The Christian-Muslim conflict is moving forward and has not yet reached a peace climax which is comprehensive and accommodating the whole, at least, the specific intention of religions. The religious conflict includes dogmatics, politics, rights to construct temples, education, and other related dimensions. Hospitality offers constructive conversation to Christian-Islam relations in Indonesia. Using the qualitative descriptive method, this research portrays a hospitality comparison between two distinct religious perspectives. Eventually, Islamic hospitality relates to wealth and worldly pleasure, while Christianity considers hospitality part of spiritual and divine participation. AbstrakKonflik agama Kristen-Islam terus bergulir dan belum mencapai titik klimaks perdamaian yang komprehensif dan mengakomodasi seluruh, atau paling tidak, sebagian besar kepentingan agama. Pertikaian agama meliputi konflik dokmatika, politik agama, hak-hak mendirikan bangunan ibadah, pendidikan dan berbagai aspek lainnya. Hospitalitas menawarkan percakapan yang konstruktif bagi agama Kristen-islam di Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menampilkan hospitalitas sebagai objek perjumpaan dari dua perspektif tradisi agama yang berbeda, yaitu Kristen dan Islam. Pada akhirnya, hospitalitas Islam memiliki korelasi dengan kemakmuran dan kekayaan dunia, berpusat pada diri manusia dan berkaitan erat dengan ritual keagamaan sedangkan Kristen menganggap hospitalitas sebagai manifestasi cinta kasih, berfokus pada ilahi, dan bagaian dari partisipasi spiritual dengan Tuhan.