Yohana Fajar Rahayu
Sekolah Tinggi Teologi Nusantara, Salatiga

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Black Campaign Absalom dalam Refleksi Kepemimpinan Kristen: Sebuah Kajian Teologis 2 Samuel 15: 1-12 Yohana Fajar Rahayu; Yonatan Alex Arifianto
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v5i1.46

Abstract

Behavior that reasoned deceitfulness often occurs in today's leadership, using unconventional ways to rise and replace previous leadership positions. In the theological study of 2 Samuel 15: 1-12, there is a historical story about how a king's son wanted to coup his parents' leadership deceitfully, namely the black campaign. Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that Christian leadership should answer the problem of leadership regeneration. So actions in the name of power, personal and group interests, with black campaigning behavior are not free to take advantage. Therefore, descriptive black campaigning in the frame of the Bible is a severe lesson regarding honesty and integrity of leadership, as well as being chivalrous to accept leadership calls naturally and based on the Bible. Christian leadership needs to see and study the historical story of Abslom's rebellion using the desire to rule over the kingdom with black campaign intrigue, which can be witnessed in 2 Samuel 15: 1-12. To bring out the value and essence of Christian leadership as a dedicated responsibility to be actualized. Therefore, Christian leadership reflects Absalom's leadership Against black campaigning as a theological study of equipping believers and Christian leadership to live righteously for this world.  AbstrakPerilaku yang bernalar keculasan sering terjadi dalam kepemimpinan dewasa ini, yaitu mengguna-kan cara yang tak lazim untuk naik dan mengantikan posisi kepemipinan terdahulunya. Dalam Kajian teologis 2 Samuel 15: 1-12 dinyatakan ada kisah historis bagaimana seorang anak raja yang ingin mengkudeta kepemimpinan orang tuanya dengan cara yang culas yaitu black campaign. Meng-gunakan metode kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Kristen seha-rusnya menjadi jawaban bagi persoalan regenerasi kepemimpinan. Supaya tindakan yang menga-tasnamakan kekuasaan baik kepentingan pribadi maupun golongan dengan tindakan prilaku black campaign tidak leluasa mengambil keuntungan. Oleh karena itu deskritif black campaign dalam bingkai Alkitab menjadi pembelajaran yang serius terkait kejujuran dan integritas kepemimpinan bersikap kesatria untuk menerima panggilan kepemimpinan secara natural dan berdasarkan Alki-tab. Kepemimpinan Kristen perlu melihat dan mempelajari historis kisah pemberontakan Absalom mengunakan keinginan menguasai kerajaan dengan intrik black campaign yang dapat disaksikan dalam 2 Samuel 15: 1-12. Sehingga memunculkan nilai dan hakikat kepemimpinan Kristen, sebagai tanggung jawab yang berdedikasi untuk diaktualisasikan. Oleh karena itu kepemipinan Kristen dari reflektif kepemimpinan Absalom terhadap black campaign sebagai sebuah kajian teologis memper-lengkapi orang percaya dan kepemimpinan Kristen untuk bersikap hidup benar bagi dunia ini.  
KEPEMIMPINAN KRISTEN DAN NILAI-NILAI HAK ASASI MANUSIA SEBAGAI STRATEGI TEOLOGIS DALAM MENANGKAL RADIKALISME Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu; Semuel Ruddy Angkouw
Manna Rafflesia Vol. 12 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v12i1.610

Abstract

Radicalism developing within religious educational institutions poses a serious threat and challenge to social life and harmony. Religious institutions, which should serve as spaces for character building and spirituality, have the potential to become fertile ground for the spread of extremist ideologies and hatred. The failure to integrate universal human values and theology that respects others is one of the main causes of the weakness of religious organisations. Moreover, the phenomenon of increasing intolerance among the younger religious generation shows a crisis in moral leadership and education based on religious teachings. This study aims to examine the strategic role of Christian leadership and human rights education as a theological approach to countering radicalism in religious educational institutions. Using a descriptive qualitative method based on literature review, it can be concluded that the role of Christian leadership theology as the foundation of anti-radicalism and human rights education from a Christian theological perspective are interdependent elements that must be integrated, encompassing both Christian leadership and human rights education. This serves as a preventive theological strategy, thereby presenting both the value of implementation and the challenges of theological strategy within religious educational institutions.
Detoksifikasi Digital dan Pemulihan Rohani: Rekonstruksi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Teologi dalam Konteks Kesehatan Mental Siswa Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59386/5bet7w83

