Moch. Dienul Fajry Kadir
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pola Hubungan Sosial dan Eksistensi Masyarakat Hindu Tolotang di Desa Kalosi Alau, Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan Moch. Dienul Fajry Kadir; Hasbi Hasbi; Muh. Iqbal Latief
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.762 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i5.11933

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang pola hubungan sosial dan eksistensi pada masyarakat benteng Tolotang di desa Kalosi alau kabupaten Sidrap. Istilah benteng Tolotang terdiri dari kata “Tolotang” dan “Benteng”. Tolotang berasal dari istilah toriolota yang disingkat menjadi rakyat dan riolota artinya untuk sekali kemudian disingkat menjadi nama Tolotang. Kemudian tolotang ini menjadi kepercayaan masyarakat setempat. Artikel ini juga mendeskripsikan keberadaan Hindu Tolotang dalam masyarakat Bugis, yang sebagian besar berdomisili di Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan. Tolotang pada awalnya adalah agama lokal kuno orang Bugis yang telah berafiliasi ke Hindu sejak tahun 1966, sehingga sekarang dikenal sebagai Hindu Tolotang. Pilihan mereka untuk berafiliasi ke Hindu disebabkan oleh tekanan dari komunitas agama lain selama beberapa abad. Masyarakat Benteng Tolotang merupakan komunitas masyarakat yang memiliki dua unsur, yaitu unsur Islam dan unsur Tolotang, mereka mengakui sebagai Tuhannya para Dewa SeuwaE Mereka dan Sawerigading sebagai Nabinya. Dan mereka memiliki kitab suci berupa lontara-lontara, memiliki pemmali-pemmali Benteng Tolotang yang dipimpin oleh seorang “Uwatta” sebagai tokoh informal. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus dengan mengambil informan sebanak 3 orang dengan observasi dan wawancara . Hasil penelitian ini menunjukkan struktur sosial Benteng Tolotang berdimensi dua yaitu vertikal dan horizontal, dan pola hubungan sosial dalam masyarakat Benteng Tolotang terdapat dua pola hubungan yaitu uwatta sebagai pemimpin spiritual dalam masyarakat mempercayai Benteng Tolotang dan uwatta sebagai pemimpin informal dalam masyarakat. Dengan demikian, keputusan para pemuka agama lokal Tolotang untuk berafiliasi ke dalam agama Hindu pada tahun 1966, sebenarnya memiliki landasan yang tepat. Implementasi perbedaan antara Hindu Tolotang dengan komunitas Hindu dari etnis lain disebabkan oleh prinsip desa (tempat), kala (waktu), dan patra (situasi dan kondisi), serta perbedaan yang diekspresikan dari konsep satwam (ketaatan), siwam (keagungan), dan sundaram (keindahan) dalam agama Hindu.