RISA PRAMITA WILDA FITRIA
Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RELEVANSI PENERAPAN JIZYAH BAGI NON-MUSLIM PADA MASA SEKARANG RISA PRAMITA WILDA FITRIA
As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History Vol 2 No 1 (2023): JANUARI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/assyifa.v2i1.275

Abstract

Jizyah merupakan pungutan yang ditetapkan kepada non-muslim sebagai imbalan atau bayaran atas kemanan hidup mereka. Jizyah sendiri pada dasarnya sudah ditetapkan dalam al-Qur’an dan Hadis. Penetapan mengenai kewajiban jizyah sendiri pertama kali dilaksanakan setelah turunnya QS. At-Taubah ayat 29. Selain itu dalam hadis nabi juga disebutkan beberapa hadis mengenai kewajiban memungut jizyah kepada Majusi. Selain penetapan kewajiban pungutan tersebut hadis lain juga menyebutkan besaran jizyah yang harus dibayar. Kemudian dalam perkembangannya, permasalahan mengenai jizyah ini semakin berkembang sedemikian rupa. Bebrapa permasalahan yang melatarbelakangi hal tersebut antara lain mengenai pemaknaan hukum jizyah itu sendiri pada masa sekarang. Selain permasalahan tersebut, objek penyebutan ahl al-dzimmah juga menjadi permasalahan pada masa sekarang. Di mana, penyebutan ahl al-dzimmah sendiri dianggap sudah tidak relevan pada masa sekarang. Selain itu, ulama kontemporer tidak mewajibkan non-muslim untuk membayar pajak kepada pihak muslim, karena baik muslim maupun non-muslim merupakan warga negara yang hidup secara damai dan berdampingan. Ulama kontemporer juga berpendapat bahwasannya hal ini sudah tidak berlaku karena pada dasarnya pemerintahan saat ini sudah menggunakan bentuk nation state atau negara kesatuan. Dalam meneliti permasalahan tersebut, penulis berusaha menggunakan metode kritik matan dan kritik hadis dengan memaparkan dalil-dalil pendukung mengenai hadis dengan tema serupa, serta memaparkan pendapat ulama dalam memaknai konsep jizyah itu sendiri serta relevansi penerapan jizyah pada masa sekarang ini.
DINAMIKA HUBUNGAN ISLĀM DAN PERADABAN MODERN DALAM PEARADIGMA ALTERNATIVE MODERNITIES Risa Pramita Wilda Fitria
Mawaizh : Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 15 No. 1 (2024): Vol 15 No 1 (2024) : Harmony in Belief
Publisher : Faculty of Da’wa and Islamic Communication, State Institute for Islamic Studies of Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/maw.v15i1.4086

Abstract

This research delves into a comprehensive exploration of the dynamics between Islām and modern civilization when viewed through the concept of Alternative Modernities . With the aim of deeply understanding the influence of Islām in the modern world, uncovering the challenges faced by Islām in the contemporary era, and exploring fresh ideas within Islāmic thought related to modernity. Qualitative approaches and literature research are employed to delve into the perspectives of prominent figures such as Nurcholish Madjid, Muhammad Iqbal, and Fazlur Rahman. The findings of this research document the monumental contributions of Islām in politics, economics, and science within modern civilization. However, amidst the tumult of globalization, complex challenges arise, such as controversial interpretations of religious teachings and intense debates on social issues and human rights. Within the framework of Alternative Modernities, Islām offers a perspective of modernity that is not only scientific but also reflects moral values while maintaining the authenticity of religious identity. Reforming Islāmic thought and practices, including creatively adapting to culture and harmoniously integrating religious values with the demands of modernity, become crucial elements in this discussion. This research not only provides profound insights but also enlivens the complexity of the relationship between Islām and modern civilization by recognizing cultural diversity and understanding modernity through a fresh and contextual alternative perspective.