Haris Sukendar, Haris
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

POLA-POLA HIAS TOPENG (KEDOK), SUATU KAJIAN FUNGSIONAL Sukendar, Haris
Berkala Arkeologi Vol. 9 No. 2 (1988)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v9i2.529

Abstract

Pola hias kedok (topeng) di Indonesia muncul sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut (epipaleolitik) (Van Heekeren, 1972). Munculnya pahatan kedok pada masa tersebut ditandai dengan bentuk-bentuk muka manusia yang digambarkan pada ceruk-ceruk gua karang.
DOLMEN'S DECORATION PATTERNS IN SUMBA, INDONESIA Sukendar, Haris
Berkala Arkeologi Vol. 8 No. 2 (1987)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v8i2.488

Abstract

In this article, An Introduction to a Unique Culture of Sumba, HB. Mude assumed that the first settlers of Sumba came by boat from Malaka, Singapore, Riau, Java, Bali, Sima, Rote and Sabu, under the leadership of Umbu Mandoku and his wife, Rambu Humba. To honour his wife, the island was named Humba or Sumba. Sumba consists of West and East Regency. The climate is relatively hot with short rainy season and prolonged dry period. Sumba is a typical karst region, and bordered by the alluvial plain of Melolo areas, from where the river Melolo now flows eastward.
DESCRIPTION ON THE MEGALITHIC TRADITION OF INDONESIA Sukendar, Haris
Berkala Arkeologi Vol. 8 No. 1 (1987)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v8i1.483

Abstract

Megalithic remains are widely distributed over nearly all the regions of Indonesia, among others in Sumatra, Nias, Java, Bali, Sulawesi, Sumba, Sumbawa, Aores, Sabu etc. There are various forms of megalithic remains which have their own characteristics in certain areas. For instance, the megalithic remains in Nias are known as osa-osa (seats) and dane-dane (tables). Lampung is known for its dolmen. In West Java the stepped terrace are wellknown, while there are kalamba in Central Sulawesi and sarcophagi in Bali. Megalithic remains exhibit wider range of forms as more and more are discovered in various parts of Indonesia.
TINJAUAN ARCA MEGALITIK TINGGIHARI DAN SEKITARNYA Sukendar, Haris
Berkala Arkeologi Vol. 5 No. 2 (1984)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v5i2.423

Abstract

Situs megalitik, Tinggihari terletak di Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan). Daerah ini biasa disebut dengan dataran tinggi Pasemah. Peninggalan tradisi megalitik Tinggihari khususnya dan Pasemah pada umumnya sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Para arkeolog Belanda banyak menulis tentang peninggalan ini, antara lain. Tombrink (1827).Ulmann(1850), Westenenk (1921), Van der Hoop (1932), dan lainlain. Walaupuri demikian problema tentang peninggalan ini tetap masih belum terpeeahkan dan perdebatan-perqebatan terjadi tanpa berkesudahan. Untuk pengungkapan latar belakang peninggatan ini masih perlu dilakukan penelitian sistematis, baik survei maupun ekskavasi. Dengan demikian data artefaktual maupun non artefaktual secara horisontal maupun vertikal dapat terekam, sebagai bahan pengungkapan. Daerah Pasemah saat ini menjadi lebih terkenal, karena adanya reneana pemugaran situs Tinggihari sebagai taman purbakala (archaeological-park) (Sukendar 1984).