Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Evaluasi Butir Soal Pilihan Ganda Penilaian Tengah Semester dalam Pembelajaran Tematik untuk Kelas V di SDN Gladak Anyar 4 Pamekasan Ria Kasanova; Roni Sulistiyono
Journal on Education Vol 6 No 1 (2023): Journal On Education: Volume 6 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v6i1.3773

Abstract

This research was conducted with the aim of evaluating the validity, level of difficulty, discriminating power, effectiveness of the distractor, and reliability of multiple choice questions in the Mid Semester Assessment in fifth grade thematic learning at SDN Gladak Anyar 4 Pamekasan. The research method used is a quantitative descriptive approach. There are two themes in the Mid Semester Examination Questions, namely theme 6 with 20 questions and theme 7 with 19 questions. Evaluation of the validity of the questions, level of difficulty, discriminating power, effectiveness of the distractor, and reliability was carried out using Microsoft Excel 2010. The subjects of this study were fifth grade students, and data collection was carried out using documentation techniques. The results of this study indicate that the quality of the questions is high. (1) The validity of the questions in theme 6 were 19 questions (95%) and in theme 7 were 18 questions (94.74%) declared valid. (2) The difficulty level of the questions in theme 6 consisted of 13 questions (68.42%) which were categorized as easy and 2 questions (10.53%) which were categorized as difficult. In theme 7, there are 11 questions (61.11%) which are categorized as easy, so there are questions with difficulty levels that do not meet good quality. (3) The discriminating power of questions on theme 6 consisted of 10 items (52.63%) which were categorized as poor and 1 item (5.26%) which were categorized as good. In theme 7, there are 6 items (33.33%) which are categorized as not good and 3 items (16.67%) which are categorized as good. Therefore, the questions fall into the category of moderate discriminating power. (4) The effectiveness of the distractor in theme 6 consisted of 1 item (5.26%) which was categorized as very good, 8 items (42.11%) which were categorized as good, and 6 items (31.58%) which were categorized as poor. In theme 7, there were 4 items (22.22%) which were categorized as very good, 4 items (22.22%) which were categorized as good, and 3 items (16.67%) which were categorized as poor. Thus, the questions fall into the category of the effectiveness of a good distractor. (5) The reliability of the questions in theme 6 is 0.9592, while in theme 7 it is 0.8950, indicating that the questions have high reliability and high quality.
PEREMPUAN DALAM NOVEL “PEREMPUAN KEMBANG JEPUN” KARYA LAN FANG Anisa Fajriana Oktasari; Ria Kasanova
Jurnal Bebasan Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bebasan.v7i1.100

Abstract

Peneliti tertarik meneliti masalah perempuan dalam novel karya Lan Fang, karena perempuan-perempuan yang ditampilkan dalam novel karya Lan Fang memiliki bermacam kepribadian. Bermacam kepribadian ini dilatarbelakangi oleh budaya atau latar yang berbeda-beda, antara lain perempuan yang berasal dari Cina, perempuan berpendidikan, dan perempuan di bawah garis kemiskinan yang terdapat dalam novel yang berjudul Perempuan Kembang Jepun. Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana Lan Fang memandang dan menilai sosok perempuan dari sudut pandang Lan Fang sendiri. Perempuan yang disajikan antara lain: perempuan mandiri, perempuan dengan ketergantungan pada laki-laki, perempuan dari kaum marginal. Teori yang mendukung dalam penelitian ini adalah teori feminisme dan citra perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Representasi Kemiskinan Dalam Cerpen Bidar Karya Tiara Sari: Analisis Kohesi Leksikal Halliday dan Hasan Huliya Dewi; Mofidatul Hasanah; Andi Hidayatullah; Ria Kasanova
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 8: Juli 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i8.17613

Abstract

Representasi kemiskinan dalam karya sastra tidak hanya dibangun melalui alur dan tokoh, tetapi juga melalui pilihan bahasa yang membentuk makna secara tekstual. Namun, kajian yang menghubungkan kohesi leksikal dengan representasi realitas sosial dalam cerpen Indonesia masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kemiskinan dalam cerpen Bidar karya Tiara Sari melalui kajian kohesi leksikal berdasarkan teori Halliday dan Hasan. Penelitian menggunakan pendekatan linguistik fungsional sistemik dengan metode kualitatif deskriptif. Data berupa satuan-satuan lingual yang mengandung unsur kohesi leksikal dianalisis menggunakan teknik analisis wacana untuk mengidentifikasi pola hubungan makna dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa repetisi dan kolokasi merupakan bentuk kohesi leksikal yang paling dominan dalam membangun representasi kemiskinan, terutama melalui leksikon yang berkaitan dengan kebutuhan dasar. Sementara itu, sinonimi memperkuat dimensi emosional tokoh, dan hiponimi memperlihatkan keterbatasan pilihan hidup yang dihadapi masyarakat miskin. Temuan ini menunjukkan bahwa kohesi leksikal tidak hanya berfungsi menjaga kepaduan teks, tetapi juga menjadi strategi linguistik yang merepresentasikan realitas sosial dan memperkuat kritik terhadap kondisi kemiskinan dalam karya sastra.
Representasi Kematian dalam Perspektif Semantik Kognitif: Analisis Cerpen Karya Sasti Gotama Affan Maulidi Rahmatullah; Nadia Fitri; Halilatur Rohemah; Ria Kasanova
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 8: Juli 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i8.17634