Abstract

Advanced digital and communication technologies have brought about significant changes in the fields of education and spirituality. However, behind the ease of access to information and communication lies a serious issue: a mental health crisis among students who are addicted to digital devices. This has led to many of them feeling spiritually exhausted and even experiencing emotional burnout. Religious education, which has traditionally focused on cognitive aspects, is deemed insufficiently responsive to the spiritual needs of students. This study aims to reconstruct a Christian religious education approach grounded in theology to facilitate spiritual recovery through digital detoxification practices. The research method used is descriptive qualitative with a literature review approach. It can be concluded that digital detoxification can be an effective spiritual tool in freeing students from the pressures of digital addiction. Therefore, understanding the digital era and the mental health crisis among students must be prioritised. Furthermore, the concepts of theology and spirituality of recovery in Christian education must be able to detoxify digital as a process of Christian spirituality. Thus, this can reconstruct and integrate the Christian religious education curriculum in spiritual recovery.
Eklesiologi Digital dan Banalitas Spiritualitas dalam Kepemimpinan Kristen Pastoral: Tantangan Gereja di Era Disrupsi Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu; Yonatan Alex Arifianto
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 2 (2026): Philoxenia: Jurnal Pendidikan Kristiani dan Teologi - Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philoxenia.v4i2.41

Abstract

This study aims to analyse the dynamics of digital ecclesiology and the banality of spirituality in Christian pastoral leadership in an era of disruption, highlighting the impact of technological transformation on the depth of faith and contemporary church practices. The method employed is descriptive qualitative research through a literature review, examining various theological texts, academic journals, and relevant sources to gain a comprehensive understanding of the phenomenon. The findings indicate that the development of the digital space has driven the expansion of church ministry, yet simultaneously given rise to a tendency towards instant, consumerist, and superficial spirituality. Pastoral leadership faces a serious challenge in maintaining a balance between digital relevance and theological depth amidst the dominance of algorithmic logic. These findings underscore the need for a critical and integrative reconstruction of digital ecclesiology through a leadership approach rooted in the values of authentic spirituality. In this way, the church can preserve its theological identity whilst responding to change in an adaptive and transformative manner. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika eklesiologi digital dan banalitas spiritualitas dalam kepemimpinan Kristen pastoral di era disrupsi, dengan menyoroti dampak transformasi teknologi terhadap kedalaman iman dan praktik gerejawi kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, dengan mengkaji berbagai literatur teologis, jurnal ilmiah, dan sumber relevan untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai fenomena tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan ruang digital mendorong perluasan pelayanan gereja, namun sekaligus memunculkan kecenderungan spiritualitas yang instan, konsumtif, dan dangkal. Kepemimpinan pastoral menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara relevansi digital dan kedalaman teologis di tengah dominasi logika algoritma. Temuan ini menegaskan perlunya rekonstruksi eklesiologi digital yang kritis dan integratif melalui pendekatan kepemimpinan yang berakar pada nilai spiritualitas autentik. Dengan demikian, gereja dapat mempertahankan identitas teologisnya sekaligus merespons perubahan secara adaptif dan transformatif.
Teologi Feminis dan Dinamika Kesetaraan Gender dalam Pelayanan Gereja di Tengah Globalisasi Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual; Yonatan Alex Arifianto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.816

