ABSTRAK Nilai kompetensi Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama perekat bangsa (PB) selama Tahun 2021 dan 2022 menunjukkan adanya anomali nilai kompetensi. Kompetensi PB memiliki range lebih kecil dibandingkan range kompetensi-kompetensi lainnya. Modusnya pun adalah paling rendah dari semua kompetensi. Mengapa terjadi? Apakah asesor kurang mumpuni menggali kompetensi asesi? Apakah alat ukurnya kurang akurat? Apakah alat ukurnya memang sulit untuk dibangun? Ataukah memang kamus kompetensinya itu sendiri yang patut dievaluasi terkait definisi kompetensi dan indikator perilaku PB? Karya ini berusaha menjawab satu saja dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, yakni terkait akurasi alat ukur yang digunakan. Temuan penelitian ini adalah bahwa anomali itu salah satunya berakar pada akurasi alat ukur yang digunakan untuk menilai PB. Sebanyak 57% asesor, menilai bahwa PB merupakan kompetensi alat ukurnya paling sulit menggali atau memunculkan bukti perilaku (evidence). Hal itu bukan hanya dalam penentuan skor akhir melainkan sejak dalam pemberian skor per simulasi, baik In Basket, LGD maupun Wawancara Kompetensi. Dalam persepsi para asesor, soal-soal In Basket, LGD dan pertanyaan-pertanyaan Wawancara Kompetensi yang selama ini digunakan untuk menggali kompetensi PB, akurasinya lebih rendah dibandingkan untuk menggali kompetensi-kompetensi lainnya. Solusinya adalah para asesor SDM Aparatur perlu melakukan uji coba alat ukur terlebih dahulu sebelum digunakan, sehingga instrumen yang digunakan benar-benar valid untuk dipakai. Di samping itu, para asesor juga perlu mencari dan mengembangkan alternatif instrumen lain di samping in basket, LGD dan wawancara kompetensi. Akhirnya, pihak manajemen Assessment Center pun perlu memprogramkan kegiatan pengembangan bagi para asesor agar semakin berkompeten dalam menyiapkan instrumen penilaian yang berkualitas.