Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODEL INTERVENSI KEPATUHAN MINUM OBAT DAN KONTROL GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: TINJAUAN SISTEMATIS Nabilla Andasari Putri; Zakky Cholisoh
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 18 No 1 (2023): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v18i1.1538

Abstract

Latar Belakang: Pengobatan oral pada pasien diabetes mellitus tipe 2 berhubungan dengan perilaku kesadaran diri dan peningkatkan kualitas hidup. Namun, ketidakpatuhan terhadap pengobatan diabetes menyebabkan komplikasi penyakit parah hingga kematian. Faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan dibagi menjadi 2 yaitu intentional dan unintentional. Intentional adalah kondisi dimana pasien memilih untuk tidak mau patuh, sedangkan untentional adalah kondisi dimana pasien sebenarnya ingin patuh terhadap pengobatan namun tidak bisa. Mayoritas ketidakpatuhan yang terjadi penyebab intentional lebih banyak dibandingkan unintentional. Pendekatan multidisiplin tenaga kesehatan dapat mendukung keberhasilan kepatuhan dan dapat meningkatkan manajemen perawatan diabetes yang lebih efektif. Salah satu pendekatan dalam perawatan diabetes yaitu dengan melibatkan seorang apoteker. Tinjauan skrining penelitian yang dilakukan menggunakan jenis RCT, jurnal yang dipilih menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis efektivitas intervensi apoteker dalam meningkatkan kepatuhan minum obat oral pada diabetes mellitus tipe 2. Metode: Skrining penelitian di database pubmed, google schoolar, science direct dan jenis penelitian menggunakan randomized controlled trials. Kualitas penelitian dinilai dengan menggunakan CASP Randomised Controlled Trial Standard Checklist. Kriteria inklusi meliputi jurnal diambil tahun 2007-2021, pasien usia (≥18 tahun), intervensi dilakukan oleh farmasi, full text, metode intervensi berupa konseling, terdapat kelompok control dan kelompok intervensi, terdapat hasil laboratorium gula darah, jurnal yang diambil dilakukan di Asia. Kriteria eksklusi meliputi judul tidak berhubungan, duplikasi, tidak terdapat abstrack, tidak full text, metode intervensi tidak berupa konseling, melakukan intervensi bukan seorang farmasi/Apoteker, bukan pasien DM tipe 2, tipe artikel tidak RCT, tidak terdapat kelompok control, populasi anak-anak dan wanita hamil, pasien patuh terhadap pengobatan, pengobatan non oral, penelitian tidak dilakukan di Asia, tidak membahas intervensi, file tidak bisa dibuka. Diikuti pencarian kata kunci menggunakan "Type 2 diabetes mellitus" [All Fields] AND “adherence” [All Fields] AND “pharmacist counseling” [All Fields]. Hasil: Dari 466 jurnal, 8 jurnal dimasukkan dalam systematic review. Delapan jurnal meneliti asalan ketidakpatuhan pasien terkait kontrol pengobatan dan minum obat. Intervensi Apoteker diberikan dengan berbagai metode yang berfungsi untuk meningkatkan kepatuhan pada pasien. Hasil menunjukan bahwa dari semua jurnal pada kelompok intervensi yang diberikan konseling jauh lebih baik dalam peningkatan pengukuran kualitas hidup (QoL), pasien lebih mengetahui informasi terkait penyakit dan obat diabetes melitus tipe 2, perubahan gaya hidup dan pola makan, penurunan secara signifikan pada nilai kadar gula darah dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan: Intervensi apoteker dengan pemberian konseling berpotensi meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan diabetes mellitus tipe 2 yang ditandai dengan dampak peningkatan persepsi pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan diabetes mellitus tipe 2, perubahan gaya hidup, perubahan pola makan, peningkatan kualitas hidup dan pasien bisa lebih mengontrol glukosa darah. Kata kunci : Kepatuhan, Farmasi Konseling, Diabetes Mellitus Tipe 2
Profile of Intravenous Admixture Drugs in Newborn Patients at Dr. Moewardi General Hospital Surakarta Inesya Febrianing Rizki; Zakky Cholisoh
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 20 No. 02 Desember 2023
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v20i2.21236

Abstract

Intravenous admixtures are sterile solutions prepared by mixing one or more different drugs with a suitable solvent and given to patients via the intravenous route. One of the factors causing contamination of the intravenous preparation mixture is an error in the aseptic technique during the preparation phase. Errors in aseptic techniques can cause infection. Newborns (neonates) are children under the age of 28 days. During 28 days of birth, have the highest risk of dying. The rate of potential adverse drug events (ADE) is three times higher in children than adults and substantially higher in neonates receiving intensive care. Intravenous admixture therapy, often performed in general wards, is highly susceptible to bacterial contamination which can result from aseptic technique errors. Bacterial contamination in intravenous preparations can cause infection which can trigger septic shock to death. The purpose of this study was to evaluate the suitability of the mixing process and the process of administering intravenous admixture drugs to infant patients. This study was conducted on infant or neonatal patients who were hospitalized in general wards and special intensive wards for babies in hospitals. Dr. Moewardi Surakarta. The research took place from February to March 2020 and was carried out using a prospective observational method. The inclusion criteria for this study were patients receiving parenteral drug therapy with complete medical records. Analysis of drug miscibility/insolubility was carried out using Handbook an Injectable Drugs edition 17 as the main reference and ASHP Drug information handbook 2021 edition. The results of this study, the percentage of solubility of injectable drugs that dissolved was 44 times administration (36.7%). For the administration of insoluble drugs 3 times (2.5%) and 73 (60.8%) administrations there was no information regarding the solubility of the drugs given. The study concludes that although there is incompatibility potential information references, at the direct observation was no incompatibility found. The administration of the two potentially insoluble drugs was carried out with different syringe containers.