This Author published in this journals
All Journal Buletin Al-Turas
Zakiya Darajat, Zakiya
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Warisan Islam Nusantara Darajat, Zakiya
Buletin Al-Turas Vol 21, No 1 (2015): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.393 KB) | DOI: 10.15408/bat.v21i1.3827

Abstract

AbstrakDi tengah perbenturan dua arus utama yang saling tarik menarik antara arus sekulerisme-liberal Barat dan arus fundamentalisme-radikal Timur Tengah, Islam Nusantara—dengan berbagai macam karakteristiknya—berhasil mempertahankan warna kemoderatannya. Sikap mengambil jalan tengah dalam segala dimensi kehidupan keberagamaan sangat selaras dengan watak dan karakteristik umat Islam Indonesia yang sangat fleksibel, toleran dan terbuka dalam menerima dan mensikapi segala perbedaan tradisi, pandangan dan keyakinan keberagamaan, sehingga melahirkan kearifan lokal (local wisdom), serta corak dan warna Islam Nusantara yang sangat khas, berupa Islam yang ramah, toleran, dan pluralistik. Karakteristik Islam Indonesia yang toleran, ramah, smiling, dan flowering ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba, akan tetapi merupakan hasil sebuah proses panjang yang telah dilalui umat Islam Indonesia, menyangkut profil para tokoh pendakwah Islam, metode yang digunakan dalam penyebaran Islam di Nusantara, sarana dan media penyebaran Islam, juga relasinya dengan kekuasaan politik. Beberapa hal inilah yang turut mempengaruhi begitu kokohnya warna moderatisme Islam di Nusantara. Kini, Islam Nusantara telah banyak melahirkan warisan peradaban sebagai harta peninggalan yang tak ternilai harganya, sekaligus sebagai bukti otentik betapa Islam telah ikut  memberi corak dan warna bagi kemajuan peradaban masyarakat Muslim Indonesia maupun dunia---AbstractIn the midst of the clash between two mainstreams; ‘liberal-secularism’ of the West mainstream and radical-fundamentalism of Middle East mainstream, Islam Nusantara—with its various characteristics—managed to maintain its moderate color. The attitude to choose moderate way in every dimension of religious life is in line with the nature and characteristics of Indonesian muslim community which is flexible, tolerant, and open minded to receive and respond with the various of traditions, views, and religion belief to create local wisdom, characteritistics, and the distinctive type of Islam Nusantara that shows friendly, tolerant, and pluralistic Islam. The characteristics of Indonesian muslims which are tolerant, friendly, smiling, and flowering do not suddenly appear, but it is the result of a long process experienced by Indonesian muslim community, including the profile of Islamic figures, method used to spread Islam in Nusantara, infrastructure and media of spreading Islam, and its relation with political power. These factors influence the strength of moderation of Islam in Nusantara. Currently, Islam Nusantara has created civilization heritage as precious inheritance, as well as authentic evidence showing that Islam has contributed to the civilization progress of Indonesian muslim community specifically, and the world population generally.
Probematika Agama dan Negara: Perspektif Sejarah Darajat, Zakiya
Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 1 (2019): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab and Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v25i1.8682

Abstract

Discourse on the relationship between religion and state seems to be a discourse that never ends to be discussed. The emergence of a statement of President Jokowi on March 24, 2017 which discourse the separation between religion and politics immediately launched a public reaction. Some agreed, but many also criticized. For those who agree with the statement Jokowi reasoned that religion is often used as a politician tool that has the potential to divide the nation. But for those who reject Jokowi's statements argue that the separation of religion from the state is the same as denying the basis and philosophy of the state which has historically been extracted from the values of the religiosity of the Indonesian nation itself. Using historical, sociological and political approaches, this article intends to analyze how discourses on the relation between religion and state taking place in Indonesia in the historical perspective, as well as the problems it causes. This paper proves that although experiencing ups and downs, judging from the historical geneologi, the life of the nation and the state of Indonesia can not be separated from the values of religiosity. Both are always symbiotic mutualism. Putting the Godhead of the One Supreme God as the first principle in Pancasila, is in fact an acknowledgment of the importance of religious values in the life of the nation and the state.---Diskursus tentang relasi antara agama dan negara seolah menjadi wacana yang tak pernah usai untuk dibahas. Munculnya statemen Presiden Jokowi pada 24 Maret 2017 yang mewacanakan pemisahan antara agama dan politik segera menyeruakkan reaksi publik. Ada yang mengiyakan, tapi banyak juga yang mengecam. Bagi yang setuju dengan statemen Jokowi beralasan bahwa agama sering kali dijadikan sebagai alat politisasi yang berpotensi memecah belah bangsa. Namun bagi mereka yang menolak statemen Jokowi berargumentasi bahwa upaya pemisahan agama dari negara sama halnya dengan mengingkari dasar dan falsafah negara yang secara historis justru digali dari nilai-nilai religiusitas bangsa Indonesia itu sendiri. Dengan menggunakan pendekatan sejarah, sosiologis dan politik, artikel ini bermaksud menganalisis bagaimana diskursus tentang relasi antara agama dan negara yang terjadi di Indonesia dalam perspektif sejarah, serta problematika yang ditimbulkannya. Tulisan ini membuktikan bahwa meskipun mengalami pasang surut, dilihat dari geneologi kesejarahan, kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai religiusitas. Keduanya senantiasa bersimbiosis mutualisme. Diletakkannya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam Pancasila, sejatinya merupakan  sebuah pengakuan akan pentingnya nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.