Abstract

Modern globalisation has brought significant changes to various aspects of life, including social dynamics and religious practices in the church, which demand new theological reflection on gender roles. Gender inequality remains a major issue, with women often experiencing limitations in their access to leadership positions and full participation in church ministry. On the other hand, traditional theology tends to maintain a patriarchal paradigm that limits perspectives on gender equality and influences pastoral practices. This study aims to analyse the contribution of feminist theology in shaping the dynamics of gender equality in church ministry amid modern globalisation. Using a qualitative research method with a literature review approach, it can be concluded that feminist theology serves as a critical framework that challenges patriarchal paradigms in theology and church practice. Through a biblical reinterpretation that is sensitive to women's experiences, feminist theology opens up a space for a more just and equal understanding of gender relations. The dynamics of gender equality in church structures and ministry require institutional and cultural transformation. AbstrakGlobalisasi modern telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dinamika sosial dan praktik keagamaan di gereja, yang menuntut refleksi teologis baru terkait peran gender. Ketimpangan gender masih menjadi isu utama, di mana perempuan seringkali mengalami keterbatasan dalam akses terhadap posisi kepemimpinan dan partisipasi penuh dalam pelayanan gereja. Di sisi lain, teologi tradisional cenderung mempertahankan paradigma patriarkal yang membatasi perspektif kesetaraan gender dan mempengaruhi praktik pastoral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi teologi feminis dalam membentuk dinamika kesetaraan gender dalam pelayanan gereja di tengah globalisasi modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dapat disimpulkan bahwa teologi feminis berfungsi sebagai kerangka kritis yang menantang paradigma patriarkal dalam teologi dan praktik gereja. Melalui reinterpretasi biblika yang sensitif terhadap pengalaman perempuan, teologi feminis membuka ruang pemahaman yang lebih adil dan setara terhadap relasi gender. Dinamika kesetaraan gender dalam struktur dan pelayanan gereja menuntut transformasi institusional dan kultural.
Kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik Sebagai Model Pedagogi Gerejawi Menghadapi Generasi Z di Era Post Truth Yonatan Alex Arifianto; Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The post-truth era presents serious challenges for church education because the truth of faith is increasingly perceived subjectively and emotionally by Generation Z. Church education often experiences a crisis of relevance due to pedagogical approaches that are still doctrinal and instructional, with an emphasis that is less dialogical. This research aims to examine the leadership of Jesus in the Synoptic Gospels as a relevant ecclesiastical pedagogy model in addressing Generation Z in the post-truth era. The research method used is a qualitative approach with literature study and theological analysis of the Synoptic Gospel texts. The conclusion of this research states that the nature of Jesus' leadership in the Synoptic Gospels presents a fundamental theological framework for the formation of faith and ecclesiastical leadership practices. The leadership of Jesus can serve as a model of transformative and dialogical pedagogy, capable of addressing the challenges of Generation Z and the truth crisis in the post-truth era. The implications of these findings indicate that ecclesiastical pedagogy needs to emphasize exemplary conduct, relationships, and real-life experiences to build relevant and contextual faith formation.   Abstrak Era post-truth menghadirkan tantangan serius bagi pendidikan gerejawi karena kebenaran iman semakin dipersepsikan secara subjektif dan emosional oleh Generasi Z. Pendidikan gereja kerap mengalami krisis relevansi akibat pendekatan pedagogis yang masih bersifat doctrinal dan instruksional terlebih penekanannya kurang dialogis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik sebagai model pedagogi gerejawi yang relevan dalam menghadapi Generasi Z di era post-truth. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literature dan aanalisis  teologis terhadap teks Injil Sinoptik. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa  hakikat kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik menghadirkan kerangka teologis yang mendasar bagi pembentukan iman dan praktik kepemimpinan gerejawi. Kepemimpinan Yesus dapat dijadikan model pedagogi yang transformatif dan dialogis, mampu menjawab tantangan Generasi Z serta krisis kebenaran di era post-truth. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa pedagogi gerejawi perlu menekankan keteladanan, relasi, dan pengalaman hidup nyata untuk membangun formasi iman yang relevan dan kontekstual.   Kata Kunci: Kepemimpinan Yesus, Injil Sinoptik, Generasi Z, Post-Truth
TRANSFORMASI GEREJA TRADISIONAL MENUJU GEREJA DIGITAL DALAM MENJAWAB TANTANGAN ERA TEKNOLOGI INFORMASI MODERN Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Alucio Dei Vol 10 No 2 (2026): Alucio Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i2.319

