lencam tersamak mimosa memiliki kuat tarik (2.893,87±170,59 N/cm2) dan kuat sobek (629,88±12,84 N/cm) yang lebih rendah dari kulit ikan lencam tersamak formaldehyde (p<0,05), tetapi masih memenuhi standar SNI 06-4586-1998. Kemuluran kulit ikan lencam tersamak mimosa (61,82±2,80%) lebih besar dari SNI 06-4586-1998, tetapi lebih rendah dari kulit ikan lencam tersamak formaldehyde (p<0,05). Suhu kerut kulit ikan lencam tersamak mimosa (68,24±0,33 °C) tidak berbeda nyata (p<0,05) dengan kulit ikan lencam tersamak formaldehyde. Kesimpulan dari enelitian ini adalah bahan penyamak mimosa dapat digunakan sebagai pengganti formaldehyde pada proses penyamakan kulit ikan lencam, sehingga lebih aman untuk lingkungan
TRAINING IN CHICKEN FEET LEATHER TANNING FOR PRODUCING VALUE-ADDED EXOTIC LEATHER FROM POULTRY WASTE Laili Rachmawati; Dian Nur Amalia; Nais Pinta Adetya; Fadzkurisma Robbika; Emiliana Anggriyani; Swatika Juhana; Mustafidah Udkhiyati; Heru Budi Susanto; RLMS Ari Wibowo; Atiqa Rahmawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38873

Abstract

Abstrak: Nilai ekonomis limbah kulit kaki ayam memiliki potensi untuk ditingkatkan karena kulit yang telah melalui proses penyamakan dan finishing akan memiliki penampilan yang lebih menarik serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kulit, seperti tas, sepatu, dan dompet. Pelatihan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan kulit ceker ayam sebagai bahan alternatif bagi industri penyamakan kulit sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah peternakan melalui penerapan teknologi tepat guna. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan partisipatif berbasis praktik, yang melibatkan peserta secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyampaian materi, demonstrasi proses finishing, praktik langsung, diskusi, hingga evaluasi hasil. Pelatihan diikuti oleh 10 peserta yang berasal dari kalangan peternak, pelaku industri kulit, alumni, dan masyarakat sekitar. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam proses finishing kulit kaki ayam. Hal ini ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata pre-test dan post-test dari 75 menjadi 85 serta hasil evaluasi penyelenggaraan yang berada pada kategori sangat baik. Peserta juga mampu menghasilkan kulit kaki ayam dengan tampilan mengkilap dan layak untuk tahap produksi, serta memahami potensi pemanfaatannya sebagai bahan baku bernilai ekonomi. Secara keseluruhan, program pelatihan ini efektif dalam meningkatkan kompetensi peserta dan berpotensi dikembangkan sebagai model pelatihan berkelanjutan berbasis teknologi tepat guna.Abstract: The economic value of chicken feet skin waste has the potential to be increased, as tanned and finished leather exhibits attractive appearance and is therefore ready to be utilized as raw material for leather products such as bags, shoes, and wallets. This training aimed to optimize the utilization of chicken feet skin as an alternative raw material for the leather tanning industry while increasing the added value of livestock waste through appropriate technology. The training employed a participatory, practice- hands-on training, actively involving participants in all stages, including material delivery, finishing processes, discussions, and evaluation. The program was attended by 10 participants consisting of livestock farmers, leather industry practitioners, alumni, and local community. The results demonstrated an improvement in participants’ knowledge and skills in the finishing process of chicken feet leather, as indicated by an increase in the average scores from 75(pre-test) to 85(post-test), along with positive evaluation results. Participants successfully produce leather with a glossy appearance suitable for the production stage and gained an understanding of its economic potential. Overall, the program proved effective in enhancing participants’ competencies and shows strong potential to be further developed as a sustainable training model based on appropriate technology.