Abstract

Representasi kematian dalam karya sastra tidak hanya merefleksikan peristiwa biologis, tetapi juga mengonstruksi makna simbolik, emosional, dan kultural yang dipengaruhi oleh pengalaman manusia. Meskipun tema kematian telah banyak dikaji dalam kritik sastra, pendekatan semantik kognitif untuk menjelaskan konseptualisasi makna kematian dalam teks sastra masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis konseptualisasi makna kematian dalam cerpen Everything That Is Dead Must Be Buried melalui perspektif semantik kognitif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis satuan-satuan lingual yang merepresentasikan kematian melalui identifikasi representasi leksikal, metafora konseptual, dan skema kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian dikonsepsikan sebagai kepulangan, tidur, trauma kolektif, dan ruang spiritual yang dibangun melalui pengalaman tubuh (embodied experience), memori budaya, dan konteks sosial. Metafora konseptual tersebut memperlihatkan bahwa makna kematian bersifat dinamis dan kontekstual, bukan sekadar representasi leksikal. Temuan ini memperkaya kajian semantik kognitif dalam sastra sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan bahan ajar semantik berbasis teks sastra di pendidikan tinggi.
Representasi Makna Kontekstual dalam Cerpen Istri Sempurna karya Aveus Har: Kajian Semantik Rofi Nur Diana Islam; Milani Putri; Ismail Abdulloh; Ria Kasanova
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 8: Juli 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i8.17636

Abstract

Makna dalam karya sastra tidak hanya dibangun melalui struktur naratif, tetapi juga melalui relasi kontekstual yang membentuk pengalaman pembaca terhadap teks. Meskipun kajian semantik sastra telah berkembang, analisis mengenai keterkaitan berbagai jenis makna kontekstual dalam membangun ideologi naratif masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna kontekstual dalam cerpen Istri Sempurna karya Aveus Har melalui pendekatan semantik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis terhadap satuan-satuan lingual yang merepresentasikan makna konotatif, afektif, kolokatif, stilistika, dan reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima jenis makna tersebut membentuk jaringan makna yang saling berkaitan dalam merepresentasikan relasi kuasa, kondisi psikologis tokoh, serta ambiguitas makna yang tersembunyi di balik konsep "kesempurnaan". Pilihan bahasa menghadirkan ironi, keterasingan emosional, ketergantungan, dan kerentanan material sebagai kritik terhadap konstruksi sosial mengenai peran perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa makna kontekstual tidak hanya menjaga kepaduan semantik teks, tetapi juga berfungsi sebagai strategi diskursif untuk membangun kritik sosial dan memperkaya interpretasi sastra kontemporer.
Idiom dan Perumpamaan dalam Cerpen Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam Karya Sasti Gotama Habiburrahman Habiburrahman; Jazirotur Riskiyah; Amirullah Amirullah; Abriel Hidayat; Ria Kasanova
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 8: Juli 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i8.17704

Abstract

Representasi trauma kolektif dalam karya sastra tidak hanya dibangun melalui alur naratif, tetapi juga melalui pilihan gaya bahasa yang membentuk makna simbolik dan kultural. Meskipun kajian stilistika dan semantik terhadap sastra Indonesia terus berkembang, hubungan antara idiom, perumpamaan, dan representasi trauma sosio-politik masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis klasifikasi, fungsi, dan konstruksi makna idiom serta perumpamaan dalam cerpen Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam karya Sasti Gotama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif semantik leksikal dan semantik kognitif untuk mengidentifikasi pola makna yang membangun representasi pengalaman traumatis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa idiom dan perumpamaan membentuk tiga ranah semantik utama, yaitu ruang domestik sebagai simbol keamanan, citraan kebinatangan dan bencana sebagai representasi kekerasan kolektif, serta metafora folklor sebagai alegori marginalisasi. Pergeseran makna dari citraan keseharian menuju representasi tubuh dan kekerasan memperlihatkan fungsi gaya bahasa sebagai strategi diskursif dalam membangun kritik sosial dan memori kolektif atas tragedi Mei 1998. Temuan ini memperkaya kajian semantik sastra dengan menunjukkan bahwa gaya bahasa tidak hanya berfungsi sebagai perangkat estetis, tetapi juga sebagai medium representasi trauma, identitas, dan sejarah sosial.
Ecofeminism in Indonesian fiction: Gender, land, and resistance in the era of environmental degradation Ria Kasanova; Mohammad Rudiyanto; Sri Lestari; Lilis Sumaryanti
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): In Progress
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v8i1.21618

Abstract

Ecocritical studies in Indonesian literature have developed rapidly; however, most still focus on the human–nature relationship without adequately integrating gender and postcolonial contexts into their analyses. This study aims to fill this gap by analysing the representations of the relationships between women, land, and power in Indonesian fiction through a postcolonial ecofeminist framework. The study focuses on three works: Tanah Tabu by Anindita S. Thayf, Saman by Ayu Utami, and Sihir Perempuan by Intan Paramaditha. This study used a qualitative approach with narrative and thematic analyses conducted through coding processes and comparative synthesis across texts. The results revealed three main patterns. First, women are represented as ecological victims in colonised and exploitative landscapes. Second, women appear as agents of resistance who negotiate power relations through their bodies and spirituality and through social practices. Third, women function as epistemic mediators who utilise local myths and spiritual knowledge to challenge the dominant ecological discourses. These findings show that literary works not only represent environmental crises but also produce alternative ecological knowledge that is grounded in local contexts. This study contributes to the development of ecofeminist studies by emphasising the importance of intersectional perspectives from Global South contexts in Indonesian literary studies and by expanding ecocriticism as a field of knowledge production and ecological resistance.