Abstract

Perkembangan teknologi informasi modern telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam ranah keagamaan. Gereja sebagai institusi keagamaan yang memiliki fungsi spiritual dan sosial turut dihadapkan pada tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika digitalisasi yang kian pesat. Pola ibadah, pelayanan pastoral, serta komunikasi antarjemaat yang sebelumnya berpusat pada ruang fisik kini mulai bertransformasi ke dalam bentuk digital yang lebih fleksibel dan interaktif. Fenomena meningkatnya penggunaan media digital oleh gereja dalam menyelenggarakan ibadah daring dan pelayanan rohani menjadi indikasi nyata dari pergeseran paradigma pelayanan keagamaan di era teknologi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi gereja tradisional menuju gereja digital serta implikasinya terhadap kehidupan beriman umat di tengah perubahan sosial-teknologis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian literatur dan analisis fenomenologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi ini bukan sekadar adaptasi teknologis, melainkan strategi eksistensial gereja dalam mempertahankan relevansi dan misi spiritualnya. Digitalisasi memungkinkan gereja menjangkau umat lebih luas, memperkuat partisipasi iman, serta menciptakan model pelayanan baru yang kontekstual dan berkelanjutan.
Analisis Teologis Fintech terhadap Etika Keuangan Keluarga Sederhana Berbasis Gereja Kontemporer Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v5i1.107

Abstract

Abstract: Abstract: This study aims to analyse, from a theological perspective, the impact of developments in financial technology on the financial ethics of ordinary families within the context of the contemporary church, with an emphasis on the integration of faith and economic practice. The methodology employed is descriptive qualitative, utilising a contextual theological approach and Christian ethical analysis based on a review of the literature. The research findings indicate that fintech offers ease of access and financial efficiency, yet it also fuels consumerist behaviour, digital debt dependency, and a weakening of family financial discipline. On the other hand, the church has not yet responded optimally to these changes through systematic and contextual financial ethics education. The integration of Christian economic theology, family ethics and fintech literacy is crucial in fostering critical awareness amongst the congregation. The study’s conclusion emphasises that the church needs to develop a faith-based financial education model that is adaptive, reflective and transformative to strengthen stewardship and the economic stability of families in the digital age.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis secara teologis dampak perkembangan teknologi finansial terhadap etika keuangan keluarga sederhana dalam konteks gereja kontemporer, dengan menekankan integrasi antara iman, praktik ekonomi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui pendekatan teologi kontekstual dan analisis etika Kristen berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fintech menghadirkan kemudahan akses dan efisiensi keuangan, namun juga memicu perilaku konsumtif,  dan ketergantungan utang digital, serta melemahnya disiplin finansial keluarga. Di sisi lain, gereja belum optimal merespons perubahan ini melalui pendidikan etika keuangan yang sistematis dan kontekstual. Integrasi antara teologi ekonomi Kristen, etika keluarga, dan literasi fintech menjadi penting dalam membentuk kesadaran kritis jemaat. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa gereja perlu mengembangkan model edukasi keuangan berbasis iman yang adaptif, reflektif, dan transformatif untuk memperkuat penatalayanan serta stabilitas ekonomi keluarga di era digital.
Transmisi Kepemimpinan Lintas Generasi Berbasis 2 Timotius 2:2: Paradigma Pendidikan Kristen bagi Generasi Z di Era Post-Truth Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.430

Abstract

Pendidikan Kristen pada era post-truth menghadapi tantangan serius dalam mentransmisikan kepemimpinan iman yang berakar pada kebenaran mutlak alkitabiah kepada Generasi Z. Fragmentasi dari relativisme kebenaran, dan dominasi narasi digital berkaitan dengan hoak menyebabkan melemahnya proses kaderisasi kepemimpinan gerejawi yang berkelanjutan. Teks 2 Timotius 2:2 menjadi rujukan teologis penting untuk memahami bagaimana Paulus merancang transmisi kepemimpinan yang berorientasi lintas generasi atau inter generasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep transmisi kepemimpinan Paulus menurut 2 Timotius 2:2 serta relevansinya bagi pendidikan Kristen Generasi Z di era post-truth. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskritif dengan pendekatan studi eksegetis dan studi literature. Maka dapat disimpulkan bahwa berangkat dari konteks historis dan teologis 2 Timotius 2:2, kepemimpinan Paulus menegaskan pentingnya transmisi iman dan otoritas pelayanan secara sadar, berlapis, dan berkesinambungan dalam komunitas Kristen. Analisis eksegetis ayat ini menunjukkan bahwa konsep transmisi kepemimpinan Paulus tidak hanya bersifat pewarisan ajaran, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan kompetensi pengajar yang dapat dipercaya lintas generasi. Dalam konteks era post-truth, paradigma kepemimpinan Paulus menjadi landasan strategis bagi pendidikan Kristen untuk menumbuhkan pemimpin yang berakar pada kebenaran Injil, kritis terhadap relativisme, dan setia mentransmisikan iman secara autentik.