Fransina Matakena
Program Studi Sosiologi. FISIP. Universitas Pattimura.

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENDATANG BARU PASCA KONFLIK SOSIAL TAHUN 1999 DI KOTA AMBON Fransina Matakena; Syane Matatula
KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Vol 4 No 2 (2021): KOMUNITAS: JURNAL ILMU SOSIOLOGI
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/komunitasvol4issue2page16-26

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan dua pendekatan dalam paradigma kualitatif, penelitian naratif dan penelitian fenomenologi. yang menggambarkan tentang kondisi pendatang yang sudah menetap lama sebelum konflik sosial terjadi di Kota Ambon, dan pendatang yang datang pasca konflik sosial di Kota Ambon. Penelitian ini dilakukan pada negeri Batumerah Kecamatan Sirimau dan Waringin Kelurahan Nusaniwe Kota Ambon. Konsep Hidup Orang Basudara menjadi icon orang Maluku dalam hidup bersama, saling menyatu dalam kehidupan tanpa ada rasa curiga, saling bergandengan menuju hidup yang berdampingan satu dengan yang lain, pendatang lama yang mendiami Kota Ambon bisa berdampingan secara baik dengan masyarakat lokal serta ada dalam harmonisasi hidup orang basudara yang terangkai indah dalam kebersamaan, pendatang baru mengalami kemandekan nilai-nilai hidup orang basudara karena sulitnya beradaptasi, asimilasi bahkan akulturasi sehingga menimbulkan social distance dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pendatang baru mengalami kesulitan menginternalisasi nilai hidup orang basudara karena pendatang sulit adaptasi yang baik, masih mempertahankan kosmos daerah setempat. Kata Kunci: Konsep Hidup Orang Basudara, Pendatang Baru, Kesulitan Internalisasi.
VATU MERAH SEBAGAI SATU SIMBOL HUBUNGAN ADE DAN KAKA ANTARA ADODO FORDATA DENGAN TANIMBAR KEI Evathalia D. O. Ratunara; Prapti Murwani; Abdul R. Malawat; Fransina Matakena
KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Vol 5 No 1 (2022): KOMUNITAS: JURNAL ILMU SOSIOLOGI
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/komunitasvol5issue1page22-34

Abstract

Pada masa sekarang ini banyak pergeresan budaya dan kultur dari masyarakat akibat perkembangan sains dan teknologi. Vatu Mera merupakan sebuah prastasi budaya antara Desa Adodo Fordata dengan Tanimbar Kei. Prastasi budaya ini sebagai simbol ikatan ade dan kaka yang tidak terpisahkan dan dalam kesatuan yang utuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana interaksi sebelum dan sesudah didirikannya prasasti Vatu Merah. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan adanya partisipasi Vatu Mera sangat baik di tengah masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hubungan persaudaran yang rukun dengan hidup teratur dan menghagai atar dua etnis yang berbeda. Prasasti Vatu Mera dianggap sangat penting bagi hubungan mereka yang sudah ada sejak lama. Pandangan masyarakat terhadap prasasti Vatu Merah merupakan sebuah bukti sejarah bagi generasi muda yang akan datang, agar mereka tahu bahwa mereka memiliki ikatan ade-kaka antara Tanimbar Kei dengan Desa Adodo Fordata.
GEBA DALAM KEHIDUPAN ORANG BURU Fransina Matakena; Jouverd Fendli Frans; Clementina O Rumlus
KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Vol 6 No 1 (2023): KOMUNITAS: JURNAL ILMU SOSIOLOGI
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/komunitasvol6issue1page53-61

Abstract

Interaksi yang baik dalam kehidupan masyarakat diperlukan untuk membangun hubungan dengan sesama dalam bingkai kehidupan manusia, yang saling menghargai dan mendukung dalam budaya yang berbeda. Masyarakat Buru dengan sapaan Geba yang selalu dilakukan oleh masyarakat ini pada saat berpapasan dengan sesama mereka. Sapaan Geba mengandung arti salam atau ucapan yang memberi makna yang berarti bagi masyarakat Buru. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan menyangkut asumsi dan juga tindakan daam melakukan suatu kejadian, temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Geba adalah satu budaya yang dilakukan oleh orang Buru sejak dulu kala hingga saat ini dengan sapaan Geba maka orang megetahui bahwa ada ikatan serta hubungan yang baik dengan sesama masyarakat Buru dalam membangun kehidupan yang baik, Geba merupakan salam dan hormat bagi sesama masyarakat Buru dan kembali dibalas dengan Gam-do yang memiliki arti bagaimana, sehingga percakapan akan dilanjutkan setelah sapaan itu dilakukan. Kata kunci : kebudayaan, sapaan Geba, kekerabatan
Ecotourism, Cultural Identity, and Social Transformation in Indigenous Island Communities: Evidence from Hukurila, Indonesia Zetriani Uktolseja; Aholiab Watloly; Pieter Jacob Pelupessy; Fransina Matakena
KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Vol 9 No 1 (2026): Komunitas Volume 9 Issue 1, May 2026 (On Process)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/komunitasvol9issue1page68-87

Abstract

This study examines the relationship between ecotourism development, cultural identity, and social transformation within the indigenous island community of Hukurila. The research investigates how ecotourism shapes cultural preservation, community participation, and socio-economic transformation in the context of sustainable tourism governance. Employing a qualitative descriptive approach grounded in tourism sociology, data were collected through in-depth interviews, participant observation, documentation, and field notes involving customary leaders, local government officials, tourism managers, residents, youth groups, tourism entrepreneurs, and visitors. The findings reveal that ecotourism has strengthened local economic opportunities while simultaneously transforming social relations, livelihood patterns, and community participation. Indigenous cultural identity remains preserved through customary rituals, local wisdom, and traditional governance systems integrated into tourism practices. However, tourism expansion also generates sociological challenges, including cultural commodification, unequal access to tourism benefits, environmental pressures, and shifts in traditional authority structures. The study introduces the concept of “Indigenous Island Ecotourism Sociology,” emphasizing the interconnected relationship between marine ecology, customary institutions, cultural identity, social participation, and sustainable tourism governance. This research contributes to tourism sociology and indigenous studies by demonstrating that ecotourism functions not only as an economic activity but also as a medium of cultural resilience, identity negotiation, and community adaptation in coastal